Sahabat?

Sahabat?
Episode 274


__ADS_3

Di sini sekarang, Billa bersama kedua lelaki yang memiliki paras yang selalu menggoda kaum hawa di mana pun mereka berada. Di sebuah restoran seafood yang tak jauh dari kantor mereka,sedang menunggu seseorang.


Seorang yang Billa rekomendasikan pada Revan karena otaknya yang mumpuni. Ketrampilan mengolah data yang di wariskan dari sang papa membuat Yuga tak di ragukan lagi. Yuga Laelasari putri dari Arya, teman papanya dalam mendirikan cafe Cinta.


“Hei,” Billa melambaikan tangan keatas, saat melihat temannya itu memasuki restoran.


“Hei, sudah gede sekarang lu ya.” goda Yuga yang melihat ke arah dua orang di samping Billa.


“Kemane aja bu, gue udah janda juga gak tau kan lu.” Kini Billa membuka omongan santainya.


“Gila, ada yang mau sama orang modelan kek elu gini?” Yuga menunjuk Billa dari atas ke bawah tak percaya jika gadis belia di depannya itu adalah seorang janda.


“Jangan salah Ga, modaelan kek gua gini banyak yang nyari.”Billa mencoba menyombangkan diri.


Sahabat dari abangnya ini selalu menganggap Billa sebagai anak kecil. Billa meski memiliki umur yang lebih muda dari abangnya, tapi jika di bandingkan dengan abangnya kalo masalah mengambil hati seseorang. Billa lah yang jadi juaranya.


Lima tahun perbedaan umur mereka, tak membuat Billa merasa canggung terhadap Yuga. Terlebih menyangkut masalah pekerjaan, seperti saat ini.


“Terus mau lu, gua harus ancurin perusahaan mereka melalui data?” Tebakan Yuga setelah mendengarka cerita wanita kecil di hadapannya itu membuat Revan dan Vano diam terkesima.


Sebenarnya, Billa itu di di lahirkan di keluarga seperti apa sih? Kenapa dia di kelilingi oleh orang - orang yang tek bisa di remehkan oleh pihak lawan? Pikiran Vano terus berfikir keras akan wanita yang di kenalnya saat menempuh pendidikan tingkat stratanya.


Sedangkan Revan semakin tertarik dengan Billa. Tergila - gila? Itu pasti. CEO mana yang tak terpikat hatinya, jika mengetahiu bagaimana jalan pikiran Billa yang sangat berambisi.


Setalah mencapai kesepakatan antara Billa dan Yuga. Billa mengajak Revan dan Vano menemui seseorang lagi. Mario, intel kepercayaan kakak keduanya. Mario menunggu kedatangan Billa di salah satu cafe milik keluarganya.


“mau apa?” Pertanyaan dingin yang terlontar dari mulut seorang yang memiliki perawakan tinggi dan tegap di hadapannya.


Lanjutkan kasus ini.” Billa melempar berkas yang bersangkutan dengan kematian suami dan mentan tunangannya ke atas meja dengan keangkuhannya.


“Bukannya kasus ini di tutup oleh kakek mertuamu?”  Mario mengenyitkan kening saat membaca berkas itu.


Bukan satu korban, tapi dua nyawa yang terbunuh dan beberapa tanda tangan dari wali sah korban. Yaitu papa sam mama mertua Billa dan Siti Maryam, Ibu dari Aris.


“Saya istrinya sah, dan mau memperpajang masalah pembunuhan ini. Asal kak Mario tau, jika wanita itu tidak mendapat keadilan yang seharusnya. Maka tidak menutup kemungkinan, sayalah korban selanjutnya.”Jawaban Billa mendapat anggukan mengerti dari seorang Intel yang selalu berkeliaran di sekitaran rumah seorang terduga tersangka.


“Baiklah, itu memang keputusan yang benar adik kecil Aa’.” Mario tersenyum pada gadis yang kini bermanja padanya dengan menikmati usapan di rambut pendeknya.


“Sedari tadi saya hanya memperhatikan kamu Billa. Tapi sampai detik ini kamu hanya menemui orang - orang yang akan membantumu. Terus kapan kita akan menemui orang- orang yang akan memberika keuntungan buatku?” Pertanyaan Revan hanya di tanggapidengan senyuman oleh Billa.


“Hayeh, malah senyum - senyum gak jelas ini anak kura.” Vano yang juga kesalpun ikut tersulut emosi.


“Sabarlah bosku, ini juga sudah usaha. Sekarang coba liat berapa saham yang boss miliki dari perurusahaan CORP yang Frizka pimpin saat ini.” Revan memirirngkan kepalanya mencari kebenaran dari perkataan Billa.


Setau Revan, dirinya tidak pernah memiliki saham di perusahaan CORP milik lelaki tua yang mencabut tuntutan atas kematian suami Billa itu. Revan membuaka tab yang berisi tentang grafik yang menjalin kerja sama dengannya


Revan terkejut saat melihat tabletnya yang sudah terisi list perusahaan CORP dengan grafik yang terus bertambah setiap jam nya. Terhitung sudah hampir 24 jam.


“Ulahmu Billa?” Tanya Revan yang kaget kini sudah mendekati angka 25%.


“Aku cukup menggunakan ini pak,” Billa menunjuk otanya.” Tidak perlu menggunakan ini dan ini.” Billa menyentuk bibir dan lengannya.

__ADS_1


“Perempuan licik.” Cibir Revan yang di ikuti dengan gelengan kepala dari Vano yang melihat perubahan gravik yang bergerak secara perlahan dan pasti.


“Sudah tau saya licik, kenapa kamu gila padaku?” Perkataan yang membuat Revan seakan tersambar petir itu membuat Vano dan Mario terdiam.


“Karena kamu selain membawa kabur hatiku juga menguntungkan bagiku.” Jawaban Revan sedikit Ragu - ragu.


“Lebih licik mana saya dari pada anda?” Revan hanya tersenyum sedangkan Vano dan Mario hanya menonton Drama para orang - orang yang menganggap lawannya lah yang Licik dengan memakan brondong jagung, entah dari mana dapatnya.


“Jawaban yang bagus madam. Baiklah, saya jatuh cinta pada perempuan licik macam anda miss Salsabilla.” kata Revan yang penuh percaya diri membuat Vano dan Mario semakin penasaran dengan jawaban seorang janda baru di depannya.


“Maaf, sepertinya hati bapak Revan masih belum bisa kembali. Selain tanah makam suami saya masih basah, Hati saya masih terkubur dalam liang lahat dan belum bisa mencari jalan keluar untuk menemui siapapun.” Jawaban Billa membuat Revan tersenyum dengan menundukkan kepala.


Sedangkan Mario dan Vano menonton dengan sedikit kecewa dengan jawaban Billa.


“Yak, penonton kecewa.” Mario memberanikan diri menghibur Billa dan Revan yang sedikit canggung di hadapannya.


“Kenapa kalian yang kecewa? Aku dan Billa biasa saja.” Ucap Revan dengan senyuman lebih cerah dari sebelumny.


Malam telah larut, tapi Revan masih juga belum tidur. Merasa tenggorokannya kering, Revan ke dapur untuk mengisi kembali gelasnya yang tengah kosong. Sebelum sampai di dapur, Revan melihat Billa tengah duduk di tengah ruangan dengan memainkan laptopnya ditengah gelapnya ruangan malam.


“Apa yang kamu kerjakan Billa?” pertanyaan Revan mengagetkan Billa yang sebenarnya seorang penakut.


“Haduh, kenapa ngagetin sih?” Gerutu Billa dengan memegangi dadanya dan tangan satunya membenarkan posisi laptopnya yang hampir jatuh karena Billa kaget.


“Hmm, udah tau penakut. Masih sok - sokan matiin lampu lagi.” Cibir Revan yang mengambil duduk di samping Billa.


“Bekerja, biar bosku gak cerewet besok pagi.” Sindr Billa pada CEO yang terkenal dingindi luar namun manja di hadapan Billa.


“Lawanku kali ini bukan orang sembarangan. Frizka mengetahui apa yang sedang aku kerjakan dengan samamnya. Saham yang aku atas namakan BIRMA turun dengan drastis dalam 2jam mendekati angka 5%.” Jelas Billa yang masih fokus dengan laptop dan jemarinya menari indah di tombol keyboard laptopnya.


“Sini biar saya yang kerjain ini sebentar.” Revan mengambil alih kerjaan Billa.


Benar saja, dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, Revan kembali mengambil kembali saham BIRMA yang kini sudah di titik 30%. Billa tersenyum penuh kemenangan ketika Revan yang telah mengambil balik saham yang tadinya ilang.


“Yuga juga bekerja saat ini, sapa dia.” Billa mendekatkan wajahnya di wajah Revan yang mendekat ke layar laptopnya.


“Telat lu" menyadari keberadaan sahabat Abangnya, ucap Billa yang sedikit kecewa karena ketelatan Yuga.


“Jangan mengatakan hal itu, sebenernya yang mengambil saham balik itu Yuga. Bukan aku” Billa tek percaya bahwa teman abangnya itu juga tak tidur seperti dirinya.


Billa mengambil gawainya lalu menghubungu wanita beranak satu yang di tinggal pas lagi sayang - sayangnya karena janda. Yura menikah dengan sahabat dari Levin, namun harus menelan pil pahit dengan merelakan suaminya yang kepincut oleh janda dan membuat dirinya menjadi janda. Tragis kan?


Billa : Belum tidur lu?


Yuga : Udah, cuma keinget besok jadwal beli susu si Reyhan makanya gua kebangun mengais rejeki.


Billa : Ajak Reyhan besok ke kantor.


Billa tanpa menunggu jawaban dari sebrang, langsung memutus sambungan telfonnya sepihak.


“Besok ada dua orang yang akan kerja di sini dari kantor cabang. Aku harap Yuga mau bergabung dengan mereka.” Revan sudah memilih patner kerjanya dari kantor cabang yang ada di Indonesia.

__ADS_1


“Aku mau Yuga tinggal di sini juga. Aku menghawatirkan Reyhan,” ucapan Billa membua Revan tak mengerti.


“Suaminya jauh lebih menghawatirkan mereka, Jika mereka tinggal di sini.” Revan tak setuju dengan keputusan Billa.


“Suaminya lebih menghawatirkan janda dari pada istrinya sendiri.” Jawaban Billa membuat Revan semakin tak mengerti.


“Yuga di tinggal pergi suaminya saat dia masih mengandung Reyhan. Suaminya memilih menikah lagi dengan Janda yang sering di temuinya. Sekarang dia bekerja di cafe aabang yanga di bandung menggantikan Mario. Gak banyak yang tau tentang kemampuan dia mengola data selain keluargaku. Tiap dia bekerja, kadang bayi berusia satu tahun setengah itu di ajaknya. Maka dari itu, aku mau mengajaknya tinggal di sini dan aku bisa menjaga anaknya juga.” Jelas Billa yang seakan tau kebingungan Revan.


“ Ok kalo itu mau mu, Tapi rumahnya gimana?” Tanya Revan lagi.


“Dia tinggal di kontrakan kecil, jadi gak masalah kalau di tinggalkan dia kapan pun.” Jawaban Billa membuat Revan semakin mengagumi dan jatuh hati pada wanitanya ini.


Revan menyetujui permintaan Billa yang mengajak Yuga untuk tinggal di Villa yang di sulap sebagai kantor di siang hari.


Balita yang baru berusia setahun setengah itu, rupanya sangat Aktif dan membuat Billa sedikit kualahan. Billa yang sudah terbiasa dengan ketiga keponakannya, membuatnya tak kesulitan untuk mengambil hati bayi yang baru bisa jalan di depannya.


Seharian ini Billa hanya bermain dengan si kecil Reyhan dengan mengenakan baju santainya. Melihat Bossnya yang biasa saja, membuat karyawan pilihan Revan itu berfikir jika Billa istri kedua dari Revan yang disembunyikan selama ini.


 


 


Iklan dikit ya.... Tenang gak bahas mantan kok.


 


Penulis: horeeeeee sudah di titik 200 lebiiiihhhh,


pembaca: lebay luthor.


penulis: serah gua, kek tetangga aj lu suka nyinyir.


pembaca: asem lu thor.... thor, bisa enggak lu sedikit sopan sama kita?


penulis: lu di sopanin kgak ngarti sih,


pembaca: inget thor, gak ada gua gua ini karya lu gak mungkin sampek di titik 200 sekian. Paling mentok ya di tong sampah.


pembaca: yak yak yak ja gitu lah, ya maap lah kalo selama ini gua gak ada sopan santunya.


pembaca: lu harus merubah diri lu thor. jan terlalu cuek juga sama orang, inget lu masih butuh kita kita. gak ada ceritanya lu mati jalansendiri ke kuburan thor.


penulis: jan serem lah bahasanya, ngeri gua


pembaca: makanya lu belajar sopan.


penulis: iye, Buat para pambacaku. saya selaku penulis SAHABAT?  minta maaf ya kalau ada hati kalian yang terluka karena aku. Jujur, aku orang nya itu gak bisa berpura pura.Aku gak suka ya aku ungkapkan, aku suka aku akan diam dan tersenyum. Egois memang, tapi itulah aku. Dan lagi, bahasaku memang mayak. Kasar tepatnya, itu karena aku gak bisa basa basi basah. mulutku gak ada Filter, A aku bilang A. B aku bilang B. ini lah aku. Semoga kalian gak ada lagi yang namanya sakit hati lagi sama aku ya.


 


jangan lupa like dan koment. aku butuh dukungan kalian. Ailopiyu

__ADS_1


__ADS_2