
"Pa ma, Levin seperti nya harus jujur sama Queen tentang kandungannya. Biar dia gak ngotot lagi menundanya ma. Levin pengen punya anak, Tapi kalo Queen terus menunda dan mengonsumsi pik KB. Levin takut benar benar tidak bisa punya anak."
JEDER!!!!!
Hati Queen bagaikan tersambar petir di siang panas terik. Tanpa mendapatkan perintah, air matanya sudah jatuh ke atas kramik warna coklat. Kaki yg semula sedikit kuat untuk berjalan pelan itu langsung lemas lagi dan membuatnya terjatuh. Levin mendengar suara benda jatuh pun langsung bangkit dari tidurnya lalu berlari mencari Queen. Ya, Hanya Queen yg ada di benaknya. Levin, Cinta dan Rizal kaget melihat Queen sudah berada di depan kamar mereka tanpa kursi roda. Queen terdiam meski air matanya terus mengucur. Kecewa, sakit hati, nyesek, perut seperti ada gelembungnya itulah yg di rasakan Queen saat ini. Levin membantu Queen berdiri, Begitupun Cinta yg juga membantu memberdirikan sang menantu tercintanya.
"Gue bisa sendiri." Tolak Queen dingin.
Perlahan Queen bangun dari duduknya dan berpegangan tembok atau pun apa saja yg dia lihat di depannya. Levin mengikuti dari belakang, Setiap Queen akan jatuh Levin dengan sigap menolong Queen. Namun rasa yg campur aduk terbalut rasa kecewa itu membuat Queen menghempaskan tangan Levin.
"Gue bisa sendiri!!! Gue gak butuh lo!!!" Tolak Queen terang terangan.
__ADS_1
Menyadari sikap Queen yg berbeda, Levin tau kalo Queen mendengar omongannya dengan mamanya. " Sayang aku bisa jelasin." Kata Levin terus mengejar Queen.
"Gue gak butuh penjelasan. Yg gue butuhin hanya sendiri. Dan gue harap lo bisa maklum itu." Queen masuk dalam kamar lamanya yg kini di tempati Billa.
Queen mengunci pintu dan menangis dalam kamar. Billa yg masih ada extra kulikulerpun membuat kamar itu menjadi kosong. Queen mengutuki nasipnya. Inikah karma yg harus hamba terima ya Allah? Hati Queen semakin perih mengingat kembali kisah cinta maminya yg menjadi orang ketiga.
"Apa salah gue!!!" Teriak Queen membuat Levin yg setia duduk bersandar pada pintu pun mengetuk pintu itu.
"Queen dengerin aku dulu. Aku gak mengatakan sama kamu itu karena aku gak mau kehilangan kamu." Levin masih setia pada daun pintu bercat putih itu.
"Mami tega banget!!! Mami gak pernah mikir nanti punya anak!!! Kenapa harus jadi orang ketiga mi? Sebegitu bodohnya mami sampek harus merebut milik orang lain!!!" Queen begitu frustasi dengan takdirnya.
__ADS_1
"Queen sayang, kamu anak mama sama papa. Kamu gak harus punya pemikiran seperti itu. Levin gak akan pernah ninggalin kamu, Bagaimanapun keadaan kamu sayang. Mama sama papa hanya mau kamu dan Levin bahagia. Terserah kalian kalau kalian tidak punya anak, asal kalian bahagia. Sayang buka pintunya untuk mama." Cinta sudah menangis saat berada di depan kamar dengan pintu terkunci rapat.
"Mama bohong, Jangan ngomong masalah kebahagiaanku!!! Semua orang munafik, Queen gak sanggup menghadapi karma yg mami perbuat." Ucapan Queen semakin lama semakin melemah.
Levin mendengar suara Queen semakin melemah membuatnya hawatir. Dengan tubuh gempal dan terlihat sangan kuat itu mendobrak keras pintu kamar di depannya. 2x hentakan pintu sudah terbuka, Levin mendapati Queen duduk di sofa samping jendela. Queen tertidur dengan menyandarkan kepala kebelakang. Tubuh Queen terlihat sangan lemah akibat memaksakan diri berjalan dan menangis.
Damn it
Umpat Levin setelah melihat pergelangan tangan Queen yg terus mengucurkan darah segar. Levin langsung menggendong Queen keluar rumah menuju mobilnya. Kliene yg baru datang dari kampus melihat kondisi Queen langsung mengambil alih kemudi. Ayu yg langsung naik ke dalam mobil samping Queen bersama sang mertua ikut hawatir dengan keadaan Queen. Rizal duduk di samping Kliene di bangku depan, Sedangkan Levin memangku Queen di jok tengah mobil pajero sport miliknya. Mobil melaju kencang ke arah rumah sakit terdekat.
"Gak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi apa apa padamu Queen." Gumam Levin dengan air mata yg terus membanjiri pipinya.
__ADS_1
"Ma, Queen gak papa kan?" Rengek Levin pada mamanya yg berada di samping kanannya.
"Berdoa yg terbaik saja sayang." Ucap Cinta dengan tatapan kosong.