Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Kerjaan Billa


__ADS_3

Seminggu sudah Billa terus membantu di perusahaan sang abang yang sedang gonjang ganjing akibat ulah Rama. Lumayan membantu juga sih kehadiran Billa dengan ide ide yang sangat menakjubkan. Levin tidak menyangka adiknya ini memiliki pemikiran yang sangat dewasa di balik kemanjaannya selama ini. Ide yang tertuang melalui proposal asal yang dia buat pun di terima oleh investor dengan baik sebagai pemula. Kemampuan yang Billa miliki sebenarnya tidaklah datang begitu saja, namun campur tangan sang papa kala pulang kantor pun menjadikannya pelajaran baru untuknya. Billa terlena dengan dunia kerja kantoran yang sangat mengikat, dari cara busana maupun tata bicara yang sedikit lebih formal dari biasanya.


Hari ini Billa mulai belajar kerja di cafe di bawah asuhan langsung seorang Levin sang pemimpin kedua di cafe itu. Levin melihat Billa dengan semangat yang sedikit kendor dari yang ia temui saat kerja di kantor. Billa terlihat sedikit kebosanan karena belajar meracik kopi dan mempelajari asal usul kopi.


"Billa serius dikit, biar ini lebih santai tapi lu gak boleh terlalu santai." Levin menegur sang adik saat ketahuan main hp ketika Levin sedang menjelaskan.


"Bosen kak, otak Billa udah biasa diperas terus di sini cuma duduk manis mantengin buku gagal move on." Kata Billa melempar pelan buku sejarah kopi ke meja.


"Coba kamu kerjakan pembukuan ini deh." Kata Levin menyerahkan buku tebal dengan deretan angka angka yang sudah familiar buat Billa.

__ADS_1


Baru setengah jam, Billa sudah menyelesaikan pembukuan yang di berikan oleh Levin. Levin mengeryitkan dahi dan membuka pelan pekerjaan adiknya. Levin membulatkan matanya melihat pekerjaan sang adik yang di nilai sangat memuaskan. Levin dan Rizal menyelesaikan pembukuan itu paling tidak 4 jam saat bersama. Tapi Billa hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk menyelesaikan tanpa bertanya ataupun diskusi kecurangan. Ya meski tak ada kecurangan di perusahaan Levin. Selisih kurang dan lebih sudah di catat sendiri oleh Billa dengan penjabaran yang jelas di samping buku.


"Bang, kayak e Billa lebih sreg di kantor deh." Billa memberanikan diri mengungkapkan ketertarikannya pada dunia bisnis dan semua ikatannya.


"Yakin? Tapi abang sama papa pasti juga membutuhkan kamu untuk bantu di cafe lo dek." Kata Levin meyakinkan adiknya.


"Yakin bang, emang Billa bisa bantu apa?" Kata Billa menjawab pertanyaan Levin.


"Kalo menurut Billa sih bang, kalo gambaran doang gak asik. Coba deh kasi kata kata yang sedikit nyentrik dan cute pasti bagus. Dan di jamin pengunjung akan suka dengan itu. Tapi Billa saranin bukan di tembok langsung, melainkan di papan tulis yang biasa orang ikutan nulis. Terus pajang foto foto pengunjung yang terlihat seru. itu pasti lebih menarik bang, dari pada grafiti. Kalo mau gambar, pasang aja lukisan." Usul Billa lang langsung di sambut oleh sang abang.

__ADS_1


"Emang sentuhan wanita itu yang menjadikan sempurna pekerjaan laki laki." Levin menepuk bahu Billa bangga.


"Abang bisa aja. Semua ini kan juga karena abang san papa yang mengajari Billa selama ini." Kata Billa memeluk Levin.


"Lu itu pinter Bill, tapi kenapa lu kadang ngeselin dengan ke begoan lo sih?" Tanya Levin tak mengerti.


"Bang, jangan mengira orang **** itu tak mengerti apa apa. Kadang orang yang di remehkan itu adalah orang yang akan sukses nantinya." Kata Billa yang terkesan lebih dewasa.


"Tetap jadi Billa yang sesuai umur lu ya Bill, Abang jadi takut lu tua sebelum waktunya." Kata Levin mendapat pukulan di lengan.

__ADS_1


"Abang jahat banget sih ngatain Billa tua." Levin hanya terkekeh mendengar protesan sang adik


__ADS_2