Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Hati ini tak sekuat itu Bambang


__ADS_3

Kakak beradik itu sampai di perusahaan milik Pak Yunus, duduk menunggu di ruang tunggu khusus tamu. Tak berapa lama Pak Yunus pun akhirnya datang menemui kedua kakak beradik tersebut. Pak Yunus menyalami Levin lalu beralih pada wanita di sampingnya sebelum mengajaknya ke ruang meeting.


“Saya beserta keluarga turut berduka cita atas meninggalnya suami nak Billa.” Itulah kata yang terlontar pertama ketika Pak Yunus membuka pembicaraan.


“Terimakasih, tapi itu sudah berlalu. Dan ini silah kan dipelajari lagi. Saya merubah sedikit isi perjanjian, maka dari itu. Silahkan di baca terlebih dulu.” Billa menyerahkan proposall yang mengubah di angka kesepakatan awal dengan peritungannya sendiri.


Billa memasukkan angka 60% yang tadinya hanya 30%. Melihat angka yang berubah 100% itu membuat Pak Yunus tidak percaya dan tidak menyetujui proposal yang di ajukan Billa.


“Gini pak saya jelaskan. Proyek ini sudah berjalan, jika bapak ingin menarik investasinya… Silahkan saja. Saya bisa menjamin bahwa bapak akan rugi besar. Angka 40% hanya mengeluarkan modal sepersekian dari pendapatan bapak, Saya yakin itu sudah sangat besar, dan memberi 30% bagi perusahaan BAGANTA itu saya rasa itu sangat wajar dan lumrah.” Jelas Billa santai.


“30%, tapi kalian merubah menjadi 60%, ini gila menurut saya.” jelas pak Yunus sedikit meninggikan nada suaranya.


“Saya akan terangkan lagi secara singkat. Di sana sudah tercantum perinciannya. Kami harus membayar pegawai, beli bahan dan mengadakan alat berat. Semua itu menghabiskan sekitaran 30% yang kami terima, kami selama ini bekerja rodi. Dan jika bapak menolak proposal ini, silahkan. Karena kamilah yang akan di untungkan. Pihak bapak lah yang akan di rugikan.” Senyum Billa mengembang melihat kebimbangan seorang Pak Yunus yang terkenal pelit.


Levin hanya mengamati cara kerja adiknya yang terkesan santai namun serius. Pak Yunus menimbang - nimbang kembali kerugian dan keuntungan yang akan di dapatnya dengan proposal yang di ajukan padanya.


“Sebagai informasi saja untuk anda. Kami perusahaan BAGANTA telah menjalin kerja sama dengan perusahaan BIRMA, mulai aktif bulan depan. Dan mungkin dua hari lagi pak Revano Alibaba Sahid sampai di Indonesia. Kami memberinya kantor pribadi di kepulauan seribu, karena beliau menyukai Laut. Kami juga menyiapkan private boad untuknya berlayar di saat penat seperti kebiasaannya di Jerman.” Sekali lagi Billa mengguncang keteguhan pak Yunus.


Levin mulai mengerti gaya dan sepak terjang adiknya. Dia menggunakan sistem penghancuran keteguhan dengan mengajaknya berbicara kesepakatan dengan pihak yang lebih besar saat sang investor dan lebih tangguh darinya.


Levin akhirnya menyadari. Meremehkan wanita yang memulai karir di Negri orang itu adalah satu langkah yang salah. Billa tak selemah yang di pikirkannya.


“Ok saya menyetujui tapi dengan satu syarat, bantu saya untuk pengajuan proposal pada Pak Revan.” Billa mendapatkan penawaran yang menggiurkan.


“Siapkan kantor Pribadi. Pilihannya ada dua, yaitu Bali dan Raja Ampat,” Tawaran Billa di telan mentah-mentah oleh Pak Yunus.


“Baik, saya akan menyediakan kantor pribadi di Raja Ampat. Kebetulan saya berasal jadi saya bisa memberikan tempat di sana”


Yess masuk dalam perangkap. Batin Billa bersorak kemenangan. Perubahan senyum Billa di perhatikan oleh Levin, dari senyum pengharapan berubah senyum menjadi senyuman kemenangan.


Setelah berpamitan pada tuan rumah atau pemilik perusahaan. Billa dan Levin meninggalkan tempat itu dengan hati yang bahagia karena mulai hari ini atau besok,Billa akan makan Seafood sepuasnya. Levin menyadari seringai kemenangan seorang Billa pun hanya bergidik ngeri.


“Sial lu Bill, Lu pakek susuk apa sih? Itu mulut manis banget. Lu gak takut kalau misalnya investor itu akan meninggalkan kita?” Tanya Levin dalam mobil menuju rumah makan Seafood langganan keluarga Rizal bertahun - tahun.


“Gua cuma ngelanjutin aja bang. Lagian kalo misalnya dia menolak melanjutkan proyek ini, dianya yang akan rugi bang. Sebelum mengambil keputusan itu gua sudah mengamati keadaannya dulu,” ujar Billa seraya mengembangkan senyum lebarnya.


“Abang akui sekarang, kemampuanmu membolak balikkan hati orang. Tapi yang jadi pertanyaannya sekarang adalah turunan siapa lu bisa jadi kayak gini?” Kekepoan yang ada di dalam hati Levin tak mampu lagi untuk di tahan.


“Kalo gak ada di turunan mama sama papa, berarti ya tanjakannya abang.” Jawab Billa santai dengan memainkan game di dalam handphonenya.

__ADS_1


“Anjiirr lu,”


Levin terlalu gemas terhadap adik perempuannya pun tak tahan untuk tidak mengacak rambut lurus sebatas bahu di sampingnya. Kakak beradik itu turun hanya untuk memesan seafood untuk di bawanya pulang, dan di nikmati bersama keluarga besarnya.


Setelah mendapatkan apa yang di pesan, Levin dan Billa melanjutkan perjalanannya ke rumah besar yang kini di tinggali oleh Billa, abang beserta orang tuanya. Billa langsung masuk kedalam kamar untuk merebahkan diri yang di rasa sangat lelah setelah makan bersama dengan keluarga besarnya.


“Bill, mandi dulu nak. Setelah itu lanjut sholat, jangan lupa doakan suamimu,” ucapan sang mama menyadarkan Billa dari lamunan dalamnya pada sang suami yang biasanya bercanda dengannya sepulang kerja.


Air mata Billa menetes seketika, mengingat yang sudah pergi itu sungguh sangat menyakitkan. Ketika Rindu tak ada kesempatan mencari, selain doa dan tasbih yang selalu dipanjatkan untuk bertemu nanti di surga.


Billa merasakan kesepian dalam sholatnya, dengan bertakbir khusuk. Billa melantunkan bacaan - bacaan sholat yang membuatnya lupa sejenak pada suami yang meninggal dengan cara yang teramat sadis baginya.


Tanpa kecupan ataupun ciuman, Billa mengakhiri sholat isyak sendiriannya di dalam kamar. Billa mencoba mengusir rasa kesepiannya dengan melantunkan fasolatan sebisa dia. Air mata yang semakin deras membanjiri wajahnya, akhirnya Billa mengakhiri kesedihannya hari ini dengan menutup matanya sejenak hingga pagi menjelang.


Perjalanan 19 jam yang di tempuh oleh Revan dan Vano membuat keduanya kelelahan. CEO muda itu memutuskan untuk beristirahat di Hotel milik keluarga BAGANTA. Mereka berdua berniat hanya sampai tengah hari saja beristirahat, tapi kenyataanya kedua orang itu tertidur hingga jam kerja Billa usai.


Mengetahui keberadaan kedua orang yang di tungguinya tengah beristirahat di salah satu kamar hotel miilik keluarga BAGANTA. Billa langsung masuk ke kamar yang di pesan oleh lelaki tampan beda status itu. Membuka kamar dengan menggunakan master card yang khusus untuk ouner. Billa melihat kedua orang itu tidur di ranjang sama pun hanya menggeleng kepala sebelum ikut merbahkan diri di tengah mereka berdua.


“Dasar kebo. Udah dateng bukannya ngabari, malah pada ngorok di sini. Heh kalian ayo banguuuuunnnn.” Billa membangunkan mereka berdua dengan cara memukul - mukul kedua orang itu dengan keras.


“jet leg.” Jawaban singkat Vano tak membuat mereka berdua membuka matanya.


Sekitar jam sembilan malam, Billa merasakan dirinya berbalut dengan selimut dan juga kelegaan tidur di tempat yang luas. Dimanakah kedua orang yang tadi tidur dengan Billa, jika Billa merasa kasurnya sangat luas? Mereka berdu duduk di tepian ranjang dan sudah rapi menggunakan baju santai habis mandi.


 Membangunkan Billa rupanya memang masih susah seperti dulu. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk membungkus Billa dengan selimut tebal seperti bayi. Billa menggeliat seakan ingin melepaskan lilitan selimut yang terikat kuat oleh dasi milik mereka berdua.


Merasa kesulitan bergerak, akhirnya Billa membuka matanya dan melihat pemandangan yang sangat tidak wajar. Billa melihat kedua orang laki - laki yang sangat rupawan.


“Apa gua sudah di alam lain?” pertanyaan Billa membuat dua mahluk itu hanya tersenyum lalu menyentil dengan keras dahinya.


“Awwwwww sakit, ini lepas. Kalian gila ya?” Billa terus memberontak dan kedua orang yang tadinya di kira malaikat itu ternyata adalah jelmaan iblis yang tega membungkus Billa seperti kepompong.


“Billa, liat sini sambil bilang pucuk, pucuk, pucuk,” ucap Vano yang tengah merekam gadis yang menggeliat di tempat tidur ingin melepaskan diri.


“Mati kalian kalo gak di lepasin ini. Revan, Baaannnnggggssssaaaatttt!!! lepasin gua.!!” Bukannya marah, Revan selaku bos mereka malah tertawa terbahak - bahak.


“Gua tandain kaliaaaaaaaaannnnnn!!!” Kembali Billa teriak untuk mengancam kedua orang yang mengerjainya.


“Bilang dulu, Revan ganteng lepasin Billa jelek. Baru saya lepaskan.” Kata Revan menggoda Billa.

__ADS_1


“Ngarep banget sih lu pak boss. Terserah deh kalau gitu mah, biarin gua mati dan kalian berdua menyesal.” Ancam Billa dengan gaya santainya dan kembali memejamkan matanya.


Bukan merasa takut akan ancaman yang Billa layangkan, tapi Revan melepaskan Billa karena handphone milik Billa dari tadi tidak berhenti menyanyikan lagu yang entah artinya apa milik BTS. Setalah terlepas, Billa langsung mengangkat telfon yang sedari tadi tiada henti berdering.


“Ya ma, Billa ketiduran di hotel. Habis ini Billa pulang.”


“...”


“Ya sudah makan aja itu, Billa makan bersama teman Billa habis ini baru pulang.” Billa mencoba menenangkan Mamanya yang merasa khawatir berlebihan padanya.


Sebenerya bukan berlebihan, di tambah dengan status yang di sandangnya saat ini. Cinta sudah mendengar gosip - gosip tetangga saat berbelanja sayur di depan. Cinta mendengar jika Billa adalah istri yang terkutuk, jadi siapapun yang menikah dengannya nanti akan meninggal dunia dengan tragis. Mengingat kembali kejadian Aris yang menjadi tunangannya pun meninggal dalam perjalanan mencari dirinya saat mau pergi ke Jerman.


Tetangga yang tak tau cerita aslinya pun hanya menghubung - hubungkan saja kejadan itu dengan kejadian yang merenggut siami sah Billa. Ingin menangis, tapi kenyataan tentang kematian Sandi dan Aris yang untuk melindungi Billa itu adalah Fakta. Cinta hanya diam saja tanpa membalas ucapan tetangga yang di dengarnya.


Billa, Revan dan Vano kini makan di restoran yang ada di hotel tempat Revan dan Vano menginap. Billa makan dengan malas, sedangkan kedua orang yang asik makan itu terhenti dan memandang heran ke arah Billa.


“Kenapa tidak makan? Apa makanannya kurang enak?” Tanya Revan yang tadi memilih makananya.


“Enak kok, hanya aja lagi gak napsu makan. Rasanya mual,” ucap Billa dengan memegangi perutnya.


Revan dan Vano sudah mengetahui kabar meninggalnya Sandi dari surat kabar.Tapi Revan dan Vano tidak mengetahui keadaan Billa setelah kematian sang suami.


“Lu hamil Bill?” Pertanyaan Vano seakan mewakili kekepoan seorang Revan yang terlalu munafik untuk menanyakan hal tersebut.


Sebenarnya, bukan munafik, tapi lebih ke belum siap untuk mendengar jika wanita yang di cintainya itu tengah mengandung anak dari lelaki lain. Munafik memang, jika hanya mencintai mamanya saja. Tapi ya, memang Cinta itu butuh otak. Menjadi seorang yang bucin, tidak mengharuskan untuk tidak mencintai hati sendiri.


“Enak aja kalian ini punya pikiran jelek terhadapku!!!” Pukul Billa tepat di kedua dahi kedua iblis berwajah malaikat itu.


“Kebiasaan lu Bill, sakit tau. Terus kenapa itu hah?” kata Revan menetralkan hatinya yang tadi sempat tertimpa bongkahan batu besar.


“Maag kambuh lah ini’” Billa masih memegangi perutnya yang terasa melilit dan mual yang semakin tak tertahankan.


“Gua pesenin bubur ya Bill.” Vano juga ikut khawatir takut Billa pingsan seperti saat masih di Jerman.


“Sekalian anterin gua pulangya.” Kata Billa yang semakin tak terdengar lagi karena menahan rasa sakitnya.


“Van, hubungi pihak hotel untuk menyiapkan mobil sekarang juga.” Revan mengambil alih Billa dan menggendongnya ke lobby hotel.


Di lobby hotel, Revan menidurkan Billa di pangkuannya. Staf hotel yang mengenal Billa langsung beranggapan jika Revan adalah pengganti Sandi, suami yang baru saja meninggalkan perempuan berisik nan gila kerja ini.

__ADS_1


Cibiran tak lagi terelakkan, setelah sebagian staf yang melihat Billa masuk ke dalam kamar pesanan pria berwajah rupawan itu


__ADS_2