Sahabat?

Sahabat?
Edisi gabut gak bisa nulis


__ADS_3

Bulan berikutnya, perut Billa semakit terlihat membuncit. Di tambah lagi dengan kesukaannya dengan makanan. Billa selama hamil tidak pernah menjaga berat badannya lagi. Bukannya merasa ilfeel, Revan terlihat sangat gemas dengan pipi Billa yang semakin terlihat cubby.


Ada rasa bahagia tersendiri ketika melihat istrinya yang sudah terlihat membuncit perutnya. Di tambah dengan kesukaannya makan di sembarang tempat seperti saat ini Billa yang sedang menemani Revan meeting di kantor. Dengan santainya Billa membawa cemilannya ke ruang meeting.


“Bu Ani, Maaf ya. Ini ke inginan baby kami.” Revan meminta maaf pada sang mantan resepsionis yang menjadi relasi kerjanya sekarang.


“Tidak apa - apa, karena saya tahu betul seberapa besar anda menginginkan baby itu.” Dengan sopan Ani menjawab perkataan mantan bossnya.


“Terima kasih, baiklah. Mari kita mulai sekarang,” ucap Revan memulai meeting.


Tiga jam sudah meeting berlangsung, namun belum ada tanda - tanda akan berakhir. Tetapi cemilan yang di bawa oleh Billa sudah habis. Billa merasa bosan hanya duduk mendengarkan presentasi yang di lakukan oleh asisten Ani.


“Bolehkah aku untuk keluar?” Tanya Billa yang memang sudah tidak bisa menahan kebosanan yang di rasakan.


Semua mata tertuju padanya. Karena ini berbanding terbalik dengan yang mereka tau tentang Billa yang gila kerja. Billa memang terlihat sangat bosan selama meeting, terutama saat cemilannya sudah habis.


“Di ruanganku sepertinya masih ada beberapa makanan, suruh siapa gitu untuk membelikan mu dulu. Ingat, jangan keluar sendiri. Bahaya.” Revan sepertinya mengetahui kebosanan sang istri di sebabkan oleh apa.


Semenjak Billa hamil, memang terlihat sekali jika dirinya itu tidak tahan jika harus berdiam diri atau di hadapkan dengan kertas - kertas yang memusingkan. Billa keluar ruangan dan memasuki ruangan Revan. Billa melihat ada beberapa bungkus makanan yang tersedia di atas meja.


Billa meminta Vano untuk menghubungi bawahannya. Billa minta tolong untuk di belikan beberapa jenis makanan yang kini menggoda pikirannya.


“Belikan saya bakso, siomay, sama es kelapa ya.” Minta Billa pada Meda sekertaris Revan dan juga Vano.


“Baik bu, ada lagi?” Tanya Meda terbata.


“Enggak, itu saja.” Kata Billa sambil membuka beberapa snack yang menggodanya.


Hampir satu jam, Billa menunggu Revan dengan bakso di mangkuk yang menemaninya. Billa merasa sangat bosan meski makanan yang di pesannya masi tersisa sangat banyak. Billa iseng keluar ruangan dengan melawan perintah Revan.


Betapa terkejutnya Billa melihat seseorang karyawan yang tengah asik berduaan dengan salah satu OG. Billa langsung menggebrak pintu hingga aksi mereka berdua terhenti. OG yang sibuk merapikan bajunya langsung di tarik keluar ruangan oleh Billa.


Billa mengajak OG dan juga karyawan tersebut ke daam ruangan Revan. Billa mendudukkan kedua pemuda pemudi di sofa.


“Sekarang saya mau tanya sama kalian berdua, kalian mau saya nikahkan apa keluar dari perusahaan ini?” Billa memberikan pilihan yang membuat keduanya sangat kaget.


“Saya mau milih dinikahkan, Tapi kami terhalang oleh modalnya bu.” Jawab jujur sang lelaki.


“Memangnya kalian itu menikah untuk apa gede - gede?” Tanya Billa.

__ADS_1


“Bukan gede bu, tapi pihak keluarga Luluk meminta mahar yang terbilang tak sedikit. Uang lima puluh juta bagiku itu sangatlah banyak buk.” Jelas lelaki yang di ketahui namanya Ruly.


“Aku akan memberikanmu uang enam puluh juta, dan aku mau kalian menikah besok.” Billa menantang Ruly dan Luluk.


“Baik bu, jika itu yang ibu mau.” Ruly dan Lulu keluar ruangan Revan dengan mata yang berbinar bahagia.


Revan yang mengamati dari balik pintu pun hanya terdiam memandang istrinya. Bukannya marah - marah, Billa memilih untuk membantu mereka. Billa merasa perutnya yang kekenyangan akhirnya merasakan kantuk yang tak bisa di tahan lagi.


“Apa kamu sudah mengantuk sayang?” Tanya Revan yang mendapati sang istri akan merebahkan diri di sofa yang lumayan lebar untuknya mendaratkan badan berisinya.


“Kamu lama sekali sih sayang?” Billa merengek kebosanan.


“Maaf,ini semua karena AIRA sudah menunjukkan perkembangannya. Dan Ani benar - benar membawa AIRA ke depan.” Jelas Revan yang saat ini sudah berjongkok di depa sang istri.


“Kamu capek banget ya?” Billa mengusap kepala sang suami yang mendekatinya.


“Capek ku hilang ketika aku meihatmu. Tersenyum padaku, juga membelai ku seperti ini.” Revan menutup matanya sekilas ketika sang istri membelainya.


“Pulang yuk.” Ajak Billa yang memang terlihat tidak senyaman sebelumnya.


“Seperti permintaan mu Bidadariku.” Revan tersenyum manis pada wanita yang sudah kesulitan bangun ini.


Kalo Billa lebih suka makan dengan aktive, dalam artian suka meminta menu tertentu. Sedangkan Queen, lebih ke apa yang ada. Ayu sudah pasti suka membuat makanan untuk mereka berdua.


Queen hamilnya hanya mau rebahan dan makan - makan. Billa lebih suka kulineran kemana - mana, itu yang membuat Revan kadang ketakutan sendiri. Takut jika Billa memakan makanan yang tidak sehat.


“Mama, mbak Ayu masak apa hari ini?” Billa melihat meja makan yang sudah penuh dengan makanan lezat bikinan kakak iparnya.


“Jemput Queen sana, ajak makan bareng. Oh iya Revan, tolong jemputin si kembar sama Al juga ya.” Pinta mertua yang di seganinya.


“Baik ma, Revan ajan menjemput mereka,” ucap Revan sambil meninggalkan istrinya bersama kedua wanita yang ada di rumah itu.


Tak berapa lama Queen ternyata sudah tiduran di sofa depan tv dengan mengambil brownis buatan sang mama mertua.


“Mama, Queen pengen di pijitin. Capek sekali lengan Queen.” Pinta Queen dengan menyerahkan lenganya pada Cinta.


“Menantu kok kurang ajar.” Cinta mencibir, namun juga tetap memijitin sang menantu.


“Mama… mama itu mertua terbaik di dunia. Seandainya Queen gak jadi menikah sama Levin juga mama tetep jadi mama Queen,” ucap Queen yang langsung memeluk sang mama dengan sedikit manja.

__ADS_1


“Iya menatu tersayang mama,” Cinta mencium hangat Queen.


Perbincangan para wanita itu trhenti ketika para lelaki berdatangan satu persatu.


Malam sekali Billa pulang ke rumahnya bersama Revan. Di depan rumat terlihat seseorang wanita yang sangat di kenal oleh Billa dan juga Revan. Ani datang dengan membawa berbagai macam cemilan untuk wanita hamil yang sudah di anggap sebagai kakaknya.


“Hei, dia siapa?” tanya Billa ketika melihat ke arah Ani dengan seorang lelaki yang menurutnya sangat asing.


“Dia Nando, sepupu saya yang sempat saya ceritakan ingin mencari pengalaman kerja sebelum berdiri di kakinya sendiri mengurus perusahaannya.” jelas Ani memperkenalkan NAndo


“Ya sudah kalau begitu besok silahkan datang ke kantor. Dan lagi, jangan mengatakan apapun kalau kamu masuk hanya untuk mencari pengalaman atau ilmu. Tapi masuklah dengan alasan kamu di rekomendasikan olehku.” Jelas Revan saat menjamu tamu di ruang tamunya.


“Siap pak.” Nando menjawab jika dirinya sudah paham.


“Dan lagi, silahkan kamu mencari nama pak Vano, besok pagi saya akan menghubunginya.”


***


Setelah kejadia malam itu, Nando bekerja di bawah pimpinan Vano langsung. Bulan berganti bulan dan kehamilan semakin terlihat. Wajah di balik kerudung terlihat lebih bersinar dari sebelum hamil.


Setiap Billa menunggui Revan kerja, Nando terlihat sesekali memperhatikan wanita hamil di samping sang boss. Nando ternyata memiliki kekaguman sendiri terhadap istri bossnya. Kesetiaan menunggu suami yang melaksanakan meeting berjam jam - lamanya.


Revan menyadari itu, tapi seorang Billa mampu menahan amukan Revan, Billa selalu bisa membuat amarah Revan mencair meski sudah di ubun ubun.


“Biarkan saja sayang, pikirkan aku sedang hamil. Jangan pernah memarahi siapapun jika kamu gak mau anak kamu akan nurun seperti mereka.” Itu lah kata yang selalu terucap oleh Billa untuk sang suami.


“Iya sayang, Aku akan terus berusaha untuk menahan emosi dan juga berbaik hati pada semuanya.” Jawaban Revan ketika Billa sudah mengingatkannya.


Nando mengatakan pada Ani akan kekagumannya pada Billa. Biar dia seorang wanita berhijab, aura yang terpancar tidak seperti wanita pada umumnya. Nando sesekali mengatakan Bu Billa itu terlihat sangat seram. Juga kadang nano mengatakan wajah Bu Billa itu menenangkan. Banyak lagi cerita - cerita Nando tentang Billa.


“Apa kamu tertarik dengan calon mama muda itu Nando?” Tanya Ani d sela sela rutinitas padatnya.


“Tertarik sebagai lelaki pada seorang wanita itu mungkin tidak. Tapi tertarik akan kharisma yang di miliki mungkin iya.” jawab Nando dengan sorot mata kekagumannya pada seorang Billa.


“Asal kamu tau Nando, Bu billa itulah yang sebenarnya Singa yang di pelihara oleh pak Revan. Dan ada lagi pak Levin Baganta, abang dari bu Billa. Jika kamu sudah bertemu dengannya, kamu gak akan pernah menyangka.” Ani yang beberapa kali bertemu dengan Levin pun memberi pendapat.


“Menyangka gimana?” Tanya Nando penasaran.


“Pernah 'kan aku ke rumah bu Billa saat di minta mengatarnya pulang. Dan di rumahnya, ada abangnya. Sumpah anget banget tanggepannya. Tapi, ketika sudah berada di jam kerja. Auranya keluar, seandainya pak Levin gak bucin sama bu Queen. Sudah pasti aku akan daftar menjadi fansnya.” Ani membayangkan kharisma seorang Levin.

__ADS_1


“Bayangin aja terus laki orang.” Ucapan ketus Nando pun keluar sambil meninggalkan Ani.


__ADS_2