Sahabat?

Sahabat?
Bab 11


__ADS_3

Setelah selesai makan gue sama sahabat gue pamitan pada meja sebelah yg di tempati oleh keluarga Rizal. Gue ngeliat sih bang Rama seperti ngelirik kami tapi gue gak yakin ada seseatu di antara bang Rama sama salah satu temen gue.


"Nad lo liat gak itu tunanganya si Rizal, cantik banget kan." Ucap Rena


"Iya cantik banget."


"Cin kenapa lo gak jujur sih sama perasaan lo? Waktu 3 bulan itu cepet Cin. Jujur biar Michel cantik tapi gue gak rela kalo harus nikah sama Rizal. Kesian dia Cin, kayanya dia tersiksa deh." Ucap Rena membuat gue tersenyum.


"Lo gak usah banyak mikir toh bagi keluarga Rizal gue cuma temen masa kecil Rizal doang gak lebih." Jawab gue.


"Gue mau jujur deh sama kalian." Ucapan Rena setelah mengajak kami duduk di sebuah taman dan seseorang datang menghampiri kami.


"Bang rama? kenapa abang ke sini?" Tanya gue.


"Gue sama bang Rama sudah tunangan Cin Nad pas kenaikan kelas kemaren. Dan niatnya kita nikah barengan sama Rizal." Ucap Rena mengagetkan.

__ADS_1


"Cin lo harus ungkapin perasaan lo ke Rizal. Gue gak mau lo sama Rizal kaya gini, dari pertama gue masuk sekolah temen gue ya cuma kalian bertiga. Kalo kaya gini gue males sekolah." Kini Nadia nangis di depan gue, tapi gue gak bisa bilang apa apa karena Rizal melarang gue buka mulut ke siapa siapa.


"Nad, gue sama Rizal masih temenan kok. Ya emang kita sedang jaga jaram sampek batas waktu yg masih belum tau. Tapi percaya gue sama Rizal gak musuhan. Itu juga biar gue bisa buka hati gue buat Rico." Kata gue mencoba menenangkan Nadia.


"Cinta, keluarga gue kehilangan lo. Mama terus nanyain lo kenapa gak pernah main lagi ke rumah. Papa juga bosen katanya gak pernah lagi denger omelan lo." Taka bang Rama.


"Bang lo tau sendiri Michel setiap hari ke sono. Ya malu lah gue bang, jujur gue sama kalian. Sepulang sekolah gue masih ketemu Rizal di taman ya meski cuma sekedar beli bakso. Tapi setiap hari kita masih bisa ketemu, ngobrol ngalor ngidul." Jawab gue sekenanya.


Bang Rama dan kedua sahabat gue menghela nafas lega yg mendengar gue masih sering ketemu dengan Rizal. Kami pergi dari tempat itu setelah merasa capek. Gue kembali ke rumah dengan menetral kan hati.


"Maaakkk dimana dirimu, Cinta kangen Maaakkk" Teriak gue tapi mak gue gak ada.


Gue naik ke lantai 2 dan ganti baju. Sebelum selesai ganti baju Hp gue bunyi. Telfon dari Rizal yg ternyata sudah di depan jendela kamarnya.


"Cinta taman yok, gue kangen sama lo."

__ADS_1


"Tunggu gue ganti baju dulu."


"Ya udah gue tunggu di taman."


Setelah selesai ganti baju gue langsung mengambil kunci mobil dan segera meluncur ke taman kompleks. Ternyata Rizal tak sendirian, di sana ada bang Rama dan Rena juga Nadia.


Seperti biasa gue pesen bakso semangkok berdua dengan Rizal. Dagang baksonya sampai hafal dengan permintaan kita.


Author pov


Rizal dan Cinta melahap baksonya bergantian. Kelakuan mereka berdua terus di pandang oleh abang juga sahabat sahabatnya.


"Kalian ini masih aja ya sepiring berdua." protes bang Rama.


"Bukan piring tapi Mangkok bang. Kalo abanv mau tuh sama Rena." Kata Cinta santai.

__ADS_1


"Enak banget lo ngomong Cin, lo gak liat gue gak ada pasangan apa?" Kini protes an dari seorang Nadia.


Kami hanya menertawai nasib Nadia yg lagi LDR an dengan cowoknya.


__ADS_2