
Malam sekali Billa dan Sandi baru sampai dirumah yang di tempatinya saat ini. Dengan langkah memburu dari belakang saat Billa turun dari mobil, membuat Sandi berlari ke arah Billa.
“Billaaaaaaaa.”
Terikan sandi membuat Billa menoleh kebelakang.
Naas memang, Billa lambat menghindar jadi pukulan batu besar menghantam kepalanya bagian depan, karena Billa menoleh kebelakang.
Darah segar mengucur keluar dari kepalanya dan mengalir melalui pelipis kirinya. Hantaman batu yang mengenai kepala Billa membuat kesadarannya sedikit memudar. Billa terhuyun kebelakang dan melihat bayangan seperti seseorang telah berkelahi, sebelum akhirnya kesadarannya benar - benar menghilang.
Sandi beruaha menjauhkan Frizka dari tempat Billa kehilangan kesadarannya. Saat yang bersamaan, kedua abang dari istrinya pun datang atas kabar yang di berikan oleh Mario.
Sedikit terlambat memang, Namun masih bisa menghadang hal lebih parah lagi yang akan terjadi. Kliene dan Levin di bantu dengan Mario bersama beberapa orang yang di bawanya menghadang Frizka.
DOR
DOR
Suara tembakan yang mengutuki kelalaian salah satu anak buah Mario. Frizka mengambil pistol yang terselip di pinggang belakang salah satu orang bersama Mario.
Pistol yang berisikan penuh peluru pun mengenai Sandi yang melindungi Billa. Niat ingin menghabisi Billa berubah menjadi penyesalan akan kebodohannya sendiri. Frizka yang telah sadar bahwa dirinya salah sasaranpun kini terduduk lemas melihat seseorang yang di cintainya terluka oleh perbuatannya.
Aksi penembakan itu rupanya telah di saksikan oleh keluarga Sandi, termasuk Mbah Kung pun ada di sana. Rasa tidak percaya bahwa gadis yang dibesarkan dengan tangan dan kasih sayannya sendiri, tega menembak cucu kandungnya.
Mbah kung berjalan dengan langkah berat, mendekati Cucunya yang sudah tidak sadarkan diri. Sepasang suami istri itu di larikan ke rumah sakit, menggunakan mobil ambulan.
Di tengah perjalanan, Sandi yang terbaring dalam mobil pun sempat sadar dan menitipkan Billa. Kliene selaku dokter kini mendampingi adik ipar dan Levin memapah Billa yang masih belum sadar di samping Kliene.
“Bbbaaang Se..se..Sandi nitip Bi..bi..illla.” Perkataan Sandi selain terbata dan terputus - putus juga terdengar seperti agak cadel selayaknya anak kecil yang baru belajar bicara.
“Lu ngomong apa Saan, Lu harus bangun.” Bentak Levin pada Sandi yang hanya membuat Sandi tersenyum
“San, ikuti perkataan abang. LAILLA HAILLALLAH MUHAMMADAROSULULLAH.” Kini Kliene lah yang menuntun kepergian Sandi dengan tetesan bulir bening dari matanya.
“LAILLAH HAILLALLAH MUHAMMADAROSULULLAH. ALLAHU AKBAR, ni huk huk ghem” Sandi tak mampu melanjutkan ucapannya.
Kembali Levin menyaksikan orang yang peling berpengaruh dalam hidup adiknya meregang nyawa, demi melindungi putri tersayang keluarga Alfan Ahrizal.
Ambulan telah sampai di rumah sakit terdekat, Di mana dulu Cinta bekerja. Keluar dari ambulan Kliene membawa Billa yang di bantu oleh Levin. Sedangkan Sandi di bawa ke ruangan UGD untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kepala dan dadanya.
Buk
Buk
Buk
__ADS_1
“Apa yang akan lu katakan pada Billa nantinya bang!!!” Pukulan yang mengenai perut dan bibir Kliene, di terima iklas olehnya.
“Levin! Sadar dia kakak kandung kamu!!” Teriak queen yang menyaksikan pertikaian kedua sodara kembar itu di tengah keharuan keluarga Sandi.
“Billa mana, Vin?” Separti seorang anak kecil yang melakukan kesalahan. Levin berjongkok dan menundukkan kepalanya.
“Billa sudah di ruang rawat, tapi masih belum sadarkan diri. Sandi Yu, Sandi sudah gak adaaa.” Kini tangisan Kliene pecah dalam pelukan istrinya.
Dari arah belakang terdengar sara riuh khawatir dari sang mama dan papanya. Kliene dan Levin berlari ke arah orang tuanya seperti anak kecil. Mereka berdua menumpahkan tangisannya di pelukan mamanya.
“Putra mama masih kecil ternyata,” ucapan Cinta malah membuat tangis keduanya semakin kencang.
“Mama, itu suaminya Queen ngapa kaya bayik lagi?” Queen menangisi suaminya yang bertingkah selayaknya balita yang baru di tinggal pergi ke pasar.
“Makanya bikinin bayi lagi biar gak kayak Bayi lagi,” Cinta malah bercanda saat matanya terus mencari Billa.
Cinta tidak di beri tau oleh suaminya jika Billa juga menjadi korban dalam perkelahian tadi. Rizal hanya mengataka ada yang musibah yang menimpa anak mantu.
“Bagaimana keadaan Billa dan Sandi?” Pertanyaan Rizal membuat Cinta memiringkan kepalanya mencari kebenaran dari perkataan suami tercintanya.
“Billa sudah di ruang rawat, sedangkan Sandi….” Levin tak sanggup melanjutkan ucapanya.
“Sandi sudah meninggal ma.” Perkataan Kliene membuat Cinta terduduk lemas.
“Sekarang yang harus kita fikirkan itu, bagaimana kita menyampaikan pada Billa tentang Alm Sandi.” Levin tak henti menangis ketika abang kembarnya itu kembali mengungkit kematian Sandi.
“Ini semua salahmu bang!! kenapa lu tuntun Sandi ke jurang???” Geram Levin kembali memukul kakak kembarnya itu.
“Sudah lah nak, jangan kembali saling melukai. Ini semua kesalahan ada di Mbah Kung, Bukan di kalian atau adik kalian. Seandainya Mbah kung mendengarkan apa yang di sampaikan Sandi tentang Frizka, Mungkin Sandi masih berada di antara kalian. Dan adik kalian tidak menjadi janda seperti saat ini.” Perkataan lelaki tua di depannya membuat Rizal duduk dalam keadaan tak tau harus bagaimana.
“Bagaimana kami akan mengatakan pada putri kami? Setelah kepergian Aris, lelaki yang di cintainya. Kini juga harus kehilangan suaminya.” Ucapan Rizal membuat Levin hanya mampu memukul keras dadanya untuk meringankan dadanya yang kini terasa sesak dan berat.
“Yang Ayu takuti itu amarah Billa ma, pa,” Ayu mengingat kembali amarah yang di tunjukkan sore kemarin karena saat ini sudah hampir subuh, saat mengetahui siapa yang membuat Aris meninggal.
“Kemungkinan besar, Billa akan menjadi iblis pencabut nyawa bagi Frizka . Jika hukumannya tidak seadil - adilnya.” Queen mengatakan dengan menggidikkan bahu ngeri.
“Biar Kliene aja yang mengatakan nanti. Dan lagi, Levin jangan di kasi masuk ketemu Billa dulu,” pesan Kliene pada sang papa.
“Kenapa memangnya?” Tanya Rizal bingung.
“Asal papa tau, Billa sudah bagaikan singa kelaparan kalau duet sama Levin. Mending untuk sementara Levin jangan kasi bekerja sama dengan Billa. Salah - salah mereka menghabisi orang karena mencoba menjatuhkan mereka. Levin itu terkenal dengan Singa buasnya BAGANTA, sedangkan Billa itu di Jerman terkenal dengan sebutan ‘Angel-faced devil’ milik Revan.” Jelas Kliene tentang fakta yang di sembunyikan oleh putra putrinya.
“Apa maksudnya itu Levin? Apa papa mengajari kamu untuk menghancurkan lawan! Dan kenapa kamu mengajari adik perempuanmu menjadi sepertimu?” Rizal geram akan anak lelakinya yang berubah menjadi monster.
“Mama membesarkanmu dengan penuh kasih sayang nak, bukan dengan kebencian, kenapa kamu bisa seperti ini?” Rasa kecewa juga di rasa oleh mama tercinta.
__ADS_1
“Ma, mama sama papa salah sangka. Yang di maksudkan Abang itu, Levin tidak pernah memberi ampun siapapun yang berusaha menghancurkan atau menjatuhkan keluarga kita dengan cara sehat. Menjatuhkan dengan mengambil tander dengan cara memberikan penawara yang lebih menarik dari lawan tanpa membuat rugi perusahaan kita. Bukan menghabisi dalam arti yang mengerikan. Dan Billa sendiri sudah belajar itu selama di Jerman, dan Revan lah guru Billa.” Jawab Levin membela diri.
“bener seperti itu?” Rizal memastikn kejujuran sang putra yang hampir merusak kepercayaannya.
“Sumpah pa, bener seperti itu.” Levin memastikan pada papanya.
Cinta dan Rizal ke ruang rawat Billa di ikuti oleh kedua menantunya.
“Bagaimana keadaanmu sayang?” Tanya Cinta penuh dengan kasih sayang.
“Billa baik baik saja ma, Sandi bagaimana?” Pertanyaan yang terlontar membuat Queen memilih untuk menyingkir ke pojokan belakang dan menghindari tatapan mata tajam Billa.
Semua pandangan beralih dari Billa ke arah Kliene. Mau tidak mau, Kliene mendekati adik dan mencoba memberikan ketenangan agar tidak membuatnya menyalahkan api amarah lagi.
“Billa sayang, dengerin abang. Sandi saat ini sudan menemani Aris dan mengatakan betapa kamu sangat mencintai dan setia padanya.” Mendengar penuturan abang pertamnya, reaksi Billa benar - benar di luar ekspektasi.
Tenang dan sdikit senyuman yang membuat semua takut dan mengira kalau luka di kepalanya mempengaruhi kewarasannya. Queen yang tadinya diam di pojok kini memberanikan diri untuk menyentuh dahi adik ipaer yang sekaligus sehabatnya itu.
“Anget Ma, cariin dokter biar di periksa ini,” Ucapan Queen medapat cibiran dari Billa.
“Ck, Gua masih waraa Queen! Lu kira gua sedeng apa?” Billa menyingkirkan tangan Queen yang masih menempel di dahinya.
“Laki lu mati Bill, lu kagak sedih?” Tanya Queen masih dalam ketidak percayaanya.
“Mati? Lu kira laki gua burung? Alusin dikit ngapa itu bahasa. Lagian kalo gua sedih, laki gua bakalan idup lagi?”satu pukulan dari Ayu membuat Billa mengaduh dan memberikan rasa lega bagi semua karena Billa tidak terlihat depresi.
“Lu santai kaya gini, gak tau Levin lagi setres di luar ngadepin tanggepan elu.” Ayu memberikan ceramah pada Adik perempuannya yang baru saja menyanang status Janda itu.
“Oh iya, kenapa abang gak ikut masuk?” Tanya Billa mencari jawaban dari siapapun yang ada di dalam ruangan itu.
“Di luar nunggu elu dengan rasa takut.” Jawaban Queen membuat Billa ingin keluar menemui abang keduanya.
“Biar abang yang panggilkan. Kamu di sini saja,” Kliene langsung keluar ruangan dengan air mata yang tak mampu di tahan lagi.
Kliene tau bahwa hati seorang Salsabilla tidak lah sekuat yang terlihat. Dirinya tau jika tak ada satupun seorang istri yang bisa tabah seratus persen ketika suaminya meninggalkan dirinya untuk selama - salamya.
Levin masuk ruangan langsung memeluk Billa dan mengatakan maaf karena tidak bisa menjaga Sandi sampai tiba di rumah sakit.
“Kalau mau nyalain, salain aja Kliene yang sudah menuntun Sandi di penghujung jalannya.” Adu seorang Levin pada adiknya yang membuat Billa malah memukul abang keduanya.
"Benerlah bang Kliene nolongin Sandi, dari pada abang yang malah nangis di pojokan." Cibir Billa membuat semua lupa akan kesedihan malam ini.
Hari sudah siang ketika Billa pulang dari pemakaman suaminya. Billa tak meneteskan air mata dari matanya. Hatinya terlalu keras untuk menangisi kejadian yang merenggut suami tercintanya. Billa telah bersumpah pada dirinya sendiri, sebelum membalas dendam terhadap Frizka. Billa tidak akan kembali kekeluarga alm suaminya, yang ternyata Mbah kung tidak memproses sesuai mestinya. Frizka menangis dalam pelukan lelaki tua bangka di samping pusaran Sandi.
"Gua, Salsabilla Sandia Pandu Wiranatha, bersumpah akan menghancurkan kalian yg menzholimi suamiku hingga akar. Tak akan aku Biarkan kalian hidup bahagia setelah ini." Sumpah Billa di atas pusaran sang suami setelah semua orang telah meninggalkan Billa sendiri.
__ADS_1