Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Malam Pertama Billa


__ADS_3

Billa dan sandi pulang ke rumah orang tuanya. Billa mengadu semuanya kepada Levin yang memang sudah mengetahui bagaimana kehidupan Billa selama di Jerman. Karena secara diam-diam Levin sering mengunjungi sang adik tercinta tanpa Queen dan Almas.


“Mario, gerakkan anak buahmu menyelidiki kasuas Aris yang pernah gua suruh selidiki dulu.” Kata Levin pada Mario orang kepercayaan Levin yang kini bekerja manjadi intel di kepolisian.


Levin menutup telephonenya lalu kembali pada kedua adik yang kini sudah menjadi suami istri itu.


“Jujur kematian Aris waktu itu memang mengundang kecurigaan buat abang dek, hanya saja abang gak dapat ijin untuk meyelidikinya lebih lanjut. Akhirnya abang berhenti di tengah jalan. Tapi kali ini abang sudah mendapat ijin dari kalian saja sudah cukup untuk membuka kembali kasus ini.” Jelas Levin yang ternyata sudah mengetahiu kematian Aris sebelum Billa dan keluarga yang lain tau.


“Bang, jangan sampai abang kenapa-kenapa ya, Billa tau bagaimana Revan itu menghadapi lawan-lawannya.” Jelas Billa yang mengerti selama mengikuti CEO muda itu.


“Tenanglah.” Jawab Levin singkat.


“Lu juga ati-ati kalo lawan Revan.” Kata Billa dengan penuh kehawatiran.


“hmm” Jawaba Sandi dengan beberapa berkas di depannya.


Sandi bersepakat melanjutkan pendidikannya di Indonesia dan membantu Billa mengurus perusahaanya bersama Levin. Sedangkan perusahaan kakenya di urus oleh Friska seperti sebelumnya. Billa melanjutkan pekerjaannya juga.


Di luar ruangan, terlihat tiga orang anak kecil berumur lima tahun tengah berlarian mengejar anak yang lebih muda setahun dari mereka dengan membawa lari robot baru pemberian sang aunty. Sebenarnya semua sudah mendapatkan bagiannya masing-masing. Hanya yang di bawa lari oleh Almas adalah robot edisi terbatas Transformer 4 yang susahnya minta ampun di dapat.


“mama, itu robot Agas.” Agas merasa memiliki karena dia merasa Almas tidaklah cocok mendapatkan robot langka itu.


Almas tak menghiraukannya dan memilih lari ke ruang kerja sang papa dan mengadukan pada papanya.


“Papa ini punya Al bukan punya Agas.” Adu Al pada sang papa dengan memeluknya.


“Lah iya itu punya Al, kan Agas juga punya sendiri.” Billa menggendong dan mengajak Al satu-satunya ponakan cantik Billa.


“Lu ngapa beli satu aja yang limited sih Bill?" Omel Queen  ketika salah satu ponakannya sudah menangis.


“Sapa yang cuma beli satu sih? Makanya buka dulu semua biar gak rebutan kaya gini.” Billa balik ngomelin sahabat juga kakak iparnya itu.


Billa membuka bungkusan yang menutupi oleh-oleh yang di bawanya. Ketiga anak laki-laki itu akhirnya tersenyum dan bermain kembali seperti semula. Kini karena Al juga mempunyai mainan yang sama jadi bisa ikut bermain bersama dengan ketiga sepupunya.


“Anak-anak ayo Oma bawa apa ini?"  Cinta datang dengan membawa pisang goreng sudah tidak begitu panas lagi.


Agas mengambil pisang goreng yang ada di tangan Al lalu menggigit sedikit, setelah dia menelannya baru Al di biarkan memakannya. Melihat itu Baska selaku adik juga melakukan hal yang sama terhadap pisang goreng yang ada di tangan Agas sang kakak pertama. Sedangkan Bagas hanya asik menikmati pisang gorengnya yang masih ada di piring.


“Melihat Agas sama Al jadi keinget lu sama Levin, Quen.” Ucapan Billa membuat Queen teringat akan kelakuan suaminya dulu sebelum menjadi suaminya.


“Iya Bill, rasanya jengkel aja. Tapi sekarang gue tau, dia lakuin itu semua karena berniat  ngejagain gue.” Ucapan Queen hanya membuat Ayu manggut-manggut.


“Kalo Kliene dulu gimana?” Tanya Ayu penasaran.

__ADS_1


“Bang Kliene persis sama Bagas, terlihat gak perduli tapi sebenernya dialah yang paling perhatian.”Jelas Billa mengingat betapa perhatian sang abang pertamanya itu.


“Terus kalo Baskah itu mirip siapa?”Tanya Ayu penasaran dengan sikap yang melindunginya.


“Baskah itu mirip papamu,” ucap Cinta dengan membawa semangkok mie kuah bertabur bawang goreng dan cabe iris di atasnya.


“Ih mama kenapa cuma satu buatnya?” Tanya Billa yang hendak mengambil sendoknya malah di pukul tanggannya oleh sang mama.


“Buat papmu ini, kalo mau buat sendiri sekalian bikinin buat suamimu juga.” Kata Cinta membuat Billa langsung  pergi.


“San, Sandi…. masakin gue laper.” Kata Billa memanggil suaminya.


“Mama gak masak emangnya?” Tanya Sandi yang mendekati Billa.


“Enggak, itu cuma bawa semangkok mie instan aja buat papa.”Adu Billa.


“Deleveri sana. Uangnya di dompet.” Kata Sandi meninggalkan Billa kembali.


Setelah makan malam Levin dan Queen pulang ke rumahnya. Kliene yang baru datang saat makan malam pun sekarang memilih beristirahat di kamar sedangkan Cinta dan Rizal masih asik menikmati tontonan malam di dampingi dengan teh hangat dan potongan buah apel.  Kalau Billa dan Sandi, mereka masih setia dengan lembaran kertas di ruangan kerja sang papa.


“San, ini beneran selisih gak sih?” Tanya Billa yang sedang mengecek keuangan Cafe secara global milik papanya.


“Bener sih tadi gua itung emang ada yang selisih, memang itu selisih dikit tapi coba lu buka ulang lembarang yang gua lipet, kalo di gabung semua bisa sekitar hampir sejutaan.” Kata  Sandi yang juga mengerjakan pembukuan Cafe milik mertuanya.


“Kenapa bisa segini banyak sih?”Billa tak mengerti kenapa papa dan juga Levin tidak mengetahui ini.


“Kalo kaya gini mending kita ke cafe besok, selidiki apa yang terjadi.” Kata Billa menengahi.


“Udah belum? Ngantuk banget gue.” Kata Sandi memang sesekali sudah menguap.


Sesampainya di kamar Billa, Sandi langsung merebahkan diri di atas tempat tidur yang berukuran sedang. Billa berjalan ke arah kamar mandi dan mengambil air wudhu.


“San, jangan tidur dulu.Kita sholat dulu ya, lu kan belun sholat Isya.” Kata Billa saat keluar dari kamar mandi.


“Oh iya lupa. Tunggu aku yang akan mengimamimu sholat.” Kata Sandi saat sudah berada di kamar mandi.


“Harus itu.” Jawab Billa sambil menata sajadah untuk Sandi dan dirinya. Tak lupa Billa juga menyiapkan Sarung untuk Sandi.


“Duh gantengnya suamiku kalo habis wudhu kaya gini.” Goda Billa membuat Sandi tersenyum malu.


Setelah memakai sarungnya, Sandi langsung Iqomah sebelum membaca niat untuk sholat isya sebagai imam untuk istri tersayangnya. Hanya saat menjadi makmumlah Billa bisa menurut pada Sandi seratus persen. Karena pada saat selai sholat, Sandi sangat kesusahan menghadapi sang istri. Terutama saat meyakinkan pada sang istri bahwa perasaan cintanya sangatlah tulus. Setelah sholat Billa mencium tangan sang suami dan di lanjut mencium pipi kiri kanan mlik laki-laki yang selalu mengimaminya saat Sholat. Kebiasaan tanpa paksaan itu muncul setelah Billa dan Sandi sering sholat bersama. Selepas itu Sandi mencium kening istri yang baru beberapa bulan ia nikahi. Lanjut kelopak mata lalu dagu wanita kecil yang memiliki rambut sebahu menjadi makmumnya selama sholat tadi.


“Bill, aku siapamu?”Tanya  Sandi setelah mencium dagu Billa.

__ADS_1


“Kamu suamiku Sandi.” Jawab Billa sedikit tersenyum.


“Belum bolehkah aku mencium bibirmu sayang?” Tanya Sandi sedikit berbisik.


 “Tentu saja boleh, Aku halal untukmu San.” Jawab Billa menundukkan kepalanya.


Sandi menuntun Billa yang masih mengenakan ke tempat tidurnya. Mendudukkan di tepi ranjang dengan sprei bermotif doraemon warna biru muda kesukaan Billa. Dengan mengucapkan kata Bismillah, Sandi membuka mukena Billa yang ternyata sudah mengenakan baju tidur lengan pendek dengan motif yang sama dengan spreinya. Sandi mencium pipi Billa kiri dan kanan secara bergantian sebelum mencium kelopak mata Billa yang menjadi favorit dari Sandi. Sandi mencoba mengecup bibir billa sekilas yang membuat Billa seperti tersengat aliran listrik.


Bismillah, Allahumma jannibnas-syaithaan wa jannibis-syaithaana maa razaqtana


Doa yang di ucap Shandi dalam hati sebelum membuka kancing-kancing baju Billa. Dengan senyuman Sandi menanap Billa yang juga menatapnya. Sandi berusaha membuat Billa senyaman mungkin sehingga tidak merasakan terlalu sakit.


“Saaaannnnn” Ucap Billa yang sedikit teriak membuat Sandi sedikit kerkejut.


“Sssstttt diem sayang, kamu boleh gigit lenganku kalau merasa sakit. Atau kita ulang besok aja?” Tanya Sandi yang melihat Billa penuh dengan keringat di wajahnya.


“Lanjutin aja San, besok atau kapanpun juga rasanya sama.” Kata Billa berbisik


Sandi tersenyum dengan perkataan Billa yang mendeskripsikan tentang malam pertama. Perlahan dan pasti Sandi mulai menerobos pertahanan Billa yang selama ini di jaganya. Billa yang merasa sedikit takut juga sedikit panas bercampur sakit yang tak mampu di ucapkan dengan kata-kata itu hanya mampu menahanya dengan menggigit pundak Sandi yang memeluknya.  Dirasa sudah sepenuhnya menerobos, Sandi yang juga bermandikan keringat itu menghentikan aksinya dengan masih memeluk BIlla.


“Sakit sayang?”Tanya Sandi yang hanya mendapat anggukan kepala dari sang Istri.


“Mau lanjut atau kita stop di sini saja?” Tanya Sandi dengan nada yang sedikit serak dan berbisik.


“Aku haus San” Kata Billa membuat Sandi mengangkat kepalanya dan melihat sang istri.


“Aku ambilin minum ya sayang?” Tanya Sandi yang hampir melepasa apa yang ada di dalam tubuh Billa


“Selesaiin dulu ini San.” Kata Billa menahan Sandi dalam pelukannya.


“Maaf, aku egois.” Kata Sandi dengan membelai rambut Billa.


“Ini hak kamu sayang. Aku istrimu, wajar jika kamu meminta ini dariku. Cuma yang aku pertanyakan sekarang. Kamu belajar kaya gini dari mana?” Tanya Billa penuh selidik.


“Hehehe, dari film yang di kasi sama Vano” Jawab jujur Sandi dengan sedikit cengiran yang membuat Billa memukul lengan kekar sang suami.


Hampir satu jam Sandi dan Billa memadu kasih hingga mencapai puncak bermandikan keringat. Sandi segera ke kamar mandi mengelap keringat dengan handuk kecil yang ada dalam kamar mandi setelah memcuci muka dan membersihkan yang seharusnya di bersihkan. Billa bergantian ke kamar mandi sedangkan Sandi ke dapur untuk mengambilkan air minum dingin untuk Billa setelah memakai pyamanya.


“Billa sayang, kamu mandi langsung ya?” Tanya Sandi yang masuk ke kamar namun Billa belum keluar dari kamar mandi.


“Enggak san, tapi kakiku gemetaran,” ucap Billa yang kini  duduk di toilet duduk yang ada di kamar mandinya.


“Ya ampun sayang, maafin aku ya.” Sandi merasa bersalah, sedangkan besok mereka berdua berniat untuk mengunjungi cafe untuk sidak.

__ADS_1


“Gendong aku bisa san?” Tanya Billa yang langsung di lakukan oleh Sandi tanpa menjawab.


Sandi membantu Billa mengenakan bajunya kembali sebelum membaringkan Billa ke tempat tidur. Malam masih terlalu panjang untuk Billa dan Sandi melanjutkan tidur karena jam masih menunjukkan di angka 23.03.


__ADS_2