Sahabat?

Sahabat?
Bab 49


__ADS_3

Sepulangnya dari kampus, Cinta lanjut memasak sebelumnya dia mandi dan sholat berjamaah dengan suaminya. Rizal menunggu Cinta di meja makan berhadapan dengan laptop dan bercinta dengan angka angka. Cinta yg melihat Rizal memasang wajah seriusnya langsung membuatkan teh anget tanpa gula kesukaan suaminya.


"Minum dulu teh nya." Cinta mencium ujung kepala Rizal lalu mengacak rambutnya sebagai ungkapan penyemangatan.


"Makasih ya sayang. Rasany mimpi aku bisa menikah denganmu. Menghabiskan waktu berdua denganmu. Dan bermesraan denganmu tanpa adanya mama yg mengomel." Kata Rizal yg ternyata mamanya sudah di belakang kursinya.


"Oh jadi omelan mama itu mengganggu?" pertanyaan mama Rizal yg membuat Rizal meloncat dari tempat duduknya.


"Enggak ma, mama Is the best lah. Mama jangan suka marah napa ma, belum punya cucu entar udah keriput lo." Goda Rizal yg di senyumi oleh Cinga.


"Makanya kalian cepet buatin mama cucu biar gak ngomelin kalian terus." Sewot mama.


"Dih mama, abang dulu sono suruh. Entar kalo anak Rizal gedean di sangka kami nikah karna MBA lagi." Sungt Rizal.


"Bukannya kalian emang nikah karena MBA? ya biar pun bukan ke arah kehamilan sih. tapi tetep lah kalian nikah karena kecelakaan." Terang mama Rizal tak mau kalah.


"Enak aja, kita kan nikah dengan penuh cinta dan persiapan yg matang. Abang noh yg tanpa pernikahan udah buntingin anak orang." Macan dalam diri Rizal di bangunin sama mamanya jadinya taringnya terus keluar.


"Abang mu itu masih masa masa berusaha membangun dan membina rumah tangga dan bisnis sayang. Jadi ya kalian yg sudah mapan yg mama mintai cucu." Jawab enteng mama membuat Rizal semakin jengkel.


"Ya elah mama gitu banget sih sama Rizal. Mama terus maksain Rizal buat ini itu." Kini Rizal beralih mendekat pada istrinya yg tengah menyiapkan makanan di atas meja makan.


"Cinta bujuk suamimu lah biar cepet ngasi cucu. Bosen mama, kalian udah pada punya kesibukan sendiri sendiri." mama Rizal menunduk haru.


"Ya doain aja yg terbaik buat kami ma, Cinta sama mas Rizal juga sudah berusaha. Tapi Allah masih belum mempercayai kami ma. Sabar ya ma, jangan terlalu berharap nanti akan kecewa sendiri mama." Jelas Cinta.


"Ya sudah mama pulang kalo gitu."


"Loh ma gak makan di sini aja?" Tanya Cinta.


"Enggak."

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Rizal singkat.


"Takut baper sama kalian. Kalian kan mesra mesraan gak kenal tempat." Sungut mama Rizal yg hanya membuat Rizal terkekeh.


"Ya sudah yang aku udah laper, makan yuk." Ajak Rizal.


"Bersih bersih dulu mas, sholat magrib sekalian. Takut kehabisan waktu." Cinta memang membiasakan diri memanggil Rizal dengan sebutan 'Mas' atas permintaan Rizal yg ingin ada panggilan mesrah untuknya.


"Ya sudah, mandi bareng ya." Cinta hanya mengangguk kecil.


Setelah sholat magrib Cinta dan Rizal makan malam bersama seperti biasa. Setelah makan malam Rizal mengambil buku pembukuan yg dia bawa dari ketiga cafenya. Cinta membaringkan diri di ranjang ketika Rizal sibuk bekerja di ruang kerjanya.


"Mas Rizal mas sini dulu." Teriak Cinta membuat Rizal meninggalkan kerjaannya.


Rizal memang selalu mendahulukan Cinta di atas segalanya. Karena bagi Rizal perjuangan untuk mendapatkan Cinta tidak lah gampang. Jadi Rizal tak ingin untuk mengulang memperjuangkannya. Baginya cukup sekali memperjuangkan Cinta dan sisanya adalah mempertahankan.


"Kenapa sayang?"


"Yang, udahan yuk nontonnya. Aku sudah ngantuk ini. Kasian mama sampek mau nangis tadi." Bisik Rizal.


"Jangn sekarang mas, Cinta lagi sakit perutnya." Cinta merasa jengkel yg entah kenapa merasa seperti itu.


"Kenapa? Mas gak pernah maksa kok kalo sayang gak bisa. Tapi jangan cemberut gitu, mas merasa bersalah jadinya." Rizal memeluk Cinta.


"Iya mas, maaf. Gak tau Cinta maunya di manjain aja tapi bukan karena siapapun. Cinta sedih aja kalo misalnya mas ngelakuin itu karena orang lain bukan mas sendiri." Ucap Cinta dengan nada ingin menangis.


"Iya maaf, Mas gak ulangi lagi. Sini mas cium dulu biar gak makin maju bibirnya."


"Enggak mas."


"Kenapa? ada hati yg kamu jaga?" Cinta hanya mengangguk. "Siapa?" lanjut Rizal.

__ADS_1


"Hatiku mas, kalo di cium sama mas rasanya pengen lepas mencari hatimu mas." Cinta menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


"Bisa aja kamu ini, aku kira menjaga hati dedek dalam perut." Rizal mencium mbunmbunan Cinta.


"Gimana mau di jaga mas, orang rumahnya jarang di masukin sama mas." Rizal hanya tertawa mengingat dirinya hampir seminggu tidak melakukanya.


"Maaf, ospek juga kerjaan di cafe menuntutku melupakan jatah malam."


"Kalo gitu sana minta dedek sama kerjaan di cafe mas. Jangan minta di aku." Cinta melepaskan pelukannya.


"Maaf sayang, mas khilaf."


"Mas, kakak senior yg kemarin itu naksir kamu ya?" Tanya Cinta.


"Maya sama Lina?"


"Iya mas, ngeliatin akunya kaya mau nelen rasanya."


"Telen balik dong masak kalah sih sama orang orang yg mau ganggu sayangnya kamu?"


"Bukan kalah mas, tapi Cinta merasa percuma kalo masnya nanggepin mereka mah." Cinta menggambar lingkaran tak beraturan di dada Rizal dengan telunjuknya.


"Hahahaha ya sudah besok mas jauhin. Asal kamu jangan berhenti buat cemburuin mas ya. Mas seneng di cemburuin kaya gini, berasa cinta mas tak bertepuk sebelah tangan." Ucap Rizal membuat Cinta malu.


"Cinta ku ke mas itu jangan pernah di raguin lagi mas, Cemburunya Cinta itu karena takut kehilangan mas."


"Mas juga takut kehilangan kamu. Mas hanya mau menjaga saja yang gak mau memperjuangkanmu lagi. Sumpah berat, apa lagi harus berpisah."


"Love you mas."


"Love you so much yang."

__ADS_1


__ADS_2