Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Janji


__ADS_3

Malam hari kediaman Cinta dan Rizal sudah di penuhi oleh tetangga dan juga para undangan aqiqahan ketiga bayi yg lahir di hari yg sama namun jam yg berbeda tipis. Agas di gendong oleh sang papa Baska di gendong oleh Dady Levin dan Bagas oleh opa Rizal. Dengan tamu bergantian menggunting dikit dikit rambut ketiga bayi itu.


Acara selesai sampai jam 10 malam. Cinta dan Rizal duduk bersebalahan dengan sedikit merebahkan diri di sofa depan TV. Rizal memeluk Cinta dari samping dan Cinta memejamkan mata memegang lengan Rizal.


"Oppaaa, jangan manja manjaan terus sama ommaaa." Goda Queen dan Billa sambil berpelukan di depan orang tua yg tak mau di bilang tua.


"Haiiiissss ganggu saja kalian ini." Rizal melempar bantal kursi yg berada di belakangnya.


"Oppa, oppa jangan gitu dong. Bentar lagi Agas pasti bangun, itu bagian oppa." goda Billa lagi dengan merengek rengek pada papanya.

__ADS_1


"Gantiin napa Bill, papa capek banget. Seharian tadi ngajak Bagas." Rizal sedikit kecapek an karena sang cucu benar benar aktif meski hanya menggoyang goyangkan tubuhnya.


Hari melelahkan telah usai, Queen dan Levin kembali ke rumahnya. Queen mandi sebelum sholat isya bersama sang suami. Dengan wudhu wajah lelah Queen dan Levin kembali segar dan tak terlihat ada rasa kantuk lagi. Setelah sholat isya Queen menonton tv di kamarnya dan Levin ke kamar sebelah yg sudah di sulapnya menjadi ruang kerja untuknya. Dan fikiran Levin hanya kerja untuk membunuh kejenuhan atau rasa iri pada sang kakak yg memiliki sekaligus 3 putra kembar.


"Levin, gak ada niatan apa kamu ngerjain aku?" Rengek Queen di tengah pintu.


"Bentar sayang 5 menit lagi ya." Ucap Levin sembali membolak balikkan kertas entah apa itu isinya.


Levin langsung mendongakkan kepalanya melihat ke arah sang istri. Senyuman menggantung indah di bibir Levin. Tubuh tegap dan tinggi melebihi Queen itu berdiri dan menghampiri Queen. "Ayo" Bisik Levin.

__ADS_1


Wajah cantik Queen pun langsung di bumbuhi dengan senyumanan. Queen menggandeng lengan Levin menuju kamarnya. Di kamar Levin dan Queen naik ke atas ranjang dan menyelimuti diri mereka dengan selimut tebal di ujung ranjang. Queen memeluk Levin dan memainkan kancing baju tidur suaminya. Queen yakin Levin akan meninggalkan dirinya ketika ia sudah terlelap. Maka dari itu Queen ingin Levin dulu lah yg tidur agar tidak di tinggal ke kamar sebelah lagi.


"Yang, tidur dong. Kerjaan aku masih banyak ini." Ucap Levin membuat Queen mengeratkan pelukannya.


"Gak boleh, kalo kamu terus capek dan gak beristirahat dengan benar. Kapan aku bisa punya anaknya? Kamu sendiri kan sering bilang kalo aku susah punya anak bukan tidak bisa. Kita coba ya Vin. Aku pengen punya anak, pengen tau rasanya hamil juga ngidam." Queen memeluk Levin sangat erat dan sesekali bahunya naik karena sesenggukannya.


"Ya sudah kita coba lagi, Aku janji mulai saat ini aku akan luangkan waktu untuk istirahat juga untuk memanjakanmu." Ucap Levin mencium ujung kepala Queen.


"Janji ya, Vin cuma kamu yg aku punya saat ini. Mama juga gak pernah ada kabar, ayah tetap gak mau mengakui aku. Jangan buat aku jadi jalang yg mengemis kasih sayang meski itu padamu Vin." Tangisan Queen semakin menyesakkan dada Levin.

__ADS_1


"Kasih sayangku hanya akan tercurah untukmu. Aku janji gak lagi membawa kerjaan pulang." Levin mencium tengkuk Queen mesrah dari belakang karena Queen sudah memunggunginya.


Mama Queen masih sebenarnya ada di apartemen pemberian Rizal, Hanya tak mau menemui Queen. Wajah blasteran Queen semakin kentara ketika dia bereksperimen dengan rambutnya. Angel terus teringat akan kejadian pemerkosaan yg di alaminya dulu. Ya waja blasteran yg ia dapat dari sang papa, yg jelas bukan Rama yg asli indonesia. Tapi Toni yg memiliki wajah campuran Australia dan Bandung.


__ADS_2