Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Saya duda


__ADS_3

“Boss, sarapan dulu” Billa langsung duduk dengan memangku anak laki - laki duduk di meja makan setelah Vano mengabarkan sarapan sudah siap.


“Van, calon lu gak pengen ikut kesini?” Tanya Billa ketika ketiga orang penghuni tetap villa berkumpul di ruang makan.


“Maunya, tapi takut khilaf gua.” Vano menggingat calonnya itu telah memutuskannya sebelum kembali ke Jerman setahu yang lalu.


“Pikiran lu itu yang kurang di tatar. Sayang mau apa? Mau ini?” Billa menertawai sahabatnya ini sebelum beralih pada lelaki kecil di pangkuannya.


Revan menyaksikan betapa telatennya Billa mengurus putra semata wayang dari Yuga. Revan memikirkan hal yang masih sangat dini bagi dirinya dan Billa, Yaitu memiliki anak dan bermain di taman bersama. Sedangkan Billa masih belum bisa membuka hatinya untuk lelaki lain.


Billa memakai baju kerja setelah mandi dan menidurkan Reyhan. Billa ke ruang kerja dan duduk di samping kanan Revan, sedangkan Vano di samping kiri. Billa sangat berbeda dengan Tadi yang masih menggunakan baju rumahan.


Yuga hampir tak mengenali Billa yang mengenakan baju formalnya. Suasana sangat mencekam ketika Billa, Vano juga Revan menyalakan laptop miliknya. Billa terlihat sangat serius di tambah dengan Revan yang semakin dingin. Vano meski sedikit tersenyum, tapi hawa devinya tetap terasa.


Inikah kolaborasi dalam kantor ini? Sudah bagikan neraka saja suasana di kantor baru ini.


“Damn it!!”


Umpatan Billa mendapat tatapan menghunus dari seorang Revan dan Vano.


“Kita kecolongan, Bang,,,,,,sat” Geram Billa membuat Semua yang melihat semakin tak mengerti.


Revan langsung meninggalkan Ruangan. Billa dan Vano juga mengikuti dari belakang. Billa, Revan dan Vano memiliki tujuan yang berbeda.


Frizka ternyata bukanlah anak kemarin sore untuk urusan curi mencuri saham. Frizka sekali gerak dia telah mengambil 3 perusahaan sekaligus. BIRMA, BAGANTA, DAN ANGKASA.


BIRMA terancam koleb karena diserang dari dalam. Sedangkang BAGANTA masih mampu berdiri tegap karena Levin sudah mengunci aset dengan beberapa lapis keamanan yang di banti oleh Arya, papa dari Yuga. ANGKASA sudah oleng kerena tidak memiliki backingan orang pintar mengolah data. Vano kesulitan sendiri menghadapi kekacauan yang di akibatkan oleh Frizka secara terang - terangan.


“Posisi” Billa menanyai Revan setelah memastikan keadaan BAGANTA stabil.


“OTW ANGKASA.”


“Siap” Billa langsung ke kantor Vano dan mendapati Vano sudah dalam keadaan kalang kabut.


Billa langsung mengambil alih komputer yang tengah di otak - atik oleh IT kantor Vano. Sedikit demi sedikit saham yang Vano miliki tengah kembali. Sekitaran lima jam, Billa mengambil alih tapi masih belum mendapatkan setengah dari saham yang di ambil oleh Frizka.


“Kalau kalian merasa capek, bisa pulang.” Kata Vano lemas, karena belum berhasil mendapatkan semuanya.


“Van, sekarang kamu ke kantor baru, suruh mereka pulang. Karena menurutku Frizka akan berfokus ke ANGKASA dari pada ke BIRMA. Dan bawa kesini laptop ku.” Perinta Revan langsung di kejakan oleh Vano.


Sedangkan untuk karyawan ANGKASA sendiri, memilih membantu Billa dengan cara mengerjakan apa saja yang di perintahkan Billa.


Mata Billa sudah mengeluarkan air mata karena merasa putus asa. Revan yang membantu di samping Billa kini mengambil alih pekerjaan Billa.


“Kuatkan dirimu, kita hadapi sama - sama, aku akan mengunci dulu yang sudah kita dapat, agar tak lagi kecolongan” Perkataan Revan membuat Billa semakin menangis.


“Ini semua salahku.” Billa menyalahkan diri sendiri akan ulah Frizka yang ingin menghancurkan semua yang bekerja sama dengannya.

__ADS_1


“Tidak akan aku Biarkan itu semua terjadi Billa” Revan memeluk Billa dan membiarkan janda muda itu menangis di pelukaknnya.


Karyawan yang melihat kedua orang itu berpelukan, merasa malu sendiri dan ada yg berbisik bahwa yang mereka terlalu sweet untuk orang - orang kejam seperti mereka bertiga. Vano datang dengan membawa apa yang di butuhkan Revan. Vano melihat Billa menangis, langsung memeluk Billa dan Revan secara bersamaan.


Vano ikut menangis bersama Billa di pelukan Revan. Pelukan hangat seorang kakak yang selalu di rasakan Vano ketika memeluk Revan. Para karyawan yang menyaksikan pun ikut menangis haru karena kekompakan mereka bertiga. Bima, orang kepercayaan Vano pun tak menyangka bahwa Boss killernya itu berhati hello kitti ketika menghadapi masalah yang menyangkut para karyawan.


Setelah puas menumpahkan perasaanya, Billa dan Vano kemali ke layar masing - masing dengan data - data yang memusingkan otak dan hati. Hampir sepuluh jam, Billa dan para karyawan memerangi penyerangan data - data. Seratus persen sudah saham milik ANGKASA sudah terkumpul. Revan mengunci saham itu sebelum meninggalkan perusahaan itu.


“Kalian semua silahkan pulang, sekarang sudah jam 1 dini hari. Kalian hari ini gak usah balik kantor, istirahat yang cukup di rumah, dan besok baru kembali. Masalah ini saya janji gak akan terjadi lagi,” Ucap Billa mengambil alih posisi Vano yang terdudu lemas.


Billa dan Vano masih belum beranjak dari kursi yang sudah di dudukunya selama sejam lebih in. Selama itu mereka berdua menutup mata berjelajah ke alam mimpi.


Di Villa Revan sudah menyiapkan makanan untuk Billa dan Vano setelah membersihkan diri. Jam dua dini hari Revan masih terus mondar mandir menunggu kedatangan kedua orang yang menjadi sekertaris pribadinya.


Revan semakin kepikiran, ketika menelfon salah satu dari mereka tapi tidak mendapat tanggapan.Revan langsug menyusuri jalan takut terjadi sesuatu pada mereka. Kedua orang yang tengah di carinya memang mengenakan Taksi saat pergi tadi.


Revan hanya menggeleng - gelengkan kepalanya ketika mendapati kedua orang yang di carinya tengah tidur dalam keadaan duduk di sofa ruagan terakhir Revan tinggalkan.


Sekali sentuh, Vano langsung bangun dengan sedikit terkaget. Billa? Sampai di bawakan air, kebo betina itu tak kunjung bangun selain menggeliat membenarkan posisinya.


“Angkat aja pak, sepertinya gak ada tanda - tanda Billa akan bangun dalam waktu dekat.” usul Vano membuat Revan memutar mata jengah.


“Begini sekali saya punya anak buah kepercayaan ya. Satunya kebo satunya cengeng.” Gerutu Revan membuat Vano merasa tersindir dan hanya bisa nyengir kuda.


“Setress saya pak, sepertinya usulan bapak untuk aku belajar mengolah data itu sepertinya memang saya perlukan.” Vano mulai memikirkan perusahaannya akan terancam dalam waktu - waktu selanjutnya, karena sudah menjadi resiko menjadi orang kepercayaan Revan dan patner Billa.


“Ini kesempatan belajarmu, langsung dari ku juga Yuga.” Revan bukan mau mngajari rupanya, tapi mau langsung menerapkan ilmunya pada Vano mengotak atik pertahanan lawan.


Pagi - pagi sekali Yuga sudah bangun dan memasak sarapan untuk nya juga penghuni yang lain. Sebagai ucapan terima kasih, Yuga bertekat untuk memasak dan membersihkan rumah sebelum kantor buka.


Yura merasa sangat beruntung bertemu dengan Billa yang meberinya tempat tinggal gratis dan nyaman selain gaji yang lumayan untuk menghidupi buah hatinya. Yuga menyiapkan makanan seadanya karena bahan makanan hanya tersedia sangat dikit di kulkas.


“Wah, sarapan kita hari ini rupa - rupa ternyata.” Vano yang baru bangun langsung melihat meja makan sudah terisi penuh dengan masakan rumahan.


“Seadanya saja pak Vano, karena cuma ini yang saya dapatkan di kulkas.” Jawab Yura yang tengah mencuci piring bekas memasaknya.


“Jangan panggil aku pak kalau sedang di luar jam kerja, saya seumuran Billa kak” Vano memanggil Yuga dengan sebutan kakak karena merasa Yuga lebih besar darinya lima tahun.


“Oh iya vano,” kata Yuga malu - malu


 


“Ada yang perlu bantuanku?” Tanya Vano menetralkan suasana yang sedikit canggung.


“Bisa menata piring ini, semuanya sudah selesai” Yura memberika piring yang ada di meja dapur.


“Bisa,” Vano mengambil piring dari Yura dan bertepatan dengan Reyhan menangis.

__ADS_1


“Makasih ya” Yura meninggalkan Vano sendirian.


Vano kembali ke kamar untuk membersihkan diri, sedangkan Billa yang melihat makanan sudah tertata rapi pun langsung mengisi piringya sebelum memakannya. Emang dasar Billa yang maunya gampang tanpa harus bergelut dengan dengan urusan dapur atau rumah tangga yang lain.


Vano keluar kamar setelah berpakaian rapi berbarengan dengan Revan dan Yuga yang menggendong Reyhan ganteng. Yuga mengoceh melihat Billa masih dengan baju kemarin dan rambut acak - acakan sudah menikmati sarapannya hampir habis.


“Billa, seharusnya kamu itu mandi dan ganti baju dulu, baru sarapan. Bukan kaya gini, haduuuuuhhhh mana itu baju gak ganti. Pasti semalam kamu gak mandi ya?” Omelan Yuga hanya di tanggapi dengan santainya.


“Salahin pak Revan sana, kenapa gak sekalian di gantiin bajuku semalem.” Sebagitu santainya jawaban Billa membuat Revan malu, dan Vano malah tertawa melihat Yuga dengan ekspresi kaget.


“Pak revan itu boss elu Billa, kenapa beliau yang gantiin baju elu?” Masih dalam keadaan malu


“Di kantor doang dia boss gua, kalo di luar jam kerja kan gua yang jadi boss nya, bener gak Van?” denga santainya Billa melempar pandangan pada Vano yang hanya cengar cengir di samping Yuga.


“Ok, kalo gitu boleh dong kalau saya mandiin kamu juga?” Goda Revan yang membuat Billa tersedak.


“Huk huk, perasaan bapak kalo jadi boss kan gak minta di mandiin, kenapa jadi bapak mau mandiin aku?’ Tanya Billa yang membuat semua menjadi tertawa.


“Itu service namanya Billa sayang.” Jawab Revan yang mendekatkan diri pada Billa yang kembali asik memakan tempe gorengnya.


“Ooohhhhh, Boleh itu pak, nanti kan ada meeting. Bisa jadi saya menservice bapak mandi air dai tengah meeting. Dan kebetulan yang di ajak meeting yaitu Miss Alin dari ALPABET group.” Godaan Revan, di kembalikan penuh oleh Billa.


“Lebih baik boss mengalah sama Billa, sebelum Boss berakhir di ranjang menjadi kuda Miss Alin. Yang saya ketahui, Miss Alin itu suka Arisan.” Bisik Vano membuat Revan bergidik ngeri.


“Hahaha, masih mau lawan saya pak Revano Alibaba Sahid?” Mendengar nama lengkap bossnya di sebut, Yuga seperti mengingat sesuatu.


“Tunggu, Bukankah bapak itu suami dari Frizka? Yang tengah kita hadapi sekarang?” Yura mengingat karena pernah mendengar nama Bossnya di surat kabar menikah dengan Frizka.


“Mantan!! Saya duda.!!” Sorot mata Revan berubah menjadi mendung dan menyiratkan kemarahan yang sangat besar.


 


 


 


 


 


 


 


 


Minggu yang  cerah ya, bagaimana dengan kabar kalian para Sahabat?

__ADS_1


yang meminta Billa di pasangkan denga Revan, sabar ya sahabat - sahabat ku. Kita masih menyusun rencana pernikahan seperti apa yang akan di pakai nantinya


__ADS_2