
"Ye... di cariin dari tadi malah mojok di sini." Nadia mengagetkan Cinta dan Rizal.
"Gimana gak mojok ntu lampir lagi ngamuk takut gue tu anak nyerang Cinta lagi." Jawab Rizal.
"Heh lampir lapir lo bilang. Biar lampir tu anak tunangan lo." Rena mukul pundak Rizal.
"Udah di batalin semalem. Dia gak trima makanya dia ngamuk ke Cinta." Rizal balik memukul kaki Rena.
"Hah yg bener? Pantesan lo lengket lagi ma ni anak curut." Nadia noyor kepala Cinta.
"Eh neng. Ni kepala di fitrain ma emak gue. jangan asal noyor gitu dong."
"Eh Zal, gue tanya ni. Emang bener lo malem malem dateng ke kamar Cinta?" Tanya Rena penasaran.
"Iya gue ngerjain pr di kamar dia. itu juga biasa gue lakuin kok. Dia kan pada dasarnya gak suka sama Cinta ya apa pun tentang Cinta itu buruk di mata dia." Jelas Rizal
Bel pulang sekolah berbunyi sebelum jam 12.00. Cinta dan Rizal langsung ke kota karena Rizal ada janji dengan seseorang yg ingin berinfestasi. Sekalian untuk melihat lihat kampus dekat dengan cafe Rizal.
Rizal: Bang lo ngampus gak? gue di cafe depan.
__ADS_1
Rizal mengirim pesan ke abangnya namun tak mendapat balasan. Rizal masuk ke dalam Cafe bertemu dengan bang Arya orang kepercayaan Rizal sekaligus patner Rizal.
"Bang kenalin Cinta cewek gue." Rizal mengenalkan Cinta pada bang Rizal juga karyawan yg lain. Tak lama Rizal mendapat balesan dari abangnya.
Rama: Iya gue baru kelar kelas, gue cuss ke sono. Lo traktir gue ya.
Rizal: Makan sesukamu bang pesen sebanyak apa lo mau. Tenang ada gue, gue ajak Cinta nanti ajak dia keliling kampus lo.
Rama: Siap.
Rizal mengajak Cinta duduk di salah satu meja sebelum pesenan cinta datang. Tak lama setelah pesenan Cinta dan Rizal datang. Pak Herman datang dengan seseorang yg membuat Rizal kaget.
"Silahkan pak Bram kenalkan ini Rizal pemilik cafe Cinta ini. Bapak lihat dia masih bersekolah namun dalam dunia bisnis nak Rizal ini termasuk bibit unggul." Terang pak Herman yg terus membanggakan pemuda di depannya.
Papa Rizal sering mendengar nama Rizal di sebut sebut. Namun papanya tak menyangka bahwa yg di maksud rekan rekan bisnisnya itu adalah putranya sendiri. Senyum papa Rizal terus mengembang bangga melihat keberhasilan yg di ceritakan oleh pak Herman rekan bisnisnya.
"Pak Herman terlalu memuji saya. Saya dengan anak bapak sama. Hanya keberuntungan saja yg berbeda." Rizal merendah.
"Oh iya mana istrimu?" Pertanyaan yg membuat pak Herman kaget.
__ADS_1
"Loh nak Rizal sudah menikah?" Rizal mengangguk untuk menjawab pertanyaan pak Herman.
"Ada di meja sana pak makan siang. Sebenernya menunggu abang saya tapi katanya agak lambat karena masih ada kuis." Jawab Rizal.
"Jadi gini Her, saya setuju berinfestasi tapi saya mau Rizal membuka Cafe di hotel kita yg baru. Gimana?"
"Menarik juga, saya juga setuju. Sepertinya pak Bram mengenal sekali ya sama nak Rizal. Tapi kenapa setiap ada yg bicara soal Rizal bapak malah balik nanya?" Tanya pak Herman penasaran.
"Ya karna saya memang gak tau Rizal yg di maksud ini Rizal putra saya sendiri." pak Herman nampak kaget tak percaya.
"Papa Rizal. Kalian janjian di sini?" Tanya bang Rama.
"Pak Herman, kenalin ini anak pertama saya Rama dan yg bapak banggakan itu anak kedua saya Rizal. Mana istrimu suruh sini." Rizal mengajak Cinta menemui papa Rizal.
"Kalo ini Cinta istri dari Rizal. Saya baru inget cafe ini di ambil dari nama istrinya." Terang papa Rizal.
"Bener bener beruntung bapak punya bibit bibit unggul dalam dunia bisnis. sekarang sudah kelas berapa?" Tanya pak Herman.
"Kami kelas 3 SMA pak sebentar lagi lulus." Jelas Rizal
__ADS_1
"Remcana kalian kuliah di mana?" Tanya papa Rizal.
"Rencana di depan pa, Cinta ambil kedokteran dan Rizal ambil bisnis bareng abang.