Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Siapa yang hamil?


__ADS_3

Malam ini Revan dan Billa sudah sampai di kediamannya sendiri. Billa yang sangat lemas hanya di ijinkan untuk tiduran di kamar. Revan yang tengah khawatir cuma di pesenin untuk beli one mate di apotek.


Revan menyuruh pembentunya untuk membuatkan bubur. Sedangkan Revan sendiri membeli apa yang di pesankan oleh sang mertua yang notabene nya seorang dokter. Sesampainya di apotek dekat rumah, Revan meminta pada petugas untuk di berikan one mate.


“Mbak one mate satu.” pinta Revan, yang di iyakan tetapi di barengi dengan senyuman dari pegawai apotek tersebut.


“Apa lagi pak?” Tanya sopan pegawai itu dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya.


“itu saja mbak.” Revan mengulurkan uang lima puluh ribuan pada seorang pegawai yang melayaninya.


“Lima ribu saja tidak ada kah pak?” Tanya pegawai itu karena mersa uang yang di sodorkan oleh Revan terlalu besar.


“Berapa mbak?” Tanya Revan merasa sedikit heran,.


Obat apakah ini? Kenapa murah sekali? Batin Revan yang memicingkan matanya.


“Lima ribu rupiah pak.” jelas sang pegawai dengan ramah pada seorang Revan yang terlihat sekali kebigungannya.


“Ini obat apa mbak? Mbak jangan main - main, istri saya sedang lemas dan gak kuat apa - apa. Tapi embak malah mempermainkan saya seperti ini.


“Bapak mencari one mate kan? Ya ini yang bapak cari. Dan untuk harganya ya, memang ini hargaya murah. Kalau bapak mau yang lebih mahal, ada namanya sensitive. Harganya tiga puluh ribuan dan kegunaannya sama. Bahkan one mate sudah pasti lebih akurat. Dan sekali lagi, ini bukan obat pak. Ini alat mengetes kehamilan. Jadi mau istri bapak lemes atau sehat ya gak ada pengaruhnya juga.” Jelas pegawai tadi dengan sedikit gemas dengan Revan yag tak tau apa - apa tapi mulutnya sangat pedas sekali.


“Apa embak bilang tadi? Ini…. ini….???” Revan yang tadinya marah - marah tak jelas. Kini malah terlihat seperti orang gila yang senyum - senyum sendiri.


“Iya bapak, ini alas untuk mengetes kehamilan,” ucap pegawai itu seakan mengerti kebahagiaan seorang yang mendengar istrinya akan hamil.


“Ya sudah kalau begitu kasi saya ini lagi satu dan sisanya buat embak saja. Dan ini saya tambahin lagi.” Revan memberikan beberapa lembar uang lima puluhan untuk pegawai tadi.


“Ini kebanyakan pak,” Pegawai itu merasa uang yang di berikan kepadanya sangatlah banyak.


“Gak apa - apa mbak, saya iklas.” Revan segera mengambil apa yang di belinya lalu pulang dan menemui sang istri yang masih terbaring lemas di atas tempat tidurnya.


***


Sesampainya di rumah, Revan langsung mencari istrinya dalam kamarnya. Revan langsung mencium tangan sang istri yang tengah terlipat di atas perut ratanya.


“Billa, apa yang kamu rasakan saat ini sayang?” Tanya Revan yang kini duduk di samping Billa berbaring.


“Aku sangat lemas saja sayang, dan rasanya sedikit mual. Perutku kaya aneh rasanya.” Billa terus mengeluhkan perutnya yang terasa gak karu - karuan.


“Aku antar ke kamar mandi, dan coba kamu tes dulu pakai ini.” Billa yang memang tau apa kegunaan alat yang di beli oleh sang suami.


“Ya sudah, tapi kalau hasil tesnya gak sesuai dengan harapan mu, aku mohon jangan kecewa. Berarti kita memang masih belum di percaya oleh Allah untuk menjaga titipan-Nya.


“Apapun hasilnya, aku sudah siap sayang. Asal sekarang aku bisa mengambil tindakan untuk sakitnya kamu saja.” Revan tersenyum dengan apa yang di sampaikan oleh sang istri.


“Makasih sudah percaya sama aku dan juga sudah mencintaiku tanpa meminta balasan selama ini. Aku akan berusaha untuk belajar mencintaimu,” ucap Billa dengan menangkupkan kedua tangannya di wajah lelaki yang kini tengah menghawatirkannya.


“Cintaku hanya membutuhkanmu berada di sisiku. Bukan balasan yang akan menyakitimu nantinya.” Revan mencium kening sang istri untuk menguatkan hatinya.


Billa masuk ke dalam kamar mandi dan menggunakan tespek yang di belikan oleh sang suami. Setelah mengetahui hasilnya, Billa keluar dengan wajah lesunya.


Melihat wajah lesu sang istri, Revan malah tersenyum menguatkan hati sang istri. Billa masih belum memberi tahu hasil dari tes yang di lakukan Billa. Revan berusaha berbesar hati dan buakannya lelah, tapi Revan terlihat makin menyayangi Billa.


***


Seminggu sudah dari kejadian di Bandung. Billa mengajak Revan untuk berkunjung ke rumah sang mama dan papanya. Billa terlihat sangat manja jika sudah di tengah - tengah orang tuannya. Terutama pada kedua Abangnya.


“Lu beneran sudah sehat?” Tanya Kliene yang memperhatikan wajah pucat sang adik di balik kerudung meski sudah menutupinya dengan make up.


“Beneran Bang, ini sekarang juga udah seger. Tadi pagi - pagi sekali Revan masakin nasi goreng sosis, borkoli sama sayur - sayuran kesukaan Billa.” Jawab Billa yang membuat kedua abangnya tenang dan percaya kembali pada seorang Revan sang adik ipar.


“Queen mana Vin?” Tanya Kliene yang duduk di samping Billa.


“Tidur di rumah, dari semalem dia terus muntah - muntah. Gak tau apa maunya, minta ini minta itu tapi gak mau di makan,” ucap Levin yang sedikit jengkel.


“Udah lu periksain?” Tanya Kliene yang mendengar dengan seksama cerita sang adik kembarannya.


“Dianya gak mau bang, ya udah gua biarin dia tidur. Selama dia bisa tidur,” ucap Levin santai sambil menyantab brownis kesukaan mereka bertiga, buatan sang mama.


“Queen hamil gak sih Bang?” Tebak Billa yang langsung membuat Kliene dan Levin membulatkan matanya bersamaan.


“Ngapa gua kagak kepikiran ke sono ya?” Levin memukul keningya seakan melupakan sesuatu.

__ADS_1


“Ya elu kan emang ogeb Levin!!” Kliene ikut memukul kepala sang adik kembarnya lalu mendorongnya untuk beranjak dari duduknya.


Kliene, Levin dan Billa kini sudah berada di kamar Levin. Queen yang tengah tidur pun di bangunin secara paksa oleh sang suami dan kedua iparnya.


“Kenapa ramai - ramai kemari? Emank gue lagi kenapa?” Tanya Queen bingung dengan kehadira ketiga orang kakak beradik di kamarnya.


“Abang Kliene cuma mau meriksa kamu sayang,” Levin yang dulu malu - malu, kini malah melu - maluin masalah mesra - mesraan di hadapan kedua sodaranya.


“Aku kan cuma masuk angin sayang,” ucap Queen yang sedikit keberatan dengan apa yang sampaikan oleh suaminya.


“Udah nurut aja,” Kini Kliene lebih tegas dengan segera mengambil stetoskop yang di bawanya.


“Santai sayang, ini juga demi kamu.” Levin mencoba membujuk sang istri aga mau di periksa.


“Sekarang coba pakek ini tes dulu.” Kliene menyerahkan sebuah alat yang sama dengan Billa gunakan beberapa hari yang lalu.


Queen dengan langkah malas pergi ke kamar mandi. Setelah melakukan pengetesan Queen langsung menyerahkan pada sang suami. Saat melihat hasil tesnya, Levin langsung lompat - lompat kegirangan saat mendapati dua garis merah pada alat pipih kecil yang di gunakan Queen tadi.


“Sante ngapa bang, kek gak pernah aja,” ucap Billa mengambil alat tespeck yang di gunakan oleh Queen tadi.


“Lu gak tau si Bill, berapa lama penantian gua buat dapetin dua garis ini. Mana anak gua di monopoli mertua gua. Katanya kalo mau punya adek, harus sering - sering nginep di sono.” Jelas Levin sedikit frustasi.


“Cih, gitu doang. Gua sampek ganti laki dua kali baru dapetin juga biasa aja,” ucap Billa santai namun tidak dengan ketiga orang di depannya.


“Lu hamil Bill???” Tanya ketiga orang di depannya, tapi Billa hanya mengangguk santai di hadapan mereka bertiga.


“Gilla!!! Gitu kenapa si Revan diem aja kaya gak ada apa - apa gitu,” ucap Levin yang merasa sedikit jengkel karena sang Adik iparnya menyembunyikan hal sebesar ini darinya.


“Dia aja gak tau.” Sekali lagi jawaban santai dari Billa membuat ketiga orang yang heran itu hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.


“Serius dia gak tau?” Tanya Kliene memastikan kegilaan sang adik.


“Iya lah, dia gak tau. Kalo dia tau, mana mungkin gua di kasi buat bapergian. Gini aja masih harus sama dia kalau mau kemana - mana.” Jawab Billa menjelaskan.


“Seposesif itukah kulkas berjalan itu?” Tanya Levin yang mendapat pukulan dari sang istri.


“Sayang bisa ngatain orang kulkas berjalan, emank sayangnya Queen gak sadar kalo kamu itu freezer berjalan?” Queen menyadarkan kedinginan sang suami yang di tertawai oleh Billa dan juga Kliene sang saudara kembarnya.


“Heran ya kalian berdua itu kan kembar, tapi kenapa kalian berbanding terbalik ya?” Tanya Billa pada kedua abangnya.


“Lagian ya Bill, mata uang aja ada dua sisi yang berbeda. Masak kita kembar harus sama sih?” imbuhnya lagi.


“Nyerah ngomong sama abang mah,” Billa meninggalkan kamar sang abang dan istrinya.


Kliene dan Levin tertawa di dalam kamar bersama Queen yang merasa sedikit baikkan setelah mengetahui dirinya tengah hamil anak kedua.


Billa yang kini sudah sampai di rumah orang tuanya segera mencari suaminya yang tengah menikmati jus jeruk bersama sang mertua di taman belakang.


“Di cariin juga malah asik ngobrol di sini,” ucap Billa yang melihat kedua lelaki tampan yang paling di sayangi saat ini tengah menikmati minumannya masing - masing.


“Nyariin suamimu itu mau ngapain sih?” Tanya Rizal menggoda sang putri.


“Lagi pengen di ambilin kelapa itu pa, kayaknya seger deh.” Billa menunjuk kelapa kuning di belakang papa dan suaminya duduk.


“Permintaanmu ada - ada aja Bill, kaya orang ngidam aja.” kata Rizal pada putrinya.


“Emang ngidam 'kan, jadi ya wajarin aja pa,” ucap Billa santai.


“Huum pa,” Revan tak sadar dengan perkataannya.


“Eh tunggu, kamu ngidam?” Tanya Revan tak percaya yang membuat Rizal memicingkan matanya.


“Kamu gak tau kalau istrimu hamil?” Tanya Rizal keheranan.


“Enggak Pa, Billa gak ada bilang ke Revan masalah ini.” Revan masih dalam ketidak percayaannya.


“Bener gak sih Bill?” Tanya Revan lagi yang sekarang sudah tak mempu menahan senyumannya.


“Iya,” Jawab Billa singkat.


“Sejak kapan kamu tau??” Tanya Revan lagi membuat Rizal teringat akan pengalaman pertama saat Cinta mengatakan kalau dirirnya tengah hamil.


“Ya pas kamu beliin tespak waktu itu.” Jawab Billa malu - malu.

__ADS_1


“Kenapa kamu gak ada bilang ke aku sayang?” Kata Revan membuat Billa malu pada papanya.


“Kan kamu gak ada tanya.” Revan langsung memeluk sang istri.


Ehem


Deheman sang mertua membuat Revan tersadar jika dirinya sedang tidak berdua saja.


“Cepet ambilin itu kelapa mudanya, sebelum cucu ku ileran entar.” Perinta Rizal sebelum meninggalkan kedua orang yang kini tengah berbahagia.


“Siap komandan,”Jawaban Revan sukses membuat sang mertua tertawa lepas.


Rizal berjalan ke dalam rumah dengan masih mengembangkan senyumannya, dan berpapasan dengan Ayu menantu pertamanya.


“Papa kenapa senyum - senyum sendiri gitu sih?” Tanya Ayu merasa heran.


“Itu Billa hamil gak bilang ke suaminya. Giliran ngiam malah ngerjain suaminya.” Jelas Rizal masih dengan senyuman yang terus mengembang.


“Wah, bisa gitu barengan,” ujar Ayu yang juga kegirangan.


“Barengan?” tanya Cinta yang tak sengaja mendengar perbincangan menantu dan mertua itu.


“Iya, barengan dengan siapa?" Tanya Rizal yang semakin penasaran.


Ayu tidak menawab pertanyaan mertuanya, tapi malah menunjukkan benda pipih kecil tipis juga sidikit panjang yang menunjukkan dua garis merah.


“Kamu hamil juga?” Tanya Cinya yang mengetahui apa arti dari kode pada benda tersebut.


“Iya ma, Ayu sudah telat sekitar semingguan, makanya gak tenang. Jadi tadi Ayu tes dan itu hasilnya. Niatnya Ayu mau nunjukin ke abang dulu, tapi orangnya gak ada.” Jelas Ayu.


“Kenapa pada diem di sini sih? Ngalangin tau,” ujar Billa yang kebetulan lewat di pintu yang sebenarnya masih cukup luas jika untuk di lewati Billa dan suaminya.


“Bumil sewot aja sih,” Goda Rizal sang papa membuat Cinta senyum - senyum menatap sang putri dan juga menantunya.


“Ini loh sayang, Mbak mu juga lagi hamil.” Cinta menunjukkan hasil tes Ayu pada Billa.


“Gilaaaa!! sumpah ini beneran gila mama. Kita bertiga hamil di bulan yang sama!!” seru Billa membuat keempat orang yang tak tau apa - apa itu hanya melongo.


“Maksudnya, Queen juga hamil?” Tanya Cinta yang tak tau harus bagai mana lagi meluapkan kebahagiaannya.


“Iya ma, Queen juga hamil. Barusan aja bang Kliene yg meriksa Queen, katanya dari semalem Queen muntah muntak aja dan sekarang males bangun.” Jelas Billa yang juga tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Billa menikmati buah kelapa muda beserta airnya yang di tuang di dalam mangkuk. Sedangkan Ayu lebih suka untuk masak di dapur, jika di dekati untuk membatunya. Maka Ayu akan langsung menangis.


Queen dan Levin juga Kliene kini sudah duduk di samping Billa yang tengah menikmati makanannya.


“udah tau laki lu Bil?” Tanya Kliene yang melihat sang adik ipar semakin terpancar sara bahagiannya.


“Tau dong, bahkan. Mbak ayu hamil juga dia tau.” Ucap Billa santai.


“Apa???” kaget ketiga orang yang baru datang itu.


“Iya, memang iya.” Jawab Billa lagi.


Sedangkan Cinta dan Rizal selaku orang tua mereka hanya bisa tersenyum.


“Kalian Bertiga ini buatnya janjian ya? Kenapa hamilnya jadi barengan gini?” Tanya Cinta heran dan ketiga lelaki muda itu hanya saling berpandang sebelum akhirnya tersenyum barengan.


 


 


 


penulis: bikinnya kode kodean pakek vc,


Levin: ngapa otak lu ke sono sih thor? kalo vc an gimana bikinnya?


penulis: tuang tepung, telur gula jangan lupa isi pengembang biar embul anak anak kalian.


Levin: ya salaaaaaam ternyata Queen itu dapet ilmu dari elu thor? udah otaknya di bawa udang, gurunya masih adik sperguruan wiro sableng.


penulis: auk, ngantuk gua.

__ADS_1


Levin: baru sadar gua kenapa ini novel gak karuan, lah penulisnya suka mendonasikan otaknya ke lahan amal.


__ADS_2