
Billa menjemput Revan tepat tengah malam. Billa membawa Revan ke kamarnya karena kamar Billa memang tersedia dua ruangan. Yaitu ruangan inti dan ruangan ke dua yang ukurannya tak lebih besar berada di lantai dua.
"Bapak mau makan apa?" Tanya Billa basa basi.
"Mau makan kamu." Jawab Revan jengkel.
"Silahkan kalau bapak berani memakan istri orang." Jawab Billa menantang.
"Jangan memancingku Billa. Mana suamimu?" Tanya Revan mencari sosok Sandi suami Billa.
"Menemani tunangannya." Jawab Billa malas dan menjatuhkan diri di sofa belakangnya.
"Billa kita cuma berdua dan kamu baru menikah, apa kamu tidak takut suami kamu berfikiran yang macam macam?" Tanya Revan duduk di atas ranjang yang berantakan karena di tiduri Billa.
"Bagus dong pak, jadi Billa bisa fokus bekerja bersama bapak." Jawab Billa santai lalu berjalan ke arah Revan dan duduk di sebelahnya.
"Oh ok, kalau begitu sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Revan mengangkat salah satu alisnya.
Belum sempat Billa menjawab, bel kamar Billa berbunyi. Revan berinisiatif untuk membuka karena dia tau Billa tidak akan pernah mau membuka pintu. Betapa kagetnya Revan melihat Sandi di depan pintu. Rasa canggung memenuhi ruangan ketika Sandi masuk ke dalam kamar.
"Siapa yang datang pak?" Tanya Billa dari kamar mandi.
"Lihat saja sendiri." Jawab Revan dengan sedikit meninggikan suaranya.
Billa keluar kamar sudah mengenakan baju tidur warna biru muda bermotif doraemon yang baru tadi siang dia beli.
__ADS_1
"Sandi." Kaget Billa melihat sosok suaminya duduk di samping bossnya.
"Kenapa kaget? apa kalian akan tidur sekamar?" Tanya Sandi penuh curiga.
"Kalo sekamat iya tapi saya di kamar atas Billa di sini." Terang Revan menjawab pertanyaan Sandi yang penuh curiga.
"Ok kalo gitu, selamat malam." Sandi beranjak dari duduknya dan hendak pergi.
"Mau kemana lu San?" Tanya Billa menghentikan langkah Sandi.
"Pulang ke Singapura, gue minggu depan sudah mulai masuk kuliah dan Frizka juga sudah pulang ke Indonesia." Jelas Sandi.
"Istirahatlah dulu semalam, besok baru balik Singapura. Gue tau lu gak bisa capek orangnga." Kata Billa yang mengingat Sandi dulu yang sering kecapek an.
"Wo wo wo sepertinya sayalah yang harus pergi, Bill selesaikan masalah kamu dan cepat kembali ke Jerman, perusahaan menantimu." Revan berjalan keluar kamar meninggalkan pasutri yang baru menikah namun tidak pernah akur.
"Kasih gue kesempatan Bill, gue mau memulai semua dari awal." Ucapan Sandi meluluhkan hati Billa.
Billa mendekati Sandi dan memegang tangannya. Billa takut untuk memulai jika harus untuk berakhir tak pasti lagi. Billa belum bisa melupakan betapa cintanya dia kepada Aris.
"Kalo gue kasih lu kesempatan, Frizka gimana?" Tanya Billa, menatap mata Sandi mencari keberadaan dirinya saat ini.
"Aku memilihmu sebagai wanitaku, menemaniku menghabiskan waktu bersamaku. Menunggu tua dan mati." Ucap Sandi mencoba meyakinkan Billa.
"Jangan ada kata mati dulu San, aku masih punya hati untuk memikirkan Frizka. Bisakah kau juga menikahinya?" Tanya Billa.
__ADS_1
"Gak akan pernah. Aku bukan manusia serakah Billa. Aku juga bukan buaya darat. Aku Sandi suamimu, jangan pernah menyuruhku untuk membagi apapun yang hanya akan aku beri padamu. Jujur aku tidak akan bisa adil. Karena apa yang aku beri ke kamu itu akan sangat berlebih." Ucapan Sandi membuat Billa tak mampu menahan rasa bahagianya.
"Bisakah jangan ada Frizka lagi di antara kita jika kamu memilihku?" Tanya Billa menyembunyikan wajah merahnya di dada bidang suaminya.
"Bisa. Aku pastikan itu." Sandi membalas pelukan Billa.
Malam berganti pagi, Billa terlihat masih setia dalam mimpinya saat Sandi terbangun. Sandi memandangi Billa tak percaya bahwa perasaan yang dulu ada bukanlah Cinta, Tapi takut kehilangan. Bisa di bilang Sandi terobsesi pada Billa sejak pertama bertemu. Sandi berjalan menuju kamar mandi, membasuh mukan lalu memandangi diri sendiri di pantulan cermin.
"Pilihan sudah pasti Billa, lu harus bisa setia Sandi. Hapus Frizka dari hidup lu sekarang." Kata Sandi mantab pada dirinya.
Sandi keluar kamar mandi dan mendapati Billa sudah merapikan tempat tidurnya.
"Pagi Billa." Ucap Sandi dengan senyuman.
"Pagi juga suami." Ucapan Billa membuat wajah Sandi memerah.
"Bill, lu masih belum bisa masak?" Tanya Sandi mengingat kebiasaan sang istri.
"Masih, ngapa emang?" Tanya Billa sedikit sensitif.
"Ya sudah, sepertinya gue harus kerja lebih giat lagi. Lu mandi gih baru kita turun cari makan. Gue laper." Kata Sandi membuat Billa semakin yakin kalo Sandi juga tidak bisa masak.
"Oh Tuhan, jangan katakan lu juga gak bisa masak Sandi." Tebak Billa yang di angguki oleh Sandi.
"Haahahahha ok ok gue mandi abis itu kita cari makan." Billa melangkah ke kamar mandi, sedangkan Sandi membuat minuman hangat untuknya juga istrinya.
__ADS_1