
"Mas bangun, kebiasaan ih abis sholat subuh tidur lagi. Mas... Cinta ada kelas pagi ini lo, kamu mau anterin ato aku naik ojek?" Mendengar Cinta mau naik ojek Rizal pun langsung membuka matanya.
"Kenapa harus naik ojek sih? Enak bener tukang ojeknya di pegang pegang ma kamu. Mas anterin tunggu sebentar." Rizal langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Cinta menunggu di meja makan sambil menyiapkan sarapan. Rizal memang posesif terhadap Cinta. Selain trauma mengendarai motor Rizal juga tak ingin istrinya bersentuhan dengan lawan jenis.
"Yang ayo berangkat." Ajak Rizal dengan membawa tas kerja juga tas kuliah.
"Banyak bener bawaanmu mas? Sini aku bawain tas kerjanya." Cinta berniat mengambil tas kerjanya Rizal namun tak di izinkan.
"Sayang, ini berat biar aku bawa sendiri." Larang Rizal dengan mencium pipi istrinya.
"Udah tau berat tapi gak mau di bantuin. Udah gak berguna aja aku jadi istri, gak bisa ringanin beban suami." Gerutu Cinta membuat Rizal tersenyum.
"Kalo mau ringanin bebanku cukup dengan terus bersamaku. Di sampingku mendukung ku. Jangan pernah pergi ninggalin aku. Itu bisa buat beban untukku. Memberikan kebahagiaan untukmu adalah tugasku."
"Dan melayani kamu adalah tugasku mas, jadi apa salahnya aku membantumu membawa tas?" Tanya Cinta yg memotong omongan Rizal.
"Kamu cukup melayani ku bukan membawa barangku. Aku gak mau kamu capek lecet ataupun terluka. Sudah intinya bukan aku gak mau kamu melayani ku dengan membawa tasku tapi aku mau kamu bahagia bersamaku bukan membawa beban bersamaku." Pungkas Rizal sambil berjalan keluar rumah menuju mobilnya.
Cinta dan Rizal berangkat ke kampus bersama. Rizal mengantar Cinta terlebih dulu sebelum dia memarkir mobilnya di area fakultas bisnis. Fakultas kedokteran dengan bisnis memang beda gedung. Karena di fak kedokteran lebih banyak lab untuk uji praktik.
Rizal menghampiri abangnya yg duduk di bangku taman. Bang Rama yg sedang berkumpul dengan teman temannya membahas tentang camping yg di adakan sabtu depan.
"Ikut yuk Zal camping, ajak Cinta juga. Rena juga ikutan nantik." Ajak bang Rama.
"Kapan emangnya bang?" Tanya Rizal sambil mengeluarkan ponselnya yg bergetar.
"Sabtu depan, lo gak ada acarakan?" Sahut Toni teman bang Rama.
"Kebetulan kosong sih, tapi gak tau Cinta bisa apa enggak." jawab Rizal sambil focus pada benda pipih keluaran terbaru.
__ADS_1
"Iya juga ya, kalo Cinta sama Rena gak bisa kan ada abang dek." Terang bang Rama.
"Kalo Cinta gak bisa ya Rizal gak ikut bang." Terang Rizal masih focus pada layar hpnya.
"Bucin banget sih lo jadi lakik." Sahut Maya yg sedari tadi duduk di samping Lina dan Toni.
"Bukan bucin May tapi gue cuma mau memperkecil kesempatan buat orang ke 3 masuk dalam kehidupan gue sama cewek gue." Mendengar itu Maya menjadi Ciut nyali untuk menggoda Rizal.
"Emang gitu ya cowok kalo lagi gak sama pasangan? Bisa gampang tergoda?" Tanya Lina mencoba menggoda Rizal.
"Gak semua laki kaya gitu. Tapi kalo di goda laki laki sekuat apapun pasti tergoda. Maka dari itu lebih baik menghindari dari pada menyakiti. Kalo sudah mulai tergoda itu gak cuma menyakiti pasangan tapi juga akan menyakiti diri sendiri. Susah kalo itu, bisa bisa kita salah pilih. Makanya sebelum menentukan pilihan itu pikir mateng mateng jangan cuma menang tampang doang." Jelas Rizal membuat Lina jengkel.
"Zal, hp lo ganti lagi?" Tanya Mondi teman bang Rama yg di panggil Momo.
"Iya bang yg kemaren keujanan gak mau nyala. Jadinya di tuker, minta nomer lo dong bang. Semua kontak ilang." Jelas Rizal.
"Anak orang tajir mah bebas" Celetuk Maya.
"Iya ya Ram, adik lo tajir melintir kok lo madesu dih? Apa jangan jangan lo itu anak pingut di tong sampah depan kompleks." Celetuk Angel
"Sembarangan lo kalo ngomong, gua sambit bunting lo."
"Bang omongannya di jaga, entar ada setan lewat beneran bunting tu anak. Mau lo punya bini 2 terus tiap hari di garuk sama si Rena?" Omongan Rizal membuat abangnya bergidik namun di ketawain sama teman teman lainnya.
"Di garuk mah ogah, kalo kawin lagi sih mau."
"Dih siapa juga yg mau sama lo. Madesu." Jawab Anggel sembarangan.
"Itu mah niatan lo bang. Kaya yg bisa adil aja. Bang dari pada lo di katai madesu terus mending urus noh cafe gue yg di Bandung. Trauma gue kesono, masih keinget Cinta keguguran di sono bang." Jelas Rizal membuat Lina dan Maya melongo mendengar kata keguguran.
"Yg jauh aja lo kasih gue, Ya udah gue ambil. Tapi lo jangan terus terusan mikir itu aja Zal kasian Cinta." Ucapan bang Rama hanya di angguki Rizal.
__ADS_1
"Cafe? Lo punya usaha Cafe Zal?" Tanya Angel.
"Iya noh cafe depan itu kan milik Rizal." Terang Momo
"Wah hebat lo Zal. Mau dong jadi nyonya Rizal." Terang Maya.
"Udah di bilang soul out May, masih aja ngarep."Rizal mempermaluka Maya.
"Udah udah kalian ini malah ngelantur. Lagian May, jangankan dia naksir elo. Liat Cinta bales chat dari cowok aja Rizal udh kebakaran jenggot." Terang bang Rama.
"Bucin gitu gak mau di bilang Bucin. Hmm aneh lo Zal." Timpal Toni.
"Serah elo dah, Cuma gue mau mempertahankan doang bang. Menghargai usaha gue dulu mati matian gue ngeyakinin orang tua gue sama orang tua Cinta." Terang Rizal.
"Iya usaha lo yg drama itu ya, sampek sampek manjat balkon kamar Cinta terus kepergok mama tengah malem ke kamar cewek. Akhirnya di nikahin besok paginya." Keterangan abangnya membuat Rizal melempar buku padanya.
"Sekalian aja lo bilang pernah mergokin gue sama Cinta di kamar bang. Dasar rese lo ya." Gerutu Rizal yg membuat tawa abangnya pecah mengingat kejadian di kamar tempo dulu.
"Iya inget gue, yg itu kan.."
"Diem gak lo bang. Gue sambit juga lo bang kalo gak mau diem."
"Iya iya gue diem. Cuma gue yg tau ekspresi Cinta saat itu... Buakakakakakak." Ucap bang Rama sambil tertawa lepas.
"Gila ada apa sih, masak lo berani ena ena sama cewek lo?" Tanya Momo penasaran.
"Gue udah nikah kali sama dia. Jadi udah halal mau gue apain juga. Cuma ni orang aja yg rese maen nylonong aja bertamu ke rumah orang." Jelas Rizal dengan wajah jengkelnya.
"Jadi lo udah nikah?" Maya memperjelas ungkapan ungkapan yg buat dia melongo.
"Iya udah setahun malah."
__ADS_1