Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Lemas


__ADS_3

Hari ini tepat sebulan Billa berhenti kerja. Levin dan Queen berencana untuk mengajak berlibur adiknya ke Bali untuk berlibur. Namun di tolak oleh Revan, karena saat ini banyak kerjaan yang gak bisa di tinggal olehnya dan juga Billa.


“Kenapa gak Billa sendiri aja sih yang ikut yang?” protes Queen saat sudah di rumah mereka.


“Mereka berhak menolak dan juga berhak menerima ajakan kita sayangnya Levin.” Dengan gemas Levin mencubit hidung mancung sang istri.


“Mama, Al mau ikut oma Cinta ke Bandung ya?” Tanya Al yang membuat Queen kaget.


“Kenapa putri kesayangan papa gak pernah mau diem di rumah sih? Apa mama jahat ya?” Tanya Levin dengan pukulan di lenganya dari sang istri.


“Enggak kok Pah, cuma moma bilang. Kalo Al mau adik bayi, maka Al harus sering - sering ikut oma sama opa.” Jelas Al polos.


“Memangnya Al mau adik bayi?” Tanya Queen yang di angguki dengan semangat oleh Al.


“Tapi Al itu gak harus kok ikut opa atau oma terus gitu. Papa sama mama akan berusaha memberi adik buat Al tanpa harus nginep sana sini setiap hari.” Jelas Levin dengan lembut pada putri semata wayangnya.


“Benarkah papa?” Al meyakinkan perkataan papanya.


“Benar sayang.” Queen mencium lembut pipi putrinya.


“Tapi Al tetep mau ikut ke Bandung bareng Oma sama Opa. Soalnya Bagas Agas, sama Baska ikut juga pa.” jelas Al penuh semangat.


“Ya sudah kalu mereka ikut, mama sama papa ijinkan. Tapi inget gak boleh nakal ya sayang.” Al mengangguk penuh semangat.


“Mama papa Al yang terbaik. Ilave yau.” Al mencium kedua orang tuanya.


Sepeninggalan Al, Levin memberi kode kepada sang istri. Namun kode itu meleset rupanya.


“Mau kemana Queen?” Tanya Levin yang melihat Queen keluar dari rumah.


“Mau ke rumah mama SAyang, aku kok kepikiran sama Al ya. Siapa gitu yang ngajarin dia ngomong kek tadi. Queen berasa kek ngebuang Al sayang.” Queen khawatir yang berlebihan pada putrinya.


“Ada mama sayang, makanya cepet kasi dia adik biar betah di rumah.”Levin yang memeluk Queen yang masih di pintu.


“Yakin dengan kita memberinya adik, Al akan betah di rumah?” Tanya Queen yang masih meragukan.


“Yakin.” Bisik Levin di ceruk leher Queen.


“Paling bisa ya kamu sayang.” Queen menutup pintu rumah karena tangan Levin sudah tak bisa diam di tempatnya.


Di rumah keluarga Rizal ternyata hanya ada Billa dan Revan yang di tinggal berdua. Ayu dan Kliene memilih pulang ke rumah orang tua Ayu yang jaraknya tak jauh dari klinik Kliene berdiri.


“Billa,kemana yang lain?” Tanya Revan yang baru saja pylang kantor.


Semenjak Billa berhenti kerja, Revan selalu pulang jam empat sore. Jika ada meeting di jam itu, Revan memilih untuk mengundur atau membatalkan. Revan benar - benar tidak mau membuang lebih banyak waktu lagi untuk meninggalkan Billa.


“Mama sama papa ke bandung dengan krucil - krucil. Kalau bang Kliene sama mbak ayu ke rumah orang tuanya mbak Ayu.”Ujar Billa.


“Aku kangen sayang,” Revan memeluk Billa dan menyandarkan dagunya di pundak Billa yang lagi duduk di depan meja riasnya untuk memasang jilbabnya.


“Aku juga, ternyata kalo di tinggal seharian kangen juga ya.” Billa tersenyum pada Revan dengan membenarkan kerusung yang sedikit tertarik oleh Revan.


“Pulang ke rumah sendiri yuk sayang. Aku pengen menghabiskan waktu kita bersama tanpa sungkan.” Jujur Revan yang selalu merasa sungkan pada anggota keluarga yang lain.


“Tunggu mama sama papa balik dari Bandung ya sayang. Sabar dulu,” Billa meladenin kemanjaan sang suami.


“Sudah sholat kamu sayang?” Tanya Billa yang di angguki oleh Revan.


“Udah sayang, tadi bareng sama Vano dan juga Yuga.” Revan tetap bermanda pada Billa yang berniat akan memasak untuk Revan makan malam.


“Aku mau masak sayang,” Billa mencoba melepaskan pelukan sang suami namun malah semakin erat.


“Kita deliv aja, aku masih mau ilangin kangen.” Revan membalikkan badan Billa untuk mencium dahi sang istri.


“Jangan mulai deh, Billa baru saja selesai mandi sayang.” Billa mau menjauhkan diri namun Revan masih menahannya.


“Bilang dulu, kalo kamu cinta sama aku. Nanti aku lepasin,” ucap Revan dengan nada memaksa dan mengacam.


“Diiiihhh maksa,” Billa menggoda Redan dan langsung di lepaskan oleh Revan.


“hemm, Iya. Billa cinta sama Revan kalo gak menikah lagi. Billa sayang sama Revan kalo nurut sama Billa.” Kini gantian Billa yang memeluk Revan.


“Benarkah?” Tanya Reva tak percaya Billa dengan manis mengatakan Cinta padanya.


“Benar, dan Billa akan selalu mendampingi Revan dalam suka maupun duku. Tapi ketika sekali lagi ada wanita yang datang pada Revan, Bila akan pergi meninggalkan Revan selamanya.” Billa memeluk erat tubuh besar dan tinggi kekar milik Revan.


“Gak akan ada lagi, cukupkan semua disini. Jangan pernah berharap ada yang lain menjadi jarak di antara kita.” Revan menunduk menyatukan dahinya dengan dahi sang istri seraya berjanji setia.

__ADS_1


Kedua suami istri yang tengah larut dalam lautan asmarah di senja hari pun membuat pertahanan luluh dengan desahan kenikmatan.


Sedangkan di sisi lain, rumah samping. Seorang Queen yang tengah memasak makan malam pun mencoba menggoda sang suami yang hanya menungguinya sedari tadi, tanpa berniat membantu.


“Vin, kalo di pikir - pikir. Kita itu berasa pengantin baru terus ya?” peryataan Queen membuat Levin mengerutkan dahinya.


“Kenapa begitu?” Tanya Levin heran.


“Kamu itu masih sering cemburu ke aku.” Kata Queen dengan senyuman gelinya.


“Itu tandanya aku cinta dan sayang sama kamu.” Levin mencium leher belakan Queen yang terpampang jelas.


“Iya kah? Berarti aku gak cinta sama kamu dong? Kan aku gak pernah cemburu sama kamu.” tanya sendiri, Queen juga menjawab sendiri.


“Ya udah kalo gitu, aku mau nyari istri baru.” Levin melepaskan pelukannya lalu berjalan meninggalkan Queen yang tengah mangangkat masakannya.


“Silahkan, aku juga mau cari bapak baru buat Al.” Dengan santai Queen mambalas perkataan Levin.


“Gak boleh,” Hampir jatuh sayur yang di pegang oleh Queen gara - gara Levin menyerangnya dengan tiba - tiba.


“Udah sana pergi cari istri baruuu,” Goda Queen yang masih setia   dengan masakannya yang tersaji di atas meja.


“Enggak, cukup kamu aja.” Levin semakin mengaratkan pelukannya.


“Ihhhh engap tau, sono lo jauh - jauh. Katanya mau cari istri baru.” Queen membenarkan rambut yang di ikat tinggi miliknya.


“Jangan Macem - macem kalo kamu gak mau aku di penjara,” uap Levin dengan nada sedikit tegas.


“Kenapa di penjara?” Tanya Queen yang mendudukkan Levin di kursi makannya.


“Ya,karena aku akan membunuh siapapun yang mendekatimu.” Ucap Levin yang membuat Queen tertawa.


“Dih, emang nyawa orang kek balon? Segampang itu di letusin. Tinggal tusuk meledak. Mending tusuk hati adek bang, kan makin cinta adeknya.” Rayu Queen yang masih dalam mode gombalan on.


Bila asmarah ku ‘tlah tiba


Merenggut nyawa di jiwa


Itu dia yang datang


Menghadirkan cemburu.


Dapatkah dia merasakan


Satu nafas yang tersimpan


Itu bukan cinta sekedar cinta biasa


Yang sesaat dan trus menghilang.


Levin melanjutkan liriknya dengan menggoda Queen.


Dapatkah aku memeluknya


Giliran Queen melanjutkan liriknya tapi Levin langsung menjawabnya.


“Silakan sayang, peluk aku sepuasmu.”


“Dih ngarep kamu mah sayang.” jawab Queen dengan sedikit mendorong dada Levin yang merentangkan tangannya.


“Beneran sayang, aku gak akan menolakmu.” Levin mengejar Queen ke dalam kamar yang akan segera mandi.


Kau meninggalkanku tanpa perasaan


Dan ku jatuhkan air mata


Kekecewaanku sungguh tak berarah


Biarkan ku harus bertahan


Levin menyanyikan lagu ST12 yang lain lagi saat Queen menutup pintu kamar mandi, meninggalkan Levin sendiri.


Queen membiarkan suaminya yang menyanyi nyanyi gak jelas di balik pintu kamar mandinya. Setelah menyelesaikan mandinya, Queen tak lupa untuk menyiapkan air mandi untuk suaminya. Queen melangkah keluar dari kamar mandi, dan levin malah asik menonton salah satu saluran televisi.


Ini lah saat terakhirku melihat kamu


Jatuh air mataku menangis pilu

__ADS_1


Hanya mampu ucapkaaaannn


“Cepet mandiiiiiiii!!!!” teriak Queen setelah menyanyikan beberapa baris lirik lagi milik ST12


Satu jam saja ku telah bisa cintai kamu kamu di hatiku


Namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup


Levin melanjutkan lirik yang di nyanyikan oleh Queen sembali menyambar handuk dan segera masuk ke kamar mandi sebelum mendapat omelan dari sang istri.


Sambil menunggu sang suami, Queen menyiapkan sajadhah utuk sholat magrib. Selesai mandi, Levin langsung mengambil posisi di depan Queen sebagai imam sholatnya.


Ciuman tangan sebelum ciuman dahinya selalu di lakukan Queen selepas salam sebelum memulai dzikir. Queen mengakhiri sebelum Levin selesai. Seperti biasa Queen akan lebih dulu membuat kopi pahit untuk sang suami.


Setelah selesai dzikir, Levin menyusul sang istri di ruang makan. Dengan masih mengenakan baju koko dan sarungnya. Levin menikmati makan malam yang di sajikan oleh sang istri tercinta. Menu sederhana seperti tumis sayur pakis tahu tempe dan ayam bakar bumbu rujak, membuat Levin sangat lahap memakannya.


Queen tak lupa membawakan kopi pait untuk suami, dan jus buah untuknya.


“Yang, besok kayak eaku gak bisa nganterin kamu belanja bulanan deh,” ucap Levin setelah menyuapkan nasi ke mulutnya.


“Memangnya kenapa yang?” Tanya Queen yang merasa sedikit aneh dengan suaminya ini.


Pasalnya, Levin tak pernah menyuruh atau membiarkan Queen pergi sendiri. Setelah kejadian pemerkosaan beberapa tahun yang lalu tentunya.


“Besok, Mario mau ngajak ke Bandung buat ngecek masalah di sana. Papa barusan ngasih kabar tentang kejadian di Bandung yang sedikit menyimpang,” ucap Levin yang membuatQueen sedikit bingung.


“maksudnya apa sih Vin?” Tanya Queen.


“Di cabang Bandung, hampir seratus persen keuangan gak pernah masuk. Ya hal ini terjadi setelah kepergian Yuga dari sana.” Jelas Levin yang sudah mencurigai seorang karyawan yang terlihat tengah main main dengan keluarganya.


“Aku ikut ya sayang, kan anak - anak juga di sana.” Pinta Queen.


“Ya sudah kalau begitu kita tidur cepet ya.” Levin meyelesaikan makannya.


Selesai makan, Levin mengabari Billa untuk bersiap besok ke Bandung. Setelah mendengar apa permasalahan yang terjadi bukan cuma Billa yang menjadi geram. Revan pun menjadi emosi mendengar apa yang di tuturkan oleh sang abang iparnya.


Malam ini berasa sangat cepat beralu, setelah sholat subuh Billa dan Revan langsung ke rumah Levin. Queen dan Levin ternyata sudah siap sedia dan tinggal berangkat.


Keempat orang itu berangkat dengan menggunakan satu mobil. Di dalam perjalanan tiba - tiba Billa memuntahkan apapun yang di makan tadi sebelum berangkat. Billa yang tak pernah mabuk pun kini terlihat sangat pucat.


Perjalanan dua jam empat puluh lima menit pun membawa mobil Levin tepan di pelataran cafe Cinta cabang Bandung 1. Billa yang sudah terlihat pucat pun akhirnya tumbang juga. Cinta yang melihat Billa tak sadarkan diri pun menjadi lebih khawatir setelah melihat wajah pucatnya.


“Kenapa dengan Billa?” Tanya Cinta setelah membawa Cinta ke ruang kerja suaminya.


“Tadi mabuk perjalanan ma.” Terang Levin mengatakan yang sejujurnya.


“Buatkan teh anget, dan lagi jangan ngumpul kayak gini. Billa butuh udara sega,” ucap Cinta dengan senyuman setelah memeriksadetak jantung Billa di pergelangan tangannya.


“Mama kenapa malah senyum - senyum gak jelas gini sih?” Tanya Levin yang tak mau meninggalkan adik kesayangannya dalam keadaan lemah seperti saat ini.


“Gimana mama gak senyum, orang mama seneng,” ucap Cinta masih terus tersenyum.


Revan yang ada di samping Billa pun ikut heran dengan sikap sang mertua. Revan terus memegangi tangan Billadengan ke khawatiran yang berlebih. Cinta merasa sangat bahagia melihat keposesifan sang menantu.


Putriku sudah menemukan orang yang tepat untuk kebahagiaannya sendiri. Batin Cinta merasa lega dengan mengatakan hal tersebut.


Tak lama Billa mulai menggerakkan jari jemarinya. Mata yang bergoyang memaksa untuk membuka. Revan, segera memanggil namanya. Billa sadar setelah hampir tiga puluh menit tak sadarkan diri. Billa langsung di berikan teh hangat oleh Revan atas perintak Cinta sang meryia.


“Bagaimana keadaanmu sekarang sayang?” Revan membantu Billa yang hendak bangun dari pembaringanya di sofaberbantal paha seorang CEO muda.


“Kepalaku pusing, rasanya muter - muter, tapi sekarang sudah lebih baik,” ucap Billa yang tak mau membuat khawatir suaminya.


“Ya sudah, lu tidur aja, biar di bantuin Revan aja.” levin menyuruh sang adik untuk istirahat.


“Ma, Billa sudah sadar, temenin dulu Billa ma. Biar Revan yang bantuin Levin dan papa di sini.” Minta evin pada mamanya.


“Ok,” Jawab Mamanya seraya masuk kedalam ruangan Kerja suaminya, menggantikan posisi menantunya.


Billa terlihat sangat lemas sekali. Ini adalah kali pertama Billa mabuk saat naik kendaraan. Entah apa penyebabnya sehingga membuat Billa sangat lemah seperti saat ini.


 


 


Untuk yang mau Billa hamil tunggu ya..... sabar untuk beberapa waktu ya sayaaannnggg


 

__ADS_1


Mungkin ini tanda - tandanya tapi sabaaarr ya sayang sayang kuh, Nanti kalau sudah di waktu yang tepat.


Oh iya untuk yang mau ketiga cewek cewek ini hamil di kabulkan, asal semua bantu author dengan like dan komen yaaaa


__ADS_2