
Setelah mengucapkan kata ijab Billa turun di dampingi dengan sang mama juga kedua kakak iparnya menemui sang suami. Sandi menundukkan kepalanya sampai pak penghulu menyuruhnya memberikan tangannya kepada sang istri untuk di ciumnya sebagai tanda penghormatan pertama seorang istri kepada suaminya.
Billa mencium tangan Sandi dengan penuh hikmat. Sandi merasakan ciuman tangan Billa dan berusaha mencari apa yang berbeda. Lamunan Sandi di buyarkan pak penghulu ketika menyuruhnya mencium kening sang istri sebagai tanda dia telah menerima sang istri.
Ciuman lama yang tak membuat hatinya bergetar seperti dulu membuat Sandi menitihkan air mata. Inikah pernikahan yang pernah aku impikan dengan wanita yang menjadi istriku saat ini? Kenapa hatiku sakit ketika menciummu tanpa cinta. Kemana perasaanku yang dulu ingin menginginkanmu dulu? Aris, apa kau telah membawa mati semua perasaan Billa? Pertanyaan pertanyaan yang muncul dalam benak Sandi membuatnya susah untuk tersenyum.
Kebahagiaan yang di inginkan dulu kini menguap entah kemana. Bagaikan air dalam danau, Tenang namun juga mematikan. Billa sungguh tidak berubah, dari senyum canda juga sifat yang tetal sama seperti dua tahun yang lalu. Tapi ketika berdua dengan Sandi dalam kamar pengantin seperti saat ini. Billa terkesan lebih dingin dan bukan seperti Billa yang tadi mendampingi Sandi di pelaminan.
"Bill, kalo gue besok terbang ke Singapura bagaimana?" Tanya Sandi membuat Billa yang tengah sibuk dsngan riasan di wajahnya pun hanya mampu tersenyum.
__ADS_1
"Tugasmu sudah selesai San, lu bebas mau kemana pun. Dan kalo lu nyari gue, gue ada di Hongkong menikmati voucher liburan gue." Jawab Billa kecewa berbulan madu sendirian.
"Sorry Bill gue gak bisa sebebas lu. Gue mohon rahasiakan penikahan kita dari Frizka." Sandi tertunduk dengan memegangi handphone miliknya.
"Frizka sadar, dan gue baru dapat kabar dari rumah sakit." ucap Sandi kembali membuat Billa meneteskan air mata tanpa sadar.
"Pergilah sekarang San, gue gak pa pa." Kata Billa menghapus air matanya agar Sandi tidak melihatnya.
Malam ini juga Billa dan Sandi terbang ke Singapura untuk menjemput Frizka. Sakit hati pasti, kecewa jelas. Tapi Billa harus sadar Sandi tunangan Frizka meski dia sudah menikahi dirinya. Langkah cepat Sandi menuju ruangan Frizka di rawat seakan menunjukkan betapa khawatirnya Sandi akan keadaan Frizka. Rasa senang dan bahagia tidak bisa di di sembunyikan dari wajah Sandi. bahkan wajah bahagia yang tak di perlihatkan pada saat pernihakan.
__ADS_1
Lu menang Friz dan gue kalah. Hati Sandi hanya untuk lu, gue istri yang kalah tak mampu memenangkan hati suami gue. Ucapan Billa dalam hati membuatnya mengurungkan langkahnya masuk ke dalam ruangan VVIP yang menjadi kamar pribadi Frizka dan Sandi selama dua tahun belakangan.
"Kenapa lu jahat banget Ris? Kenapa lu gak lepasin gue aja? Sekarang gue harus merenggut kebahagiaan sahabat gue sendiri." Isak tangis Billa terus menyalahkan Aris.
"Riz, gue cinta sama lu. Kenapa lu gak ngajak gue ke dunia lu? Gue gak cinta sama Sandi Ris." Ucapan terakhir Billa ternyata juga membuat Sandi sakit mendengarnya.
Sandi menyusul Billa karena Frizka sangat berantusias ketika mendengar Sandi membawa Billa bersamanya. Namun lama menunggu Billa tak kunjung datang. Sandi mencari Billa kemana mana, namun ketika Billa berteriak untuk ikut dengan Aris dan tkdak mencintai dirinya. Saat itu pula Sandi menemukan Billa.
Hancur? Pasti, tapi Sandi mencoba mengerti perasaan Billa yang masih belum terima akan kematian Aris. Sandi mendekati Billa dan memeluknya dari samping. Mencoba menenangkan Billa dari tangisnya.
__ADS_1
"Frizka ingin menemui lu, hapus air mata lu. Gue gak mau Frizka ngeliat lo sedih kaya gini." Sandi menghapus air mata Billa.
"Iya gue mengerti." Billa merapikan Rambut lurus sebahu miliknya.