
Setengah jam, adalah waktu yang di butuhkan Revan dan Billa untuk sampai di rumah orang tua Billa. Setibanya di rumah terkesan tua namun penuh kehangatan itu, Billa di sambut oleh ketiga jagoan yang tengah megerjakan tugas sekolah di teras rumah.
“Aunty pulang bawa apa itu?” Tanya si Bagas yang memang suka sekali makan, tapi tubuhnya paling kecil.
“Aunty bawa bakso buat kalian. Ini enak sekali lo.” Billa memberikan kepada si bungsu yang terlihat sangat kelaparan sekali.
“Makasi aunty, mamaaaaaaa Bagas di beliin baksooooo.” Teriak Bagas memasuki rumah dengan membawa satu kantong plastik memang khusus untuk si kembar tiga.
Billa dan Revan mengikuti dari belakang Bagas yang membawa bungkusan lain di tangannya.
“Sudah bilang terima kasih ke aunty?” Tanya Ayu pada Bagas yang sedang di dapur mengambilkan mangkuk pada putra - putranya.
“Sudah dong, ma. Tiga ma,” ucap Bagas yang menunjukkan bahwa bungkusannya ada tiga.
“Oke, ini punya abang - abang.” Ayu mengambilkan mangkok untuk ketiga anaknya.
“Mbak ayu, ini ada seafood, kebetulan tadi mampir ke restoran biasanya.
“Haiiiihhhh makasiiiihhh,” Ayu menerimanya dengan senang hati.
Billa dan Revan berjalan beriringan masuk ke dalam kamar.
Di sisi lain.
Queen dan Levin tengah beduaan di dalam kamar. Sedangkan Al, lebih sering bermalam di rumah Opa Toni dan Oma Anggel.
“Levin, kamu tau tidak kesamaan kamu dengan telur?” tanya Queen yang sedang tiduran di punggung Levin yang tengah memainkan ponselnya.
“Enggak, apa emangnya?” Tanya Levin santai, karena dirinya tau istrinya pasti akan mengombalinya seperti biasanya.
“kalo telus itu di erami baru jadi ayam atau bebek, kalo kamu hanya membutuhkan aku untuk memanggil ayang atau bebeb,” ucap Queen senyum - senyum sendiri.
“Garing Queen,” ucap Levin tetap tertawa meski mengatakan jika gombalannya itu garing.
“Hais, kalau garing, ya di siram dong. Jangan di cuekin, sakit.” kembali Queen melontarkan gombalan yang sedikit mengena di hati Levin. Ya karena memang Levin sedari tadi hanya asik dengan ponselnya, tanpa memperhatikan Queen sama sekali.
“Maaf sayang, sini - sini. Sayangnya Levin minta diapain sih? Mana yang sakit?” Tanya Levin geli mengimbangi kemanjaan sang istri.
“Di sini.” Queen memegang dada sebelah kiri.
“U…uu..uu sini Levin obatin,” Tanpa aba - aba Levin mencium dada yang di tunjuk sang istri.
“Ih nakal deh, udah ah mau masak dulu.” Queen beranjak dari tempat duduknya.
“Sayangnya Levin gak mau ngajak makan malem romantis?” Tanya Levin menggoda istrinya di dapur yang sedang mengupas bawang.
“Sayang nya Queen mau di masakin apa?” Tanya Queen yang masih setia dengan bawangnya.
“Aduh, kenapa masih di tanya sih? Sayangnya Queen ini mau ngajak makan malam romantis di restoran.” Jawab Levin yang membantu sang istri mengupas bawang putih di depannya.
“Sayangnya Levin lagi males keluar sayang. Kita makan di rumah berdua dengan lilin aja mau?” Tawar Queen yang memang jarang suka dengan makan diluar.
Selain hemat, Queen akhir - akhir ini memang menyukai masak.
“Kalo gitu, buatin tumis kangkung, tempe goreng, ayam goreng, sambel kecap, tahu goreng.” Pinta Levin masih dengan bawang putihnya.
“Sepertinya kangkungnya habis sayang, beliin dulu di warung kong Jali dulu deh.” Queen memeriksa isi kulkas di belakang dia duduk tadi.
“Siap ibu negara.” Levin langsung mengambil kunci motor yang ada di gantungan khusus khunci.
Levin memang tak pernah ragu jika sudah Queen memintanya membantu. Pernah suatu saat Levin di minta membelikan pembalut, dengan senang hati Levin langsung membelikannya.
Levin memang terlalu sayang dan cinta pada istri yang semakin hari terlihat semakin cantik. Hampir setiap hari Levin merasa takut jika Queen meminta ijin keluar. Levin selalu takut Queen di culik bronis atau papa muda.
__ADS_1
Dengan menunggu Levin, Queen segera menyiapkan masakan yang lain sesuai permintaan Levin. Ketika sedang menggoreng ayam, Levin datang dengan membawa beberapa ikat sayur kangkung.
Dengan cekatan Levin memetik daun kangkung yang masih muda. Hal ini membuktikan, bahwa Levin bukan hanya sekali dua kali membantu sang istri di dapur.
Di luar boleh orang mengatakan jika Levin itu singa atau apa. Tetapi di dalam rumah, Levin tetaplah Levin seorang suami yang cinta istri dan anak. Kehangatan yang di berikan Levin, sangat berbanding terbalik dengan sikap dingin yang dia bangun di luar.
Cinta memang mampu merubah batu menjadi masmelo, membuat seorang preman berhati hello kitty. Bahkan cinta mampu merubah seorang Devil menjadi seorang malaikat atau sebaliknya. Levin dan Billa yang terkenal dengan sebutan Singa atau devil, tapi di dalam keluara mereka berdua berubah menjadi kucing kecil yang imut.
Setelah mateng semua masakan Queen, Levin langsung menatanya di meja makan. Tak lupa dengan lilin yang tadi di belinya saat membeli kangkung ke warung kong Jali. Levin memang tidak seromantis Kliene, tapi dengan membantu memasak atau membantu menyiapkan makanan di meja makan pun sudah meluluhkan hati seoang Queensya.
“Sayangnya Queen, mandi bareng yuk.” Ajak Quenn yang membuat Levin bersemangat.
“Siap sayangnya Levin,” ucap Levin setelah mengelap piring yang tadi di cuci Queen.
Di rumah Rizal dan Cinta ternyata tengah membahas dampak terlalu capek dalam bekerja bagi hormon. Seseorang yang kepingin memiliki anak, seharusnya memiliki waktu untuk istirahat dan fikiran yang tak terbebani.
“Kalian itu harus sering - sering liburan. Dan jangan terlalu setress dalam bekerja, kasian itu nanti kalian akan terlewat masa produksi. Kalian mau, pas kalian udah uyuk - uyuk tapi anak kalian baru memasuki remaja? Yakin gak kasian sama anak kalian nantinya?” Tanya Cinta yang membuat kedua orang yang duduk di depannya itu hanya tertuduk menyesal.
“Ya sudah kalau gitu, mulai besok aku akan berusaha untuk mengurangi jam kerja dan juga kesibukan di kantor.” Jawab Revan yang memang sangat menginginkan memiliki anak dari seorang Salsabilla.
Revan berfikir, jika dengan memiliki anak. Billa akan belajar mencitainya dan tidak akan meminta untuk bercerai seperti kemarin lagi. Revan sangat takut kehilangan Billa. Wanita yang di nikahi dalam keadaan penuh dendam, dengan harapan mampu menghapus dendamnya dengan rasa cinta darinya.
“Tapi ‘kan dalam sebulan ini kita memang harus di sibukkan dengan menaikkan draf perusahaan AIRA yang merosot beberapa bulan ini.” protes Billa yang masih memikirkan pekerjaan saat seperti ini.
“Apa gunanya Ani dan pak Yusuf? Aku sudah memberinya modal yang sangat besar. Maka mereka memiliki tugas untuk menaikkan jumlah produksi perusahaan mereka. Dan tugas kamu sekarang, berfokus pada kesehatan dan kenyamanan saja. Jika perlu kamu jangan lagi kerja.” Revan mematahkan protes yang di ajukan oleh Billa.
“Saran yang bagus, Billa jangan kerja. Dan harus berfokus pada kesehatan dan kesuburan kandungannya. Saya sendiri yang akan memantau dan membatunya dengan ilmu medis yang mama miliki.”
Bak gayung bersambut. Saran yang di lontarkan Revan, langsung di terima dengan baik oleh Cinta sang mertua yang juga menginginkan cucu dari putrinya.
“Baiklah, kalau begitu mulai besok jangan masuk kerja lagi.” Revan menyetujui usulan sang mertua.
“Gak bisa gitu dong Van, AIRA itu kan gua yang ngegollin.”
“Dan saya yang memodalin, kantor di Raja Ampat itu kan sudah atas nama kamu sebagai bonus. Nurutlah sama suami sekali saja,” ucap Revan yang langsung membuat mood Billa hancur.
“Ok, asal kamu gak kerja mulai besok.” Revan menyetujui permintaan Billa demi mendapatkan seorang anak dari bidadari hatinya.
“yang sabar ya,” Kliene menepuk pundak sang adik ipar seraya meninggalkan ruangan.
“Semangat…” papa mertua pun memberi semangat kepada menantu lelaki sattu - satunya.
Billa hanya diam meninggalkan Revan sendirian di ruang keluarga. Saat semua sudah kekamar, Revan masih duduk menikmati hiburan malam di layar televisi. Billa kembali ke ruangan dan masih melihat sang suami belum tidur.
“Lu yakin gak mau tidur di kamar?” Bujuk Billa.
“Yakin, asal kamu mulai besok tidak kerja lagi.” Tegas Revan tanpa memandang Billa.
Billa tau jika Revan kali ini tengah marah. Hanya Billa yang tau kemarahan yang seperti ini, karena hanya pada Billa lah Revan akan sekuat tenaga menahan amarahnya. Bahkan pada Vano pun amarah Revan bisa meledak sangat dahsyatnya.
“Ya sudah, aku mengalah, asalkamu gak marah lagi. Aku akan berhenti kerja mulai besok. Tapi dengan catatan, jangan melarangku untuk menhabiskan uangmu.” kata Billa malu - malu.
Kali ini Revan melihat Billa dan mengabaikan film di layar televisi yang sedari tadi menemaninya. Revan tersenyum mamandang Billa yang tengah malu - malu.
“Berapa juta perhari yang mampu kamu habiskan?” Tanya Revan dengan masih mengintip Billa yang tertunduk malu.
“Juta? Perhari?” Billa memandang wajah yang kini sudah tersenyum padanya.
“Iya, berapa juta perhari kamu mampu menghabiskan uang ku? Agar aku bisa lebih giat lagi bekerja demi kamu dan calon anak kita.” Bisik Revan dengan mendekatkan wajahnya pada wajah wanitanya yang kini tak mampu menyembunyikan rona merah di pipinya.
“Ya sudah kalau gitu, aku akan habiskan semua tabungan kamu.” cicit Billa.
“Silahkan. apa kamu gak tau, menyenangkan istri itu sama dengan membuka pintu rejeki dari segala arah?” Revan memeluk Billa dengan hangat.
__ADS_1
“Benarkah?” Tanya Billa
“Iya, dan memuliakan seorang istri itu sudah hal yang wajib. Karena sudah menjadi tanggung jawab bagi seorang suami membahagiakan seorang wanita yang telah di mintanya menemani hidupnya dari orang tua wanita itu.” Revan membelai rambut Billa yang terbungkus kerudung.
“Dan kamu harus tau, karena kamu adalah Bidadariku setelah almarhumah mama.” Revan membelai pipi Billa yang terlihat semu merah.
“Ya udah, kalo gitu boboknya di dalem aja..” Rengek manja Billa membuat gemas singa lapar di depannya.
“Ya udah ayo.” Revan menggendong Billa seperti koala yang menggendong bayinya.
Ternyata perbincangan mereka berdua juga di nikmati oleh Cinta dan Ayu yang memang sangat penasaran dengan kisah cinta Billa dan Revan. Billa yang di ketahui sangat keras dan penuh dengan emosi. Sedangkan Revan lelaki tegas yang tak akan pernah mengubah keputusannya hanya karena hal yang sepele.
Revan memang menang, tapi di dalam hati Revan, Billa lah yang menjadi pemenangnya.
Pagi menyapa, Billa keluar dengan masih mengenakan baju tidur panjang lengkap dengan kerudungnya. Benar, Billa sudah mulai berkerudung setelah di pakaikan kerudung oleh sang suami kemarin pagi.
Billa ke dapur membuatkan minum untuk sang suami. Di dapur Billa bertemu dengan Ayu yang sudah mulai memasaknya.
“Lagi bikin apa Bill?” Pancing Ayu yang tingkat kekepoannya setara dengan sang mertua.
“Buat jus mbak. Revan akan mual kalau bangun tidur gak minum jus jeruk dulu.” Jelas Billa dengan menuangkan jus yang di bikin ke dalam gelas.
“Jadi. Revan tidur di teras?” Tanya Ayu lagi.
“Enggak Mbak, Revan tidur di dalam kamar.” Jawab Billa sedikit curiga pada iparnya ini.
“Yah, berarti Lu kerja dong?” Tanya Ayu kecewa.
“Enggak kok mbak, Billa nurut apa kata suami aja. Lagian Billa juga mau belajar masak.” Billa mencuci saringan bekas membuat jus jeruk.
“Bagus itu Bill,” Ayu mengacungkan ibu jarinya pada Billa yang menoleh sekilas saat berjalan meninggalkannya di dapur sendirian.
Billa menyiapkan sajadah untuk Revan sholat. Sedang dirinya sudah mengambil air wudhu lebih dulu. Billa menunggu sang imam dengan mengenakan mukenah nya. Setelah sholat berjamaah, bukannya bersiap kerja. Revan malah bermanja di pelukan Billa yang masih mengenakan mukenanya.
“Kamu gak kerja ini? Sudah lebih sepuluh menit ini kamu seperti ini Revan,” ucap Billa dengan membelai rambut Revan.
“Aku pasti akan sangat merindukanmu saat kerja nanti. Aku mau bekal pelukan dan ciuman yang banyak darimu pagi ini.” Bisik Revan yang masih enggan utuk melepas pelukannya.
“Ya sudah, nanti siang aku akan mengantarkan makan siang. Jadi kamu bisa menchas rindumu yg sudah mendekati tingkat ke setresan itu.” Billa memberikan janji pada suaminya. Agar mau melepaskan pelukandan bersiap untuk bekerja.
“Janji ya, kamu ke kantor nanti.” Revan masih merengek pada Billa.
“Janji, tapi sayangku harus janji, jangan genit ya.” pinta Billa pada sang suami yang kini tengah tersenyum di pelukannya.
“Siapa yang berani membangunkan singa tidur memangnya?” Goda Revan dengan mencolek dagu sang istri.
“Siapa singa tidur?” Tanya Billa dengan membelalakkan matanya.
“Haaha, maaf sayang. Kamu itu kalau sudah marah nyeremin. Jangankan karyawan di kantor, aku saja takut kalo udah membuatmu marah.” jelas Revan dengan merapikan sarung dan sajadahnya.
“Karena itu kamu semalam tidak berani masuk kamar?” Tanya Billa yang sudah duduk di atas tempat tidur.
“Iya,” Revan menjawab dengan memberikan ciuman pagi pada Billa.
“Cih, ya sudah sana aku siapin baju ganti buat mu dulu.” Billa mendorong suaminya ke dalam kamar mandi.
“Siap permaisuriku.” perkataan Revan membuat sedikit tarikan dari Billa.
“Kenapa?” Tanya Revan yang kaget dengan tingkah istrinya yang main tarik.
“Kalo aku permaisurimu, berarti bakalan ada selir dong?’ Tanya Billa dengan bibir tak isa di kondisikan lagi.
“Ya sudah. Siap Bidadari hatiku. Penjaga hatiku, penguasa hatiku dan pengendali hatiku.” Revan mencium kening Billa.
__ADS_1