
Hati Billa semakin tidak menentu setelah membaca pesan dari Frizka di hp Sandi. Sandi yang masih tertidur di sampingnya. Sebulan sudah Sandi dan Billa tinggal bersama di Singapura. Pekerjaan Billa kini sudah diringankan dengan hanya sesekali saja untuk menemani Revan mendapatkan tender besar. Billa berjalan ke arah balkon menikmati sepertiga malam dengan hati kacau mengingat isi dari pesan Frizka.
*Frizka:
Sebegitu besarkah cintamu pada Billa San? Apa memang tidak ada tempat buat aku di hatimu? Aku rela menjadi pelampiasan kecemburuanmu pada Billa. Sandi tak mudah membunuh cinta yang sudah berakar kokoh. Kamu tau seberapa besar cinta Billa pada Aris, dan kamu juga tau cintaku lebih besar terhadapmu. Kenapa kamu masih memilih Billa saat tau Aris meninggal dunia? Aku masih menerima tangisanmu untuk Billa, aku masih menerimamu yang selalu memikirkan Billa. Asal kamu tetap bersamaku. Kembalilah padaku sayang. Aku membutuhkanmu sama seperti aku yang tak berdaya selama dua tahun. Tinggalkan Billa untukku*.
Pesan yang terus tertulis di ingatang Billa. Hatinya tak karuan memikirkan Frizka seorang diri. Billa mengambil handphone miliknya dan mencari nama Queen dari layar ponselnya.
"Hallo Bill, kenapa?" Tanya Queen dari dalam telephone genggamnya.
__ADS_1
"Queen, gue butuh temen curhat nih." Billa mengatakan dengan hati hati.
"Frizka? Lu harus percaya sama Sandi dan pertahanin dia. Asal lu tau Sandi itu jauh lebih menyayangi lu ketimbang ke Frizka. Dulu setiap dia pulang ke Indonesia selalu menemui gue sama abang lu, dia nanyain kabar lu. Lu nya aja yang sarap, matiin hape sampek batas yang tidak di tentukan. Udah kaya artis aja lu ganti nomer kagak ngasih kabar." Omelan Queen setelah memberikan jawaban pada Billa.
"Jadi gue harus bertahan ini?" Tanya Billa ragu ragu.
"Iya lah, sekarang lu inget inget deh masa masa indah lu berdua bareng Sandi. Jangan mikirin orang lain yang jelas jelas hanya akan menjadi batu sandungan buat rumah tangga kalian." Queen mengoceh tak hentinya.
"Hmm tanya aja asal jangan tanya rumus kimia, mumet pala gue." Jawab Billa datar.
__ADS_1
"Eh, Sandi kuat gak Bill??? Semalem maen berapa kali?" Tanya Queen dengan nada ingin tau mode jahil.
"Maksud lu Queen? Gak paham gue." Kata Billa masih mencerna pertanyaan Queen yang sebenernya sangat gamblang.
"Sandi maennya kuat gak di ranjang?" Tanya Queen lagi masih dengan rasa penasaran.
"Emangnya bang Levin sekuat apa Queen? Palingan lebih kuat Sandi." Pancing Billa yang mengetahui maksud Queen. Billa memang masih terbilang kecil di banding Queen, tapi Billa jauh lebih cerdik dari pada Queen yang memang polos seperti kertas putih.
"Hmmm Abangmu itu kuat Bill, jangan salah. Sandi pasti kalah dah, Semalem itu bisa 3x naik. Kalo gak di kasi pasti subuh subuh bangunin orang tidur." Cerocos Queen membuat Billa bergidik ngeri.
__ADS_1
"Kuat juga ya Abang, apa jangan jangan lu yang mulai. Secara abang kan kaya kutub utara." Pancing Billa lagi.
"Gunung boleh tertutup es tebal tapi yang namanya lahar itu sudah pasti panas Bill. Jadi jangan pernah menganggap remeh orang orang dingin seperti Levin. Tanpa obat juga sudah siap gempur pertahanan lawan sampai ambrol." Omongan Queen hanya di ketawakan saja oleh Billa dalam Hati