
Pagi menyapa, Billa dan Revan bersiap untuk ke kantor. Sedangkan Frizka sudah siap di meja makan dengan nasi goreng buatannya untuk Revan.
Revan yang memang menyukai nasi goreng pun langsung memakan nya tanpa bertanya apapun. Billa memakan Roti isi selai kacang yang tersedia di meja makan selain nasi goreng. Tanpa rasa curiga, Billa memperhatikan suaminya memakan nasigoreng dengan lahapnya.
Sedangkan di sisilain, seorang Frizka merasa menang selangkah dari pada Billa. Bisa menyenangkan sang suami melalui masakannya. Frizka berpuas diri dengan keahlian masaknya.
Billa menyiapkan semua kebutuhan untuk ke kantor. Sebagai sekertaris pribadi. Billa sungguh sangat cekatan, menyiapkan semua hal yang di butuh kan oleh Revan untuk ke kantor. Dari yang selalu di bawa oleh Revan sampai yang penting.
Setelah memastikan semua sudah siap. Billa memasukkan dalam tas milik Revan lalu membawanya ke mobil. Di dalam mobil, Billa sudah melihat Revan duduk di kursi kemudi kemudian Frizka sudah duduk di sampingnya. Dengan helaan nafas besar, Billa terpaksa duduk di belakang.
Saat Billa dan Revan mendiskusikan suatu masalah, terkesan seperti orang tengah beradu argumentasai. Frizka tiba - tiba ikut bergabung menyela pembicaar Billa.
“Yang di bilang Revan bener Bill, lu itu cuma sekertaris jadi lu harus bisa mengontrol diri agar sifat ambisi elu itu berkurang. Bisa lari nanti investornya.” Dengan nada sok bijak Frizka menasehati Billa.
“Terserah.” setelah mengatakan itu, Billa langsung diam seribu bahasa.
Setelah sampai di kantor, banyak karyawan yang melihat Revan duduk di depan dengan seorang Frizka. Sementara Billa duduk di belakang sendirian. Banyak yang mencibir hal tersebut, dari mengatakan yang namanya nyonya besar tetap lah nyonya besar. Bukan seorang sekertaris pribadi yang mencoba menggoda atasan. Dasar pelakor ya tetap pelakor dan menempati tempat yang semestinya.
Kata - kata semacam itu, terus terdengar selama seharian. Billa ingin marah, tapi memang benar dia lah pelakor di sini. Billa hanya diam dan tak menjawab apapun, terlebih Frizka seharian ini menunggui Revan yang sedang bekerja.
Billa masuk ke dalam ruangan Revan tanpa mengetuk pintu. Kembali Frizka mengomel pada Billa.
“Bener - bener gak punya sopan santu lu ya.” Frizka sedang asik memainkan tab milik Revan yang selalu di mainkan oleh Billa.
Billa hanya meletakkan berkas lalu keluar ruangan tanpa mengatakan apapun lagi. Revan merasa ada yang aneh dengan Billa. Kenapa lagi ni anak? Batin Revan terus bertanya tanpa menyadari apa yang di perbuat.
“Satbang lah Vano.” Billa mengumpat ketika sudah berada di ruangannya.
“Sabar lah, entar lu bareng gua sama Yuga aja. Entar gua mau mampir ke restoran seafood depan gang itu.” Vano yang memiliki rumah tak jauh dari rumah Billa dan Revan.
“Traktir gua ya,” rengek Billa dengan menunjukkan puppy eyes nya.
“Dih, dirinya yang gaji gua. Dirinya yang minta traktiran. Kebalik keles,” Ucap Vano yang masih tetap serius dengan layar di depannya.
Bukannya marah Billa malah tersenyum dan mengganggu rekan keranya yang masih belum juga menyelesaikan kerjaanya. Tak sengaja Revan mendengar suara cekikikan dari istrinya yang seharian ini mendiamkannya. Revan langsung masuk ke dalam ruangan Vano dan Billa.
“Seru sekali kayaknya ya?” Revan menghentikan Billa yang tengah menganggu Vano dengan duduk di meja kerja patner kerjanya.
“Oh maaf pak, minggir Vano.” Billa menyuruh Vano minggir agar bisa turun dari meja kerja lelaki di depannya.
“Kalian bisa serius? Ini kantor bukan taman kanak - kanak. Jadi jangan terlalu berisik, dan kamu Billa. Ikut saya,” ajak Revan yang melihat meja sekertaris yang juga istrinya itu sudah bersih dan rapih.
Billa hanya diam mengikuti lelakinya itu pergi. Revan mengajak Billa keluar kantor tanpa memberi tahu siapapun. Billa kaget saat Revan mengajaknya untuk menikmati sangin laut dengan boat pribadi yang di atas namakan Salsabilla.
“Mau kemana?” Tanya Billa yang masih belum tau apa yang mau di lakukan oleh suaminya.
“Menikmati sunset, berdua denganmu.” Revan melepas jas dan dasi juga membuka dua kancing atas kemejanya sebelum menyalakan mesin boadnya.
Billa menikmati pemandangan di tengah pantai bersama Revan. Suaminya sudah menyiapkan semuanya tanpa sepengetahuan dirinya. Billa terkejut saat ketiga pelayan menyajikan makanan seafood di atas meja makan di dalam kapal pribadi mereka..
Revan menghentikan kapalnya di tengah laut yang di bantu oleh nahkoda kepercayaanya. Revan berjalan ke tempat Billa yang sedang memandangi makanan di atas meja.
__ADS_1
“Gimana, Suka?” Tanya Revan yang sudah memeluk Billa.
“Banget, Makasih ya sayang.” Billa mengeratkan pelukan Revan dengan melapisi tangan Revan dengan tanganya.
“Maaf, kalo dua hari ini bikin kamu marah. Tunggu sampai dia menandatangani surat cerai ya sayang,” ucap Revan menenangkan Billa alam dadanya.
“jangan lama lama sayang.” Billa tak tau lagi harus mengatakan apa karena rasa bahagianya.
Billa dan Revan menikmati makan malamnya setelah membersihkan diri. Makan malam di atas kapal yang tengah parkir di tepi pantai adalah pemandangan yang sangat indah. Menikmati pemandangan malam bertabur bintang di bawah terangnya sinar bulan purnama.
Billa dan Revan melupakan Frizka yang masih menunggu mereka di kantor di temani oleh satpam dan juga nyamuk - nyamuk yang nakal. Frizka menelfon Revan yang tengah tidur di pelukan sang istri tercinta di kabin kapal.
“eeemmmm” Jawab Revan dengan suara berat khas orang bangun tidur.
“Kamu di mana sayang?” Tanya Frizka yang sedikit jengkel mendengar suara berat Revan.
“Siapa Van?” Tanya Billa yang juga sepertinya terganggu tidurnya.
“Ssstt, Frizka” Refan memberi isyarat pada Billa dengan bicara tanpa suara.
“Aku ketiduran, kamu pulang aja sendiri ya.” Tanpa menunggu jawaban, Revan langsung menutup telfonnya.
“Kenapa dengan Frizka Van?” Tanya Billa penasaran.
“Biasa, dia menanyakan aku ada di mana, Sudah tidur lagi aja.Aku capek Billa sayang,” ucap Revan yang semakin mengeratkan pelukannya.
Billa dan Revan tidur di boat sampai keesokan paginya. Revan dan Billa berangkat ke kantor dengan menggunakan baju yang kemarin di pakai. Mereka berdua bertemu dengan Frizka di depan kantor yang menungguinya.
Billa pergi meninggalkan Revan dan Frizka di luar. Revan hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Frizka. Di dalam ruang absen, Billa di sindir terang - terangan oleh resepsionis yang di pertahankan oleh Frizka.
“Dasar pelakor ya, yaaaa tidak tahu malu.” pandangan Ani tertuju tepat ke arah Billa.
Billa hanya diam tanpa membalas ucapan Ani.
“maklum lah An, urat malunya kan sudah berganti dengan lembaran duitnya pak Revan.” Loli menambahi sindiran Ani.
“Sepertinya semalam Bu Billa terhormat tidak pulang ke rumah. Sampai - sampai masih mengenakan baju yang kemarin dengan tanda merah di leher.” Tambah Ani dengan berani mengatakan hal yang menurut Billa sudah melampaui batas.
Billa meraih kerah baju gadis tinggi dengan rok mini di padu dengan kemeja pink senada dengan warna sepatunya.
“Terima kasih elu sudah perhatian terhadap penampilan gua. Tapi gua gak perlu laporan apapun pada siapapun tentang apa yang gua lakuin dengan laki gua.” Geram Billa yang di lihat oleh Revan dari luar gedung
“Suami hasil merebut maksud Ibu!” Tantang wanita yang tengah di cengram bajunya oleh Billa.
“Billaaaa… astaga, Vano ini tolong pisahin.” Yuga mencoba melerai Billa dengan Ani.
“Denger gua, Gua memang menikahi suami gua saat masih menjadi suami siri seorang Frizka. Pembunuh tunangan gua dan menembak mati suami gua, asal lu tau dua tahun yang lalu. Dan gua mengenal Revan jauh sebelum gua tau kalo wanita cantik itu berhati iblis!!!” Mata Billa memerah karena amarah yang sudah tak mampu lagi di tahan.
“BIlla, Billa, lepas sayang. Kamu akan menyakiti dia, sayang, sayang. Sudah, sudah.” Revan menggendok Billa untuk menjauhi Ani sang resepsionis.
“Keluar dari kantor gua!!!” teriak Billa memecah kekacauan yang di perbuat tadi.
__ADS_1
Resepsionis yang di usir Billa bukannya keluar, tapi malah merapikan riasan wajahnya. Revan hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.
“Vano, beresin dia” Seru Revan membuat karyawan lainya memandang Billa segan.
“Saya sebagai sekertaris pribadi sekaligus istri sah dari Revano Alibaba Sahid adalah pendiri perusahaan ini. Kalian pertama kali melamar di perusahaan ini, sudah membaca latar belakang perusahaan dan juga biografi saya bukan? Saya tidak pernah membawa masalah pribadi saya ke dalam pekerjaan. Dari dulu sampai sekarang saya Salsabilla, bekerja dengan segala ke profionalan saya. Dan mungkin semua akan bertanya kenapa ada dua istri sah yang ada di sini. Saya akan jelaskan dengan senang hati.”
“Dia Nyonya Frizka, istri pertama bapak Revano Alibaba Sahid. Dia merupakan sahabat saya dulu, sebelum saya tau jika dia lah yang merencanakan pembunuhan tunangan saya. Setelah itu saya menerima pernikahan dengan sepupu dari tunangan saya, karena dia sudah mendapat cincin kawin yang di amanatkan oleh tunangan saya sebelum meninggal.” Billa mengingat kembali almarhum suaminya dengan derai air mata.
“Saya menikah dengan suami saya yang juga mantan tunangan nyonya Frizka hanya berjalan selama enam bulan. Bukan karena saya tidak menerimanya, jujur saya mulai mencintainya. Karena dia terus meyakinkan saya bahwa Sandi suami ku sangat mencintai aku. Tapi dengan sadisnya wanita cantik itu menembak mati suami saya karena dia tidak terima pak Revan menceraikannya. Pak Revan menceraikan nyonya Frizka karena hatinya tidak bisa menerima wanita lain selain saya.”
“Seminggu kematian suami, saya memanggil pak Revan untuk bekerja sama dengan BAGANTA dan berdirilah perusahaan ini. Saya tidak tau dari mana nyonya Frizka….”
“Hentikan omong kosongmu.” Kini Frizka angkat bicara.
“Di mana ucapan kebohonganku nyonya?” Tanya Billa meantang Frizka.
“Kamu yang membujuk Revan menceraikan ku.”
“Apa harus di bahas di sini?” Tanya Revan menghentikan Frizka.
“Harus.” Billa dan Frizka secara bersamaan.
Yuga dan Vano menahan tawa sambil berbisik
“makan buah simalakama” kikik Vano dan Yuga.
“jujur ya, saya menggugat cerai karena hati saya tidak terima akan kehadiran Frizka. Sedangkan hati saya sudah terisi oleh Billa. Dan aku juga gak suka sama orang yang agresif.” kejujuran Revan mengundang pertanyaan bagi salah satu staf kantor.
“Kalo bapak gak suka, kenapa bapak bisa menikahi Bu Frizka, bukannya bu Billa?” pertanyaan yang terlontar membuat Vano menahan Tawa lebih kuatlagi.
“Itu….itu, karena kesalahan yang di rencanakan. Dan Bu Billa sudah menikah dengan seseorang.” kejujuran Revan membuat semua mengerti jika memang Bukan Billa yang menjadi pelakor. Tapi memang nasipnya saja yang bagus
maaf ya, authornya khilaf. sebenernya mau up pas orang sahur, tapi apalah dayaku. Mataku terlalu berat untukmembukanya dan memaksa untuk membaca ulang.
Tenang, udah diskip kok.
__ADS_1