
AUTHOR POV
Yang di pikirkan Billa benar - benar terjadi. Pagi -pagi sekali Frizka sudah ada di depan kantor menunggu kedatangan Billa dan Revan. Frizka menyanding koper super besar di sampinya dengan tangannya mengipar - kipaskan buku nikah.
Billa memandangnya saja sudah tidak suka. Billa melewati Frizka, begitupun dengan Revan. Billa langsung memasuki kantor dan di ikuti dengan Revan di belakangnya. Revan dan Billa memiliki ruang kerja yang terpisah. Billa masuk ke dalam ruangan yang berbagi dengan Vano sesama sekertaris pribadi Billa.
Revan memasuki ruangannya setelah memastikan istrinya masuk kedalam ruangannya, setelah mengantarnya untuk absen. Frizka masuk ke dalam kantor berlantai dua yang lumayan besar untuk dua puluh lima karyawan. Sebuah gedung berlantai dua yang di sekat selayangknya kantor pada umumnya.
Sempat mengalami penolakan, Frizka melempar buku nikah pada resepsionis. Frizka di antar ke ruangan Revan yang ada di lantai dua. Sebelum memasuki ruangan Revan. Frizka dan resepsionis itu di cegat oleh Billa yang kebetulan akan menyerahkan proposal pada Revan.
“Siapa yang mengijinkan wanita ini masuk?” Tanya Billa yang membuat Resepsionis itu hanya menunduk.
“Santai Billa, dia melakukan pekerjaanya yang benar. Saya selaku istri pertama dari Bossnya, meminta untuk mengantar saya menemui suami saya.” Jelas Friska dengan angkuhnya pada Billa.
“Lu gak punya mulut ya?” Billa mendekati resepsionis yang mengantarkan Frizka. “Silahkan lu angkat kaki dari perusahaan gua.” Billa memecat karyawan itu karena mengantarkan Frizka.
“Hei, kamu tidak bisa berbuat seprti itu sayang.” Frizka sedikit mendorong Billa menjauhi resepsionis tadi. “Antarkan saya menemui suami saya jangan dengarkan pelakor ini,” ucap Frizka pada resepsionis di depan Billa.
“Silahkan bu,” resepsionis tadi membukakan pintu ruangan Revan dan mengabaikan Billa yang berdiri di depan pintu masuk ruangan Revan.
Billa menatap tajam kearah resepsionis yang malah tersenyum kemenangan.
“Jangan terlalu sombong sebagai pelakor bu, ketika kekuatan cinta istri pertama telah hadir. Maka anda sebagai pelakor harus berhati - hati, jangan sok berkuasa lagi.” Merasa ada yang membela, resepsionis menjadi lebih beani melawan Billa.
Billa masuk ke dalam ruangan Revan dengan rasa jengkel. Di tambah dengan keberadaan Frizka yang duduk di depan Revan.
“Biasakan untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan atasan.” Frizka mengatakan hal itu tanpa melihat ke arah Billa.
“Kita ke ruanganmu saja” Revan membawa laptop dan juga beberapa berkas di tangannya.
“saya tunggu di sini ya sayang.” Revan hanya menggeleng - gelengkan kepalanya mendengar perkataan manis dari seorang Frizka.
Frizka menunggu Revan di ruangannya sudah terlalu lama. Dari kepergiannya tadi sampai saat ini sudah jam lima sore. Revan tidak kembali lagi ke ruangannya. Frizka mencarike beradaan Revan hingga menemukanya tengah meeting dengan investor dari luar negri.
Frizka memutuskan untuk kembali ke ruangan Revan. Tak sampai tiga puluh menit, Revan kembali ke ruangan untuk berberes barangnya. Sedangkan Billa sudah menunggunya di lobi. Billa melihat resepsionis yang tadi di pecatnya masih berada di sana membuat Billa meradang.
“Bukannya tadi gua udah menyuruh lu untuk meninggalkan kantor gua!” Ucapan sarkas yang keluar dari mulut Billa, menandakan dirinya tengah berada di mode senggol bacok.
“Keputusan anda bukan keputusan final di sini Bu Billa.” Tantang resepsionis di depannya.
“Jangankan untuk memecat elu, untuk memutus hubungan dengan investor pun gua bisa.” kembali Billa meradang di buat oleh resepsionis di depannya.
“Jangan terlalu tinggi terbang di angkasa bu. Sebentar lagi pak Revan akan melepas anda, dan kembali pada istrinya.” omongan Billa sudah tidak ada harganya lagi di hadapan karyawan lainnya setelah kehadiran seorang Frizka di kantor pagi ini.
“Saya istri sah dari Revano Alibaba Sahid, saya yang mendirikan perusahaan ini. Saya yang menggaji kamu. Ketika kamu melamar pekerjaan di sini, tidakkah kamu tau hal dasar seperti ini?” Tanya Billa dengan tatapan tajam bak burung elang yang mengintai mangsanya.
“Ada apa ini?” Tanya Revan ketika melihat isrinya tengan beradu mulut dengan salah satu karyawannya.
__ADS_1
“Tamat sudah riwayat kamu Ana jika pak Revan mengetahui masalah ini.” Bisik Loli yang sedari tadi diam di samping Ani resepsionis yang melawan Billa secara terang - terangan.
“Saya tidak takut pada pelakor seperti dia Lol, terutaman dengan pelakor seperti dia.” memang jawaban Ani pada Loli teman se teamnya itu terkesan berbisik, namun bisa di pastikan Billa mendengarkan.
Billa mendorong Ani yang meremehkan dirinya, dan di saksikan langsung oleh Revan.
“Billa!!” bentak Revan pada Billa yang terlihat mendorong resepsionis yang tengah beradu mulut dengannya.
“Dia yang mulai.” Billa membela diri.
“Cukup! Saya tidak pernah mengajarkan karyawan saya untuk saling menyerang. Sekarang kamu jelaskan apa yang tengah terjadi.” Revan menghentikan Billa yang membela diri dengan membentaknya.
“Bu Billa memecat saya pak, karena mengantarkan Bu Frizka ke ruangan bapak Tadi.”Jawab Ani menjelaskan.
“Kenapa childis kamu Billa?” Revan sedikit kecewa dengan sikap Billa yang main pecat sesuka hatinya.
“Profesional dong buk, jangan membawa masalah pribadi ke dalam kantor.” Salah satu karyawan mengatakan hal yang tak pernah di lakukan oleh Billa.
“Tadi juga Bu Billa mengatakan, jangankan memecat saya yang notabennya hanya remahan rengginang. Untuk memutuskan hubungan dengan investor pun Bu Billa bisa.” Adu Ani pada Revan ketika mendengar dia tak sendiri melawan Billa.
“Benar itu?” Tanya Revan pada Billa.
Merasa di adili oleh semuanya, Billa memilih diam dan pergi meninggalkan Lobby. Revan mengejar Billa dan meninggalkan Frizka di lobby.
“Besok masuk seperti biasa, gak ada yang memecat kamu.” Frizka meninggalkan Lobby setelah mengatakan hal itu dengan senyuman yang merekah melihat Billa dan Revan bertengkar.
Di dalam mobil, Bila diam saja dan memilih duduk di depan di samping pak supir. Keputusan Billa rupanya bukanlah keputusan yang tepat. Karena Frizka mengambil posisinya dengan duduk di samping Revan.
“Billa masih belum menerima ku sebagai istrimu Revan sayang. Makanya dia bertindang yang sangat kekanak - kanakan seperti tadi. Maklumi saja lah.” Rfizka menambah rasa jengkel dalam diri Billa.
Ketika sampai di rumah, Billa langsung masuk ke kamar yang di ikuti oleh Revan. Billa duduk di tempat tidur sebentar sebelum mengganti bajunya dengan baju santai. Revan hanya memperhatikan kediaman Billa.
Setelah mengganti bajunya, Billa menghapus make up yang menempel pada wajahnya beserta kotoran yang singgah sebentar. Revan melepas bajunya dan menggantung jasnya di lemari di samping Billa membersihkan wajahnya.
“Aku mau mandi sekarang’” ucap Revan yang membuat Billa langsung ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.
Setelah menyiapkan air untuk mandi, Billa keluar kamar untuk membuatkan jus jeruk untuk Revan. Kelengahan Billa, lagi di manfaatkan oleh Frizka. Wanita yang mengaku istri pertama itu membawa kopernya masuk ke kamar Billa dan Revan.
Betapa kagetnya Revan saat keluar kamar mandi, mendapati Frizka sedang merebahkan diri di kasur berukuran lebar dan besar milik Revan dan Billa. Billa langsung menyiram Frizka dengan jus yang di bawanya.
“Punya aturan gak si lu Billa?” bentak Frizka pada Billa yang menyiramnya.
Sedangkan Revan hanya menganga tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Billa istrinya.
“Jangan pernah melewati batasanmu, gua diam bukan berarti gua kalah. Dan elu Revan, gua menghargai elu dengan tidak mengajakmu ribut di hadapan karyawan elu. Tapi dengan jelas elu membela pembunuh ini dengan mengataiku kekanak - kanakan.” Kini kesabaran Billa benar - benar sudah habis menghadapi kedua manusia yang ada di hadapannya.
“Maafkan aku, aku kurang peka terhadap mu. Aku janji akan lebih ngertiin kamu.”Revan memeluk Billa di hadapan Frizka.
__ADS_1
“Lu silahkan pergi dari kamar ini. Kalo lu mau tinggal di sini, tolong hargai gua sebagai nyonya rumah di sini.” Ucapan Billa langsung membuat Billa meradang.
“Gue istri pertama kalo lu lupa. Gue yang berhak mendapatkan semua ini, dari pada elu,” ucap Frizka dengan nada yang sangat tidak bersahabat.
“Kalo lu masih ngotot, silahkan pergi. Karena rumah ini atas nama gua.” Billa menjawab Frizka dengan nada yang lebih kasar lagi.
Frizka pergi meninggalkan kamar itu dan kembaali ke kamar tamu. Frizka masih belum terima dengan apa yang di lakukan Billa terhadapnnya. Sedangkan di kamar Billa dan Revan, kembali perang dingin. Billa kembali keluar untuk membuatkan Revan jus jeruk.
“Loh, Nya. Bukannya tadi udah bikin?” Tanya salah buk Sum pembantu rumah tangga Billa.
“Tadi pakek nyiram orang Buk, main masuk kamar seenaknya aja.” Jelas Billa dengan sisa kejengkelannya.
“Nya, bener dia istri pertama Tuan?” Tanya Buk Sum yang di simak oleh Rina teman se profesi Buk Sum.
“Apa? Ck. Terserah kalian deh, mau anggap dia siap.” Billa kaget lalu meninggalkan kedua pembantu rumah tangganya di dapur.
“Kasian Bu Billa ya mak?” Rina mengasihani Billa.
“Iya Rin, Nyonya itu orang baik lo padahal, masak tega sih Tuan kaya gitu sama Nyonya.” Bu Sum malah menyalahkan Revan.
Sedangkan di kamar, Revan sudah terlihat segar dengan baju rumahannya. Billa datang dengan membawa jus jeruk untuk suaminya.
“Masih ngambek?” Tanya Revan memeluk Billa dari belakang.
“Gak,” jawab Billa dingin.
“Kalo enggak, senyum dong.” Revan menyandarkan dagunya di bahu Billa.
“Mau mandi dulu.” Billa melepaskan pelukan Revan, namun lelaki itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
“Maafin aku sayang. Baiklah, besok akan aku larang resepsionis tadi untuk masuk ke kantor lagi.” Bujuk Revan agar wanitanya untuk tersenyum kembali.
“Bener, yaaa?” Billa mulai dengan kemanjaanya.
“Bener kok sayang, apa sih yang enggak buat kamu.” Revan merayu Billa dengan mencolek dagunya ketika sang istri sudah mnoleh ke arahnya.
Revan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat melihat Billa tersenyum. Selalu ingin mencubit atau hanya menyentuh pipi tembem Billa yang seperti bakpau.
Berat badan 50kg dengan tinggi badan 150cm, membuat Billa sedikit lebih berisi. Bahkan jika orang tidak suka, akan mengatainya seperti bola.
saya gak lagi ngiklan, saya cuma mau ngasih tau aja. dua apa tiga bab ii terakhir untuk edisi Frizka jadi saya minta tolong bersabar. iniujian untuk puasa kalian. hehehe maaf ya, saya selaku author Sahabat? mengucapkan selamat menunaika ibadah puasa bagi yang menjalankan.
saya dan keluarga besar Sahabat?, Istri misterius, Gadisku, juga kesetiaan. Mengucapkan selamat menunaikan ibadan puasa. sekaligus meminta maaf jika dalam penulisan saya mengandung kekerasan dan sedikit menggodaiman kalian.
__ADS_1
Terima kasih
Siti Aisyah