Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Inalillahiwainallihi roziun.


__ADS_3

Dalam tangis kebahagiaan setelah mendengar tangisan bayi yg membuat Levin menerka nerka berapakah yg lahir. Cinta di kejutkan dengan dokter yg keluar dari dalam ruangan dengan tergesa gesa. Tak berapa lama dokter yg Cinta kenal sebagai dokter senior Roy dengan terburu buru masuk ke dalam ruangan yg di ikuti oleh beberapa perawat pembantu tak kalah terburu burunya. Berlarian tepatnya.


Kliene keluar dengan tatapan kosong dan air mata yang membanjiri wajahnya dinyakini Levin sebagai air mata kebahagiaan. Tapi tunggu, kenapa dia terduduk di depan pintu seperti baju kotor di tumpukan ember? Lusuh dan tak bernyawa. Levin mendekati abang tersayangnya dan membangunkan memapahnya duduk di kursi depan pintu ruangan tersebut.


"Kenapa bang?" Tanya Levin setelah Kliene duduk dan minum air putih kemasan yang di sodorkan Queen.


"Ayu Vin, Ayu... huhuhu" Tangisan semakin terasa pilu karena kliene tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Mbak Ayu kenapa bang? Babynya gimana laki laki apa perempuan?" Tanya Queen penuh semangat.


"Ayu masih berjuang untuk bayi yang ke empat, tapi dia pingsan karena kelelahan." Jelas Kliene setelah sedikit tenang.


"Allahuakbar empat Kliene?" Tanya Cinta tak percaya dan mangap menutup mulutnya.


"Iya ma, sekarang Ayu kritis. Kliene gak sanggup ma melihat Ayu seperti itu. Kliene kapok ma, kasian Ayu." Kliene masih dengan ocehan ocehan yg tak tau maksudnya apa.

__ADS_1


"Kamu ngomong apa Kliene?" Rizal yg tiba tiba berada di belakang putranya pun merasa jengkel dengan ucapan sang putra.


Rizal datang bersama dengan Bram dan keluarga Ayu, Mama dan papanya. Prabowo Hadinata dan Yusi Hadinata memberikan dukungan dan semangat untuk menantu pertamanya dari putri ke tiga yg dimilikinya.


"Sabar nak, Ayu pasti kuat di dalam berjuang demi putra putri kalian." Ucap Yusi menenangkan Kliene yg sudah berada di pelukan Cinta sang mama.


Tak berapa lama Roy keluar dengan raut wajah kecewa menghampiri Cinta beserta keluarga. Roy mengucapkan maaf karena tak mampu menyelamatkan putra terakhir Kliene dan Ayu karena Harus memilih antara ibu atau anak.


"Maafkan saya dokter Cinta, Saya gak bisa menyelamatkan putra terakhir nak Kliene. Ini pilihan yg sangat sulit antara anak atau ibunya." Dokter Roy menunduk di hadapan Cinta yg memeluk Kliene putranya.


"Sabar bang, yg penting sekarang mbak Ayu selamat dan keluat dari masa kritisnya. Mungkin putramu menginginkan mamanya hidup untuk ketiga kakaknya." Queen menenangkan Kliene.


"Iya bang, abang jangan sedih. Kasian Ayu, kalo abang lemah terus siapa yg akan menguatkan Ayu nanti." Levin memeluk abang tersayangnya.


Setelah kondisinha stabil, Ayu beserta ketiga putranya di pindah ke ruang rawat. Kliene di temani Levin mengurus administrasi untuk perawatan. Levin mendeposit sejumlah uang pribadinya untuk pengobatan Ayu pasca melahirkan.

__ADS_1


"Bang, jangan kaya anak kecil ngambek ngambek an. Sekarang pikirin kehidupan kalian kedepan. Dan lagi, aku gak mau itu klinik gak jadi jadi gegara abang ngambek gak mau aku deposit in perawatan Ayu. Kesian mama bang jauh kali dia kerja, kalo klinik abang udah jadi biarlah mama yg praktek dulu di sana abang focus kuliah sambil bantu bantu mama itung itung nyari pengalaman." kata Levin menanggapi ke keras kepalaan sang abang.


"Ya sudah tapi kelas biasa aja biar gak terlalu mahal bayarnya." Akhirnya Kliene setuju namun p


untuk syaratnya Levin kurang setuju.


"Apa lu kata bang? Kagak, mbak kasi kelas 1 atau VVIP ya mbak berikan kenyamanan buat anak anak saya." Kata Levin membuat petugas administrasi bingun dua orang dengan wajah yg sulit di bedakan yg satu mengaku suami dan yg satunya mengaku papa dari anak kembar 3 yg baru di lahirkan itu.


Petugas hanya diam terpaku tanpa mengeluarkan kata kata karena kebingungan. Levin menyadari kebingungan sang petugas pun buru buru menjelaskan.


"Maaf mbak, dia kakak kembar saya, anak dia kan juga anak saya meski tidak lahir dari rahim istri saya. Dan itu bukan berarti saya memanfaatkan kembarnya saya ya mbk." Ucap Levin yg di angguki mengerti oleh petugas cantim itu.


"Maaf pak, apa istri istri kalian gak pernah ketuker menenali bapak bapak?" Pertanyaan polos petugas membuat Kliene tertawa dalam tangisannya.


"Mbak bisa bedain kan, abang saya itu cengeng kali saya kuat." kaya Levin yg memang terlihat lebih garang dari sang abang.

__ADS_1


__ADS_2