
Sore hari Billa memang tidak meminta untuk di jemput, namun sandi merasa hari ini sangat penat. Penat bagaimana harus membuat seorang kiara menyerah tanpa harus dia mengatakan hal kasar pada gadis cantik itu.
“Selamat sore bu boss.” Goda Sandi yang baru memasuki ruangan berukuran 3x4m milik Bidadari hatinya, bekerja.
“Sandiiiiii...” Billa langsung berdiri dari duduknya dan berlari memeluk sang penyejuk hati.
“Hei, sayangnya Sandi ini kenapa?” Tanya Sandi yang merasa bingung dengan sikap sang istri.
“Gua gak mau lu dandan kaya gitu lagi, pasti banyak cewek yang godain elu,” ujar Billa dengan memeluk Sandi lebih erat.
“Lu cemburu Bill?” pertanyaan Sandi membuat Billa mengangguk malu.
“Ok besok gua gak lagi kaya gini. Besok gua nyeimbangin elu deh.”Sandi mencium kelopak mata yang kini mengalirkan air kecemasan akan kehilangan dirinya.
“Janji ya, Lu gak boleh ganteng-ganteng lagi kalo gak sama gua.” Pinta Billa dengan isakan tangis dalam pelukan sang suami.
Sandi menunggu Billa kerja dengan mengerjakan beberapa pembukuan yang di kasi oleh Billa. Seakan mendapan energi tambahan, Billa bekerja jauh lebih bersemangat dari pada tadi sebelum kedatangan kekasih hatinya.
***
“Frizaka, lebih baik kamu tunggu Sandi datang dulu. Jangan seperti ini!” Ismi bersama Mariam mencoba menenangkan Frizka yang seperti orang kesetanan setiap kali telefonya di abaikan oleh Revan.
Setelah hari resepsi, laki-laki yang di nikahinya hilang bak di telan bumi. Frzka yang merasa memiliki hak atas diri seorang CEO muda berbakat itu, menjadikan dirinya seperti seorang yang hilang akan kewarasannya.
Sedangkandi sisi lain, Revan tengah menghadiri pesta pertemuan dengan di temani oleh salah satu Model terkenal. Tak sulit untuk seorang CEO muda untuk mencari pengganti istri yang sangat agresif dan berniat menundukkannya.
Bukan tak bisa di tundukkan atau tak mau tunduk. Hanya saya lelaki tampan dengan segala pencapaiannya sudah menundukkan diri pada seorang sekertaris yang pernah menemaninya selama dua tahun. Yang selama itu juga sudah mencuri hatinya.
Selain Salsabilla, tak akan aku biarkan siapapun berani menjadi Nyonya Revano Alibaba Sahid. Jangan memaksa hatiku yang sudah terkunci oleh nama Salsabilla. Itu hanya akan menyakitimu.
Kalimat yang sering dirinya lontarkan pada setiap wanita yang menemani malamnya. CEO yang dari dulu bersih akan sekandal, kini malah tak pernah sepi akan yang namanya scandal one night stand.
Sungguh besar pengaruh Salsabilla bagi seorang Revan yang mampu merubahnya menjadi seorang yang kasar dan jauh lebih dingin dari sebelumnya.
“Vano, kamu bisa bantu saya melakukan sedikit pekerjaan yang ada di Indonesi?” Itulah kata yang terucap ketika bertemu dengan Vano di acara pertemuan.
Seorang yang pernah menjadi salah satu tangan kanannya itu sudah pasti akan membantunya. Hanya saja dirinya tidak yakin apa yang dikerjakan itu sesuai dengan harapan sang boss. Vano hanya mengangguk menyetujuinya, tanpa bertanya pekerjaan apakah itu sehingga harus dirinya yang mengurus. Pasalnya sang boss juga memiliki anak buah di perusahannya yang ada di Indonesia.
“Kirimkan ini kepada Isri saya di sana. Dan katakan bahwa suaminya sudah hidup dengan senang. Jangan lagi mencari keberadaan suaminya, bahkan jangan berharap aku akan mengangkat telefonnya jika dia masih mau hidup nyaman.” Revan menyerahkan beberapa kartu dan sebuah amplop kepada mantan dari sekertaris pribadinya itu untuk seseorang yang di nikahinya beberapa waktu lalu.
__ADS_1
“Gila!! Boss tidak menginginkan wanita cantik nan sexy seperti Frizka? Seperti apa wanita yang boss inginkan?” Pertanyaan yang menggelitik pun akhirnya keluar juga dari mulut Vano karena penasaran.
“Billa, Seorang yang tak bisa apa-apa seperti Billa itulah yang aku iginkan Van.” satu nama yang keluar dari mulut seorang Revan di barengi dengan binar yang tak pernah dilihatnya selama menyebut nama siapapun.
Bahkan hanya binar kemarahan jika menyebut nama istrinya.Tak salah lagi, boss yang dulu hanya selau menjahili gadis itu ternyata benar-benar menjatuhkan hatinya pada jurang terjal yang penuh dengan duri.
Hancur? Pasti, berantakan? Tidak, karena hati itu sekarang sudah hilang entah kemana. Sekarang hanya menyisakan Revan yang tak memiliki hati. Suka bersenang-senang untuk melupahan hatinya yang hancur karena pernikahan seorag Salsabilla.
“Boss, Salsabilla kini sudah menyandang ststus Nyonya Sandia. Apa boss akan sepertiini dan tak takut mendapat tanggapan negatif dari para clien boss nantinya” Vano mencoba menasehati bossnya yang mulai kehilangan arah.
“Maka dari itu saya tidak mau ke Indonesia. Saya takut khilaf dan membawa lari istri orang.” Jawaban santai dari seorang Revan membuat Vano bergidik ngeri.
“Jangan gila lebih dari ini Boss. Sekarang bilang pada saya boss, berapa lubang yang sudah boss masuki?’ Pertanyaan tabuh pun terlontar bagai syair indah nan menggelitik pendengaran Revano.
“Kalo saya jawab tak terhitung, kamu mau apa?” Kini senyuman sinis membuat pemuda berparas bule itu seakan tak percaya bahwa seorang yang di kenal bersih kini sudah memerlukan sekilo Rinso untuk membersihkannya, atau bahkan memerlukan Vanis untuk noda membandelnya.
“Boss, apa tidak ingin memiliki anak?” Pertantanyaan kali ini membuat sang Boss tersedak dan menyemburkan air berwrna merah ke arah gadis yang di bawanya.
“Entschuldigung aus versehen” ucapan minta maaf pada wanita yang di bawanya dengan menggunakan bahasa Jerman yang fasih membuat Revan meninggalkan sang mantan sekertaris pribadi untuk membersihkan baju wanita itu.
Waktu terus berjalan dan Vano tak lagi mendapati si boss kembali lagi.Vano memilih untuk kembali ke hotel karena waktu memang sudah malam. Vano berpamitan pada sang bos melalui gawainya.
***
Tak sia-sia melakukan sidak malam, Billa memergoki sepasang karyawan yang tengah asik bermesraan di salah satu sudut cafe yang tidak terpantau kamera CCTV. Dengan terpaksa Billa mengambil tindakan memecat karena dirinya tidak mau usaha yang papanya dirikan dengan kedua kakinya sendiri itu di nodai dengan hal-hal seperti itu.
“Mbak Tia itu paling lama di cafe ini dan papa gak sekali menyanjung embak, mengatakan kerjaan embak bagus. Tapi kenapa embak melakukan hal ini?” Pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban dari sang karyawan pun membuat Billa naik pitam.
“Jangan pikir saya tidak berani memecat anda sepihak karena saya seorang perempuan yang sama seperti anda. Anda harus ingat, bahwa saya seorang yang tegas dalam apapun! Apalagi saya melihat sendiri anda melakukan hal yang sangat tidak pantas di lakukan oleh seorang yang sudah berumur seperti anda! Jangan menjadikan tempat ini maksiat hanya karena anda ingin mendapatkan pasangan. Bukan begitu caranya! Malu saya pernah mengenal anda sampai detik ini!!” Kemarahan Billa tak terelakan lagi.
“Tenang Sayang, bang Fandi sebentar lagi juga akan datang.” Sandi mencoba menenangkan Billa yang membuat siapapun akan merasa ngeri dengan tatapan mata tajam dari seorang Billa.
Benar kata orang, Danau tenang bukan berarti tidak berbahaya. Sama halnya dengan Billa yang terlihat kalem dan somplak, jauh dari kata garang seperti Levin. Namun ternyata, kakak beradik itu layak di sebut dengan binatang tak berhati jika sudah menyakiti atau membuat kesalahan terhadap keluarganya.
Fandi datang saat suasana sudah mencekam dengan aura seorang Billa yang menghitam. Fandi sendiri tak percaya jika selama ini boss yang di kenal berhati malaikat itu telah memelihara dua ekor binatang buas berwajah kucing imut dan lucu. Seperti Levin dan Billa.
Sandi dan Fandi menggidikkan bahu melihat Billa yang seprti ingin menerkam Mbak Tia, Salah satu kepecayaan sang papa.
“Mbak Tia, mending sekarang pulang saja dulu. Biar besok saya yang akan membicarakan masalah ini…” Perkataan Fandi belum selesai namun langsung di sambar oleh Billa.
__ADS_1
“Jangan harap masalah ini mendapat pengampunan dari papa. Karena saya sendiri yang mengeluarkan WTS ini. Papa tidak ada kendali jika sudah ada saya yang turun tangan.” Jelas Billa yang langsung mendapat pelukan dari lelaki penenangnya.
“Sayang, jaga kata-katanya ya,”ucapan Sandi seperti obat penenang bagi amarah untuk Billa.
Fandi membawa keluar dua orang yang tertangkap basah itu dari ruangan boss. Billa memeluk Sandi dengan manjanya.
“Sayang kenapa seperti ini sih?” Sandi mencubit dan menarik pelan hidung istrinya.
“Maaf, Billa kaya gini karena terpengaruh dengan cara Revan dalam menyelesaikan masalah yang dengan menggunakan kekerasan dan amarah untuk penyelesaian.” Kata Billa manja.
“Jangan di ulangi lagi ya, mulutnya jangan di gunakan untuk berkata kasar lagi ya. Gunakan untuk mengajari kata mama dan papa pada anak kita nanti.” Blush Billa semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang lelaki tinggi di pelukannya.
Bagaikan Maha Kali yang telah galap mata membunuh banyak iblis dan reda oleh Mahadewa yang terpijak olehnya. Begitupun Billa yang luluh oleh pelukan dan kata manja dari sang suami. Billa dan Sandi pulang ke rumahnya yang berjarak lumayan jauh dari cafe tempat Sandi-Billa sidak.
Dalam perjalanan Sandi memberhentikan mobilnya di sebuah rumah makan sederhana yang menawarkan soto ayam. Mungkin soto ayam anget sangat cocok untuk mereka yang dari tadi kedinginan oleh AC dan juga dinginnya angin malam.
Iklan bentar ya sayang, jangan sakit hati. saya mendengar kalian . karena kalian Cintaku huhuhuhu ailupiyu
pembaca 1: Mbak, mana sih janjinya buat crazy up nya?
penulis: hmmm (dalam hati, mulutmu adalah harimaumu) senyum senyum
Pembaca 2: Mbaknya sibuk di GC
penulis: hmm (saya butuh hiburan, seharian di tambah setengah malam mlototin laptop matanya minta air segar) Di tuggu ya
Pembaca 3: di tunggu janjinya ya mbak.
penulis; Masih di kerjain sayang
pembaca yang lain hanya nyimak dan tanpa meninggalkan apapun, boleh gak penulisnya nangis bentar???? Huuuuuu tinggalin apa like atau koment sayang, jangan kaya mantan yang keberadaannya tak pernah di anggap ada meski pernah mewarnai hari-harimu.
pembaca 2: vote di hold ya mbaknya sampek crazy up.
penulis: T.T
__ADS_1