Sahabat?

Sahabat?
Levin sakit


__ADS_3

Sore ini gerimir mengundang. Cinta dan Rizal bersantai bersama putra putranya, di tambah dengan Queen dan Rara putri ke dua abangnya. Tak lama kak Mae datang mengajak putrinya Aqila untuk bergabung dengan mereka. Duduk di teras belakang dengan beralaskan kasur lantai dan banyak bantal dan boneka Queen yg berada di sana selama Queen tinggal bersama.


Cinta menyuguhkan berbagai macam cemilan buatannya sendiri seperti kentang goreng, puding, brownis kesukaan Kliene dan pisang goreng kesukaan Levin. tak lupa juga pisang rebus kesukaan Queen. Untuk minumannya Cinta membuat coklat hangat karena cuaca yg memang sangat dingin meski hanya gerimis.


"Mama Kliene mau makan jagung rebus." Rengek Kliene.


"Lah, gak ada sayang. adanya ini aja, mau pisang rebus?" Tanya Cinta memberi pilihan.


"Puding saja lah. Tapi janji besok rebusin jagung ya ma." kata Kliene.


"Iya sayang, kalo di mamangnya ada." Mamang pedagang sayur keliling.

__ADS_1


"Papa, dulu mama sama papa itu teman kecil ya?" tanya Levin.


"Iya sayang, siapa yg cerita?" Tanya Rizal.


"Oma yg bilang, katanya mama sama papa temenan pas kecil. Levin gak mau temenan sama Queen pa, nanti Sampek gede temenan terus. kan sakit kuping Levin dengerin Queen ngoceh terus." Oceh Levin membuat Rizal dan cinta tertawa namun tidak dengan Queen.


"Awas nanti kalo Queen udah cantik kaya mama Cinta. Queen mau nyari temen kaya papa Rizal yg baik suka gendong Queen sama suka beliin es krim. Queen gak mau punya temen Levin yg pelit. di minta pudingnya aja gak boleh." Jawab Queen yg langsung meluk Rizal manja.


"Iya pa, pelit banget. padahal kan kemaren Levin sama Kliene si kasi jajan buatan bunda terus Queen minta roti bakar dikit aja punya Levin tapi gak di kasi pa. untungnya Kliene baik banget jadi di kasi setengah. Queen mau temenan sama Kliene aja." Adu Queen membuat Rizal dan Cinta tersenyum.


Levin diam tak seperti biasanya. dia akan membalas perkataan Queen tapi saat ini dia hanya memegangi cup bekas puding. Cinta merasa curiga lalu mendekati putra keduanya itu. Cinta memeriksa keadaan Levin dengan menempelkan punggung tangannya di kening putranya.

__ADS_1


"Mas, Levin panas tinggi." Cinta kaget setelah mendapati putranya dengan suhu panas yg mencapai 39°C.


Cinta memberikan Paracetamol dengan dosis sesuai umurnya. Cinta mengompres Levin dengan air dingin. sudah semalaman Cinta menjaga Levin. Suhu badanya pun sudah turun dan mendekati normal. Pagi pagi sekali Queen datang ke rumah Cinta dengan membawa makanan kecil.


"Levin, Queen bawain roti selai yg sudah di gulung terus di iris iris sama bunda. Ini buat Levin, di makan ya." Bujuk Queen membuat Levin membuka mulutnya yg dari semalem susah untuk di suruh makan.


"Nah gitu dong. Levin kan pinter, nanti kalo udah sembuh gantian ya Levin yg beliin Queen es krim." celoteh polos Queen membuat Cinta tersenyum.


Levin mengangguk males dengan memakan roti selai gulung yg di siapkan oleh Queen. Queen terus menyuapkan untuk Levin sampai habis.


"Nurut sekali anak mama ya sama Queen." ledek mama Cinta.

__ADS_1


Sebenernya bukan mau nurut sama Queen. tapi Levin lebih tidak mau mendengar ocehan dari Queen. Maka dari itu Levin nurut nurut saja sama Queen. Setelah itu Cinta memberi obat dan menyuruhnya kembali beristirahat. Queen meninggalkan Levin meski berat. Entah apa yg di pikirkan anak sepiyik Queen yg enggan untuk beranjak dari kamar Levin.


__ADS_2