Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Perjanjian Billa


__ADS_3

Hari pernikahan Billa dan Sandi di laksanakan tepat di hari ulang tahun Aris atas permintaan Sandi. Di tanggal 5 bulan Mei adalah ualang tahun yang ke 22 tahun, yang akan menjadi keinginan Aris untuk menikahi Sandi. Namun karena kecelakaan saat menyusul Billa ke bandara telah merenggut nyawanya di tempat.


Lima hari persiapan pernikahan Billa dan Sandi merupakan sebuah awal dari kehidupan misteri yang akan membawa Billa dan Sandi menjalani hidup penuh dengan drama. Hari ke empat, sehari sebelum hari pernikahan berlangsung. Sandi membawa Billa mengunjungi makam Aris yang tak jauh dari kediaman yang di tempati Sandi saat ini merawat Frizka.


“Bis, sesuai permintaan lu, gua bakalan nikahin Billa. Tapi gua masih gak bisa berjanji memberikan kebahagiaan seperti elu membahagiakan Billa.” Kata Sandi di atas pusara sang sepupu.


“Kenapa lu tega banget sama gue Ris? Gue setia menjaga cinta kita, tapi lu kenapa dengan mudahnya memberikan gue pada manusia macam Sandi?” Isak tangis Billa memenuhi setiap kata yang keluar dari mulutnya.


“Bill, gue gak akan menyentuh lu selama lu belum bisa menerima gue. Dan gue nanti akan tinggal bersama Frizka di kamar rawatnya. Bisa gue minta pemakluman lu kan?” Tanya Sandi membuat Billa merasa bersalah.


“Tugas lu cuma menyematkan cincin ini di jari manis gue San, bukan menghancurkan hidup lu. Gue juga nanti akan balik lagi ke Jerman untuk melanjutkan kontrak kerja di tempat kerja gue saat ini. Mungkin aku akan mengambil perpanjangan masa kontrak, setelah enam bulan lagi masa kontrak gue harus di perpanjang.” Terang Billa yang sepertinya sangat terpukul dan belum menerima keputusan Aris yang menyerahkan dirinya pada SAndi.


Malam telah menyapa Sandi dan Billa yang kini sudah berada di salah satu cafe milik Rizal papa dari Billa. Sandi menurunkan Billa di Cafe itudan meninggalkannya setelah berpamitan pada sang calon mertua. Di Cafe itu tidak hanya ada Rizal dan Levin, namun juga Revan dan Vano yang kebetulan mampir setelah mengantar Vano ke gereja samping Cafe Rizal berdiri.

__ADS_1


“Bapak mau langsung balik ke Jerman atau menunggu pernikahan saya dulu?” Tanya Billa ketika duduk di balebengong bersama Abang, Papa Boss juga Vano rekan kerjanya.


“Kenapa jadi terasa kamu mengusurku?” Tanya Revan bercanda.


“Bill takut bapak akan patah hati ketika mendengar ijab kabul seorang yang selalu bapak akui istri saat pesta dengan lelaki lain.” Goda Billa yang membuatRizal dan Levin tidak bisa mengerti kejadian apa yang terjadi pada putri dan adiknya di Jerman.


“Iya, saya akan sakit hati karena tidak akan ada lagi orang yang minta berganti posisi sebagai boss karena tidak mau masak.” candaan itu telah membuat Levin maupun Rizal tertawa mengerti jika tidak adanya keseriusan di antara pembicaraan mereka.


“Oklah pak, berarti malam malam berikutnya kita bisa leluasa tidur berdua tanpa omelan seorang Salsabilla yang sangat memekakan telinga.”Kini Vano berkomentar dan melempar sendok minumannya.


“Kamu gak mau bantu Abangmu di perusahaan?” Tanya Rizal.


“Kontrak Billa masih enam bulan lagi, dan kebetulan Sandi juga masih harus kembali ke Singapura. Frizka masih di sana dan kuliah Sandi juga belum kelar pa.” Jawab Billa santai sambil menundukkan kepala mengaduk gelanya.

__ADS_1


“Ya sudah kalau itu pilihan kalian, kalian yang menjalani jadi kalian sendiri yang memilih. Inget orang tua saja kamu Billa, jangan seperti sebelumya.” Rizal berpendapat.


“Maaf Pa.”  Billa menundukkan kepala merasa bersalah.


 


Malam telah berganti dengan pagi mendebarkan. Dari jam 4 subuh, Billa sudah harus bangun. Setelah sholat subuh, Billa di ria oleh penata rias kenalan Queen. Menunggu jam 8.00WIB sangatlah membisankan. Billa berdiam diri di dalam kamar di temani kedua orang yang dua tahun terakhir ini menghiasi hari harinya.


“Sumpah Bill gue pangling banget sama lu, iya gak pak.” Kata Vano menggoda Billa.


“Diem lu, Ini sumpah berat banget dan gue harus tahan dengan pakaian kaya gini selama seharian penuh Van. Bayangin aja ribetnya udah males keluar gue.” Kata Billa menggerutu namun bukannya iba, kedua orang itu malah ketawa bahagia.


 “Saya akan kasih kamu keringanan liburan Bill, Tapi dengan syarat kamu kembali lagi ke perusahaan saya.” Revan menyodorkan sebuah tiket pesawat beserta voucher liburan ke Disney land sesuai impian dia selama ini.

__ADS_1


“Ya ampun sumpah, ini hadiah palig berkesan buat Billa pak. Makasih bayak ya pak.” Billa memeluk Revan tanpa sadar karena rasa bahagianya


__ADS_2