Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Awal kehancuran


__ADS_3

Malam smakin larut namun Levin masih belum juga kembali ke kamar. Queen terbangun karena merasa haus ingin minum yang dingin dingin. Queen berjalan menuju ke ruang kerja Levin, dan melihat betapa berantakannya sang suami. Levin menangis sesenggukan dengan kepala bertumpu pada lengan yg di lipat di atas meja.


"Levin, kenapa kamu menangis?" Tanya Queen yg melihat semua kertas berserakan di lantai.


"Ayah mencuri berkas yg aku simpan di brangkas kantor. Dan mengakibatkan kerugian yg parah Queen, gimana kalo papa tau perusahaan yang pernah dia bangkitkan kini luluh lantah kembali karna ulah anaknya?" Keluh Levin dalam pelukan sang istri.


"Vin, jangan menyalahkan diri sendiri. Mending kita minta bantuan papa, kalo kaya gini papa harus tau. Kamu jelas bukan tandingan Ayah." Kata Queen menenangkan Levin.


"Aku takut Queen, papa pasti marah sekali dengan keadaan yg ada ini." Kata Levin dengan keputus asaannya.


"Yakin lah Vin, papa gak akan marah. justru kalo kamu kaya gini papa akan marah. Papa itu gak pernah membiarkan putra putrinya dalam masalah." Queen terus mendorong Levin untuk memberi tahu sang papa.


"Apa kamu yakin?" Tanya Levin yang masih tak percaya.


"Coba dulu." Queen kembali meyakinkan Levin.


Malam itu juga Levin ke rumah Rizal tanpa membawa Queen. Levin mengutarakan semua masalah yg tengah di hadapinya. Ternyata Rizal sudah mengetahui perihat pencurian dokumen itu.


"Vin, kunci semua data yg ada di sistem mu. Papa akan bantu menstabilkan kondisi dulu." Kata Rizal menyuruh Levin sebelum menghubungi Arya.


"Assalamualaikum, bang. Sibuk gak?" Tanya Rizal pada Arya.


"Enggak, ini lagi nonton tv sama Yura dan Yuga. ada apa ya Zal? Tumben lu terlfon gua." Tanya Arya penasaran.


"Masalah seperti dulu bang. Bisa bantu?" Tanya Rizal pada Arya yg dulu juga membtu membangun kembali perusahaan itu yang akan luluh lantah.


"Ya sudah, gua bantu dari sini ya. Nia hamil tua, gak mungkin gua tinggalin." Kata Arya yg mengagetkan Rizal.

__ADS_1


"Mbak Nia hamil tua? Gila, masih tajem juga keris bengkok." Kata Rizal yg di sambut gelak tawa dari rekan bisnis pertamannya.


"Sialan, gini gini masih di asah setiap hari." Kata Arya yang membuat Rizal kembali terkekeh.


"Hahahaha ya sudah bantuin kesian ni Levin sampek nangis nangis gara gara Rama." Kata Rizal dari balik sambungannya.


"Rama itu kasi sengatan kecil Zal, biar tau seberapa besar kekuatan lu. Lagian Rama tega banget sama ponakannya sendiri heran gua." Kata Arya tak habis fikir.


"Jangankan elu bang, gua aja juga heran. Di depan mata gue dia nantangin anak gue duel. Apa gak takut apa ya kalo gue turun tangan. Secara yg ada di sana kan orang orang gue." Kata Rizal geram.


"Elu lembek Zal, mentang mengang itu kakak elu. Jadi elu ngasih gitu aja ke dia. Eh Zal, udah lu kunci kan sistem anak lu. Gua udah masuk ini." Kata Arya yg sudah berhasil masuk ke sistem perusahaan.


"Sudah bang, lu masuk aja dan ancurin itu semua." Kata Rizal penuh keyakinan.


"Ancurin? bisa bangrut ini perusahaan lo Zal. Cuma nyisahin punya anak lo doang ini." Kata Arya kembali meyakinkan Rizal.


"Gak apa bang, gua udah punya cara lain untuk membangkitkan kembali. Yang penti punya Rama hangus its ok buat gua bang." Kata Rizal lebih yakin.


"Ok, aku juga sudah menghubungi pak Gibran sama pak Ahmad investor tetap perusahaan dan menceritakan semuanya melalui email." Kata Rizal yg sudah mengirim email pada kedua investor tetapnya.


"Bagus. Emang ya, elu dan anak elu itu emang monsternya bisnis. Untung anak lu masih belum bisa mematikan data. Besok dah gue ajarin anak lu biar lebih gila lagi kerja." Kata Arya pada Rizal.


"Lu bakal ngajarin apa ke anak gua?" Tanya Rizal pada Arya.


"Gua ajarin ngelolah data lah Zal, masak iya gua ajarin bikin bayi." Kata Arya sambil bercanda.


"Jangan salah, mantu gue udah hamil 4Bulan." Kata Rizal bangga.

__ADS_1


Levin yang sedari tadi hanya mendengarkan papa sama sahabatnya itu ngobrol sambil mengotak atik komputernya pun hanya bisa diam. Levin menelfon Mario yg merupakan orang kepercayaannya untuk membantu juga. Sama halnya Rizal yg memiliki Arya, Levin memiliki Mario, Mario tak bisa di pandang remeh, karena kemampuannya jauh lebih unggul dari Arya dalam mengolah data. Bahkan Mario dapat membuat Virus dalam hitungan menit.


"Pa, Mario menemukan ini. Di hapus apa di biarin aja?" Kata Levin yang menunjukkan sebuah dokumen yg masih terkunci.


"Oh jangan, itu dokumen yg tau cuma mami mertuamu. Papa saja gak tau itu isinya apa." Kata Rizal melarang Levin untuk membuang dokumen yang terkunci itu.


"Mami?"


"Mamimu itu otak bisnisnya keren Vin, hanya saja dia selalu salah memilih pasangan hidup. Jadi ga berantakan hidupnga." Kata Rizal.


"Papi Toni juga bilang gitu."


"Mamimu itu putri tunggal om Herman rekan bisnis kakek Bram sekaligus orang kepercayaan kakek" Kata Rizal menjelaskan.


"Tapi kenapa hidupnya bisa berantakan gini sekarang pa?" Tanya Levin penasaran.


"Itu karena ego mamimu tinggi, setelah menikah dengan Ayah Rama. Kakek mertuamu, pak Herman menetap di Jayapura karena dia kepingin suasana yg berbeda. Sesekali saja beliau balik ke Jakarta untuk mengunjungi mamimu dan Queen. Semenjak kejadian mamimu dan Oma Inggrit depresi, pak Herman dia enggan untuk kembali sampai saat ini." Kata Rizal menjelaskan.


"Lama sekali pa. Oh iya pa, papa jangan cium cium sama peluk peluk Queen lagi napa. Queen itu istri Levin pa, bukan anak kecil lagi." Mendengan omobgan Levin, bukannya marah Rizal malah tertawa lepas dan membuat Cinta keluar menemui suami dan putranya.


"Kalo gitu, jangan manja manjaan sama mama. Mama itu istri papa, dan kamu bukan anak kecil lagi. Inget, jangan peluk peluk mama kalo papa gak boleh peluk peluk Queen." Kata Rizal yg membuat Arya ikut tertawa di bali sambungan telefonnya.


"Hahaha kalian itu ya. Untung istri istriku gak ada yg berebut buat minta di peluk." Kata Arya lagi.


"Itu karena mereka gak cinta mati sama om. Buktinya gak ada cemburu, Inget om cemburu tanda cinta, bener gak pa?" kata Levin mencibir papa dari kedua sahabat putrinya.


"Hahaha dasar kalian ini. Bapak sama anak sama aja." Kata Arya yang semakin lebar dan kencang tertawany.

__ADS_1


"Saya denger bang Arya, besok istri mana dulu yang di kasih tau bang?" Kata Cinta menggertak sahabat dari suaminya.


"Jangan jangan jangan Cinta, Gua bercanda doang." Kata Arya mohon mohon.


__ADS_2