Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Reuni


__ADS_3

Seminggu berlalu Billa dan Sandi kembali ke Singapura. Untuk sementara Sandi membawa Billa untuk tinggal di apartemen yang di sewa Sandi untuk meletakkan buku buku juga baju bajunya selama ini.


"Bill kita tinggak di sini dulu ya, kalau ada waktu gue cariin tempat yang lebih nyaman buat kita tinggal." Ucap Sandi membuka pintu untuk Billa.


"Ini cukup buat gue betah kok asal sama lu San." Kata Billa membuat Sandi tersenyum sendiri.


"Bill, kalau di sini begitu nyaman buat lu. Apa pelukan gue udah terasa hangat di hati lu?" Tanya Sandi malu malu.


"Kalo itu, terlalu hot Baby." Billa mendekati Sandi yang duduk di sofa dengan gaya centilnya.


"Bill gue masih polos, tolong jangan perkosa gue." Sandi menutupi badannya dengan kedua tangannya yang membuat Billa gemas ingin menggoda Suaminya.


"Oh Baby, sepertinya kepalamu minta di getok pakek palu. Kenapa otakmu begitu mesum?" Ucap Billa sambil menyentil dahi Sandi yang menutup mata.


"Sakit Billa. Kenapa jiwa menindas lu gak ilang ilang sih?" Tanya Sandi yang memegangi dahinya karena kesakitan.


"Ya habisnya otak lu itu gak pernah di pel sih. Makanya kotor dan ngeres." Ucapan Billa membuat sandi hanya nyengir kuda.


"Lu bisa masak San?" Tanya Billa yang melihat isi kulkas yang penuh dengan sayur sayuran.

__ADS_1


"Eh" Sandi terlonjak dan segera menutup kulkasnya.


"Gue curiga kalo lu itu menyembunyikan sesuatu dari gue." Billa memicingkan matanya mencari rahasia Sandi yang tersimpan rapih.


"Sebenernya ada temen kuliah yang setiap pagi sama sore dia numpang masak di sini." Ucap Sandi.


"Cewek apa cowok?" pertanyaan yang membuat Sandi puas melihat rasa cemburu di mata istrinya.


"Lu cemburu Bil?"


"Enggak, enak aja gue cemburu sama lu. Heh gak banget cemburu sama kadal kaya lu." Jawab Billa mengalihkan pandangannya.


Tak lama pintu terbuka dan menampilkan dua orang yang sangat di kenal oleh Billa.


"Ma....ma... maaf Bill...llaa" Ucapan Wanda terbata bata karena takut.


"Sudah lah biarkan mereka masak. Kasian mereka." Bisik Sandi yang masih belum mau melepas pelukannya.


"Seharusnya gue yang nanya, ngapa lu di mari Marpuah????" Ida memukul lengan Billa sebelum memeluknya.

__ADS_1


"Ya ya gue emang ngangenin tapi meluknya jangan kenceng kenceng gak bisa napas gue." Billa berusaha melepas pelukan sang teman semasa SMA itu.


"Lu kemana aja? lu gak tau kuping gue hampir busuk dengerin Sandi terus ceritain lu berulang ulang. Tapi selamat ya kalian sudah menikah. Gue yakin Frizka juga bisa nerima kalian." Ucap Ida melepas pelukannya pada Billa.


"Tunggu tunggu, jadi selama ini ada yang gibahin gue gitu?" Billa melirik Sandi sang suami.


"Lu gak pengen meluk gue apa Bill?" Wan da terlupakan di depan pintu.


Matanya mengeluarkan air yang begitu derasnya. Wanda sangat merindukan sosok Billa yang selalu melindunginya. Wanda memang selalu di bully oleh Billa tapi sebenarnya Billa lah sosok pahlawannya. Selalu melindungi dari kakak kakak kelas yang dulu malakin Wanda.


"Cup cup cup, anak bunda jangan nangis lagi ya. Sini bunda iyuk iyuk." Billa mencubit kedua pipi Wanda gemas.


"Gue rela lu apain aja Billa asal jangan tinggalin gue lagi." Wanda memeluk Billa dengan tangisnya yang semakin menjadi.


"Hahaha iya, tapi untuk enam bulan kedepan gue akan bolak balik Jerman Singapura. Gue ada kerjaan di sana." Jawab Billa.


"Gue gak ngasih lu balik lagi sama boss lu. Apaan, kagak kagak. Gak Ridho gue." Sandi menunjukkan protesnya.


"Yang bilang lu Ridho Riski siapa bambang? Lu kan bang Roma." tawa pecah dari ketiga perempuan di depannya membuat Sandi jengkel sendiri.

__ADS_1


"Sudahlah masak sana kalian laper gue. jangan lupa ajarin Billa masak." Sandi melepas jaketnya sebelum merebahkan diri di kasur.


"Baik yang mulia." Jawab Billa gemas.


__ADS_2