
Pagi menyapa Billa dan Sandi, yang sebenarnya mereka telah kesiangan untuk sholat subuh. Sandi melihat istri yang menjadi miliknya semalam masih tidur terlelap di sampingnya. Meski mereka terbangun jarang dalam keadaan berpelukan, tapi Sandi selalu mencium kening sang istri.
Jam sudah menunjukkan di angka 07.32 pagi dan Sandi baru bangun. Sandi langsung mandi dan tak lupa untuk bersesuci mandi besar setelah pergulatan semalam.
Billa masih belum bangun juga bangun sedangkan Sandi sudah bersiap dengan baju kemeja juga celana kainnya. Meski tidak memakai jas dan dasi sepeti mertua dan kakak iparnya, ketampanan Sandi tidak berkurang sama sekali.
Sandi mencoba membangunkan Billa, namun istrinya itu hanya menggeliat dalam tidurnya. Sandi mencium kening dan kelopak mata Billa lalu berpamitan dengan membisik di telinganya.
“Ma, nitip Billa nanti kalau sudah bangun gak usah nyusul. Biar Sandi aja yang sidak.” Sandi berpamitan pada mertua cantiknya dengan menitipkan bidadarinya.
“Siap mantu mama.” Kata Cinta setelah mencium sang suami.
Sandi mengikuti sang mertua dengan berjalan di belakangnya, di perkenalkan kepada para staf sebagai salah satu pemimpin yang menggantikan dirinya selain Levin dan Billa tentunya. Di tempat lain Billa mandi dengan terbur-buru dan segera bersiap untuk kerja. Dengan mengenakan baju formalnya Billa keluar kamar dan mencari sang mama ke dapur.
“Mama,Sandi mana?” Tanya Billa dengan mengambil susu dalam kulkas lalu menuang ke dalam gelas sebelum meminumnya.
“Sudah berangkat tadi sama papamu. Sandi berpesan biar kamu di rumah aja katanya. Kamu kenapa? Gak enak badan? Kok tumbe bangun siang?” Tanya mamanya yang merasa sedikit aneh dengan anak gadisnya itu.
“Enggak kok ma, cuma semalem Billa tidurnya malem banget.” Kata Billa sambil memakan roti yang di olesi selai kacang kesukaannya.
“Billa itu di dagu kamu kenapa?” Cinta memegang dagu Billa yang terdapan seperti coretan lipstik, namun saat di gosong oleh Cinta goresan itu tidak mau hilang.
“Emmm anu ma ini…. ini…. kerjaan Sandi. Billa berangkat dulu.” Jawab Billa tergugup sambil berlari menjauhi sang mama.
“Mama billa berangkat ke cafe papa,” ucap Billa sedikit teriak karena jarak yang sedikit jauh dari mamanya.
__ADS_1
“Mama ih, kaya gak pernah jadi pengantin baru aja.” Cibir Ayu pada kekepoan mama mertuaya.
“Lah tapi dulu papamu gak pernah buat kaya gitu lo Ayu.” Jawab polos Cinta.
“Lah mama dulu pas nikah itu kan masih SMA tu. Gak gituan dulu ma?” Tanya Ayu yang usil pada mertuannya.
“Papamu dulu malah menghindar. Ya mama pancing aja.” Jawab sang mertua membuat menantunya tersenyum.
“Bahas apa ini?” Tanya Queen yang baru datang dengan segala kekepoannya.
“Ini lagi mau tanya gimana papa Rizal dulu sama mama.” Jawab Ayu.
“Iya kah? Emank gimana ma, papa? Romantis gak?” Tanya Queen yang semakin kepo.
“Kalo papamu itu sedikit takut-takut. Gak tau kenapa Levin sama Kliene kok bisa berani gitu. Terutama si Levin, berani sekali dia melawan siapa saja gak perduli tua muda. Tapi kalau masalah romantis, papa kalian masih belum ada yang bisa menandingi.” Kata Cinta kepada kedua menantunya dengan senyum malu malu.
“Iya mama dulu sering gombalin papamu, tapi papamu gak bisa bales. Tapi langsung dengan tindakan.” jawab Cinta malu malu.
“Contohnya?” Kini Ayu yang tersulut dengan jiwa kekepoannya.
“Dulu dari kecil mama sama papa itu kalau makan bareng selalu satu piring berdua. Dan itu kebawa sampai kalian menikah,” ucap Cinta sedikit sedih.
“Kenapa gitu ma?”
“Ya malu 'lah sama kalian.” Cinta pergi meninggalkan kedua menantunya yang masih kepo berat.
__ADS_1
Di sisi lain saat Sandi tengah mengecek kasir di salah satu cafe Rizal tanpa di temani sang mertua. Ulik nama kasir yang kini berada di sebelah Sandi tengah menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Ciptaan yang sangat sempurna dengan kulit putih bersih juga wajah tampan juga tinggi badan idaman.
“Maaf aku telat,” ucpa Billa membuyarkan pandangan sekaligus khayalan seorang kasir bernama Ulik itu.
“Gak apa-apa sayang, Sudah enakan?” Tanya Sandi yang membuat sang kasir terkejut ketikan lelaki yang baru saja bermain dalam bayangannya memanggil seorang perempuan dengan sebutan sayang.
“Udah kok, tadi kenapa gak bangunin?”Tanya Billa dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
“Sudah gua bangunin tapi kayanya lu kecapekan. Makanya gak gua bangunin,” ucap Sandi kembali mengotak atik komputer yang ada di depannya.
“Iya, gue laper San, tapi mami tanya-tanya gak penting jadi ya baru makan roti dikit udah gue tinggal.” Kata Billa membuat Sandi tersenyum.
“Maaf ya, ya sudah sana pesen ke belakang. Ini komputernya ada permasalahan dikit,” ucap Sandi mengacak rambut Billa sekilas.
Pemandangan romantis dari kedua orang itu mematahkan hati seorang Ulik pagi-pagi. Tuhan, kenapa jahat sekali sama Ulik? Batin Ulik serasa terhempas setelah nak ke angan-angan bersama sang bidadara si sampingnya yang ternyata suami dari putri pemilik cafe tempat dirinya bekerja.
“Lu udah makan San?” Tanya Billa dengan membawa burger di tangan kananya dan piring di tangan kirinya.
“Sudah tadi sayang,” Meski mengatakan udah tapi Sandi masih menggigit burger yang ada di tangan Billa.
Setelah memakan burger dan meminum Es teh yang di ambilnya dari dapur cafe, Billa membantu Sandi dan menemuka pokok permasalahan yang membuatnya sedikit pusing semalam. Setelah menyetel ulang komputer kasir, Billa menuju ke komputer papanya di dalam. Billa menghabiskan waktu bersama Sandi berkeliling cafe papanya untuk mengecek apakah memang salah sistem seperti toko pertama.
Jam sembilan malam Billa dan Sandi baru pulang ke rumah, sedangkan yang lain sedang nonton televisi di ruang tengah. Levin dan Queen pun ada di sana berkumpul menikmati acara komedi yang di tayangkan di televisi.
“Assalamualaikum gadis cantik udah dateng membawa sebongkah berliaaaaaannnnn,” ucap Billa meletakkan sebungkus gorengan dan sekotak martabak telur dan manis.
__ADS_1
“Yakin masih gadis?” Sindir Queen dengan menggigit tahu isi lalu di susul dengan menggigit cabe hijau di tangan satunya.