
"Sholatullah salammullah Alatoha rosulillah, Sholatullah salammullah Alayasin habibillah. Tawasalnabibismillah wabilhadii rosulillah, Wakulimujahidilillah biahlilbadriayaallah." Begitulah pengalan nyanyian Cinta untuk menidurkan buah hatinya di siang hari.
Orang tua Cinta dan Orang tua Rizal yg kebetulan berkunjung melihat Cinta memperlakukan kedua putranya itu dengan lenuh kasih sayang. Cinta memang baru berumur 22 tahun saat ini, Namun tingkat kedewasaan yg ia miliki melebihin Mae. Kakaknya yg kini sudah berumur 25 tahun.
"Mereka sudah tidur nak?" Tanya Mama Erna merangkul Cinta.
"Iya mah sudah. Oh iya mah, kata mas Rizal untuk tujuharian besok sekalian aqiqahan katanya." Kata Cinta menyampaikan rencana Rizal.
"Kita orang tua ngikut aja kata Rizal. Kan sekarang dia lebih tau dari pada kami." Ucap papa Rizal.
"Papa kok gitu, mas Rizal ngikut aja apa kata orang tua cuma katanya sekalian mumpung di ingetin sama nitizen soalnya." Ucap Cinta menambahkan.
"Nitizen? Siapa itu?" Tanya papa Rizal.
"Yg baca novel ini pa."
"Ooohhh gitu. Salamin dari papa gitu ya. hehehe"
"Is papa ni...."
__ADS_1
"Udah udah pada ngelantur ngomongnya." Tegur mama Rizal.
"Tau tu papa ganjen kali jadi kakek. Inget cucu pa." Celetuk Rama.
"Iya maaf. Terus Rizal tau berapa kambing yg harus di korbankan?" tanya papa Rizal.
"Rizal sudah membeli 5 kambing pa tu ada di halaman belakang." Kata Cinta.
"Kenapa 5? Laki laki 2 kambing. Anak kalian 2 jadi 4 lah seharusnya." Terang papa Cinta.
"Yg satu untuk anaknya bang Rama pa. Kata Rizal mumpung dia mampu memberikan untuk keponakan tersayangnya." Kata Cinta sambil berjalan mendekati orang tua dan mertuanya yg duduk di sofa dalam kamar tersebut dan Rama duduk di ranjang bersama Rena.
"Makasih ya Cin bilang sama Rizal. jujur gue malah gak kepikiran sampek ke sana." Terang bang Rama.
"Hahaha tu lo tau. Zal yg di Bandung itu kemaren di mintai surat ijin. Gue gak tau jadi hari ini tutup karena gak ada surat ijin." Terang Rama yg sempat di kunjungi oleh aparat setempat.
"Oh iya bang gue lupa. Nanti gue kasi ada di ruang kerja gue. Entar kalo pulang ingetin ya." kata Rizal menupuk keningnya.
"Siap pak boss." Kata Rama.
__ADS_1
"Hai cinta kasihnya papi sama mami." Cinta menjauhkan tangan Rizal saat ingin menyentuh kedua anaknya.
"Baru tidur mas." Kata Cinta pelan.
"Ya sudah kalo gitu. Papa Rizal bikinin kopi ya? Sambil ngobrol di belakang." Kata Rizal ke kedua papanya.
Setelah membuatkan kopi Jawa kesukaan kedua papanya. Rizal mengajak papa papanya mendekati kandang kambing.
"Pa, untuk acaranya mau sapi ato kambing juga?" Tanya Rizal.
"Lah ini gak untuk acaranya Zal?" tanya papa Cinta.
"Niat Rizal, daging aqiqahannya di bagi ke tetangga saja lah pa. Terus untuk acaranya kita beli lagi. Tapi Rizal ragu mau beli kambing ato sapi." Terang Rizal meminta pendapat.
"Oh gitu. Itu lebih bagus sih, mau acaranya besar ato kecil?" Tanya papa Rizal.
"Maunya biasa aja pa, adain ngaji sekalian potong rambut dan pemberian nama. Terus anak Rizal kan lahir di hari yg sama tu sama anaknya abang. Jadi maunya jadiin 1 aja biar gak terlalu banyak ngabisin. Lagian biar para orang tua gak bingung mau bantuin yg mana." Terang Rizal.
"Jauh juga pemikiran kamu ya nak." Kata papa Cinta.
__ADS_1
"Udah ngomong sama abangmu?" Tanya papa Rizal.
"Sudah pa, bang Rama katanya bantu uang 5 juta. Makanya Rizal pengen omongin ini sama papa papa. oh iya om Herman juga tadi bilang kalo acara aqiqahan cucunya mau nyumbang beras 2 karung. Jadi kita gak usah beli beras lagi." Jelas Rizal