
Gema takbir bersahutan, di situlah suasana haru pecah di rumah Cinta. Levin adalah orang pertama yang meneteskan air mata.
Cinta yang berusaha untuk kuat pun akhirnya tumbang juga. Cinta pingsan di saat Levin sebagai orang pertama meminta maaf padanya.
"Ma, selama ini Levin tidak pernah bisa berbakti seperti yang seharusnya. Levin juga tidak bisa menjadi anak yang membanggakan bagi mama dan almarhum papa. Levin janji, mulai sekarang Levin akan membahagiakan mama di atas kebahagiaan kami."
Cinta menangis mendengar apa yang di katakan putranya. Kliene sebagai pengganti Rizal yang menemani Cinta duduk di kursi pun kaget melihat ibunya tiba-tiba pingsan.
"Maa..."
Kondisi Cinta semakin memburuk, kesehatannya tak lagi seperti dulu. Pikirannya hanya tertuju pada sang suami yang sudah berada di alam yang berbeda.
"Vin, Billa panggil. Kita harus mengumpulkan semua keluarga." Kliene sudah paranoid dengan keadaan Cinta saat ini.
Bagaimana tidak, ibunya yang selalu kuat bila bersama dengan papanya. Kini terlihat sangat rapuh sekali tanpa Rizal.
__ADS_1
"Jangan buat semua jadi ketakutan! Billa sama Revan masih di perjalan." Levin yang membawa ibunya ke kamar.
"Aku cuma nggak mau semua kehilangan tanpa melihat untuk terakhir kalinya." Kliene ikut menangis masih dengan pendapatnya.
"Mama tidak apa-apa bang, Kliene!" Billa datang langsung menangis ketika kakaknya mengatakan kekhawatirannya.
"Abang jangan omong kosong!" Queen juga sangat ketakutan dengan kata-kata Kliene.
padahal Kliene lah orang yang paling tahu tentang keadaan Cinta saat ini. "Ma, bangun. Mama katanya mau lihat adiknya Almas, bukan? Queen sama Levin lagi berusaha bikin, ma. Ayo bangun dulu."
"Kak Queen mau bikin adiknya Almas? Aku saja masih belum lahiran. Gantian dong." Double kill..!!
Billa ketemu dengan Queen, sejak dulu memang mereka berdua sangat kompak dalam hal kepolosan. Tapi kalau menggoda, jelas Queen jauh lebih mahir.
"Jangan gantian, nanti mama bingung. Barengan aja, biar mama makin seneng."
__ADS_1
Di tengah percakapan yang membangun suasana canggung semakin dingin. Cinta bangun dengan senyum yang hangat.
"Kalian.... Janji buatin mama Cucu lagi?" kata pertama yang Cinta ucapkan membuat semua tertegun. Bagaimana tidak? di saat semua khawatir, Cinta malah hanyut dalam percakapan somplak kakak beradik itu.
"Janji, ma. Vin, ayo pulang, kita bikin biar cepat jadi." Queen menarik tangan suaminya dan melupakan putrinya yang tengah bermain dengan ketiga anak kembar kakaknya.
"Van, ayo bikin juga." Billa tak mau kalah, padahal perutnya sudah terlihat membuncit.
"Billa! Perutmu itu sudah ada, mau bikin gimana lagi?" Ayu tak tau dengan cara pikir adik iparnya itu. Mau bagaimana pun, Billa masih lebih unggul bila di bandingkan dengan Queen yang masih mau bikin.
Tapi, Billa tetaplah Billa. dia tidak mau kalah dari kakak iparnya. "Ya pokoknya bikin aja dulu. Enak tau bikinnya."
Kali ini Revan lah yang di buat malu di hadapan kakak ipar dan ibu mertuanya. "Pantes Priska nggak mau ngalah, ternyata enak.... Boleh cicip dikit, Bill?"
Ayu menggali lubangnya sendiri, biar Kliene tak seperkasa Levin. Tapi Kliene tetap lelaki normal yang mampu membuat Ayu minta ampun kalau urusan ranjang.
__ADS_1
"Kamu mau cicip apa?"