Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Ngambek terancana


__ADS_3

Seharian penuh Billa mengurung diri dalam kamar. Berkali - kali Cinta mengetuk pintu kamar Billa, namun tetap tidak di bukakan oleh pemilik kamar. Kali ini giliran Rizal dan Kline juga Levin yang mengetuk pintu kamar Billa. Sia - sia saja jika masih mengetuk pintu, Levin mendobrak kamar Billa dan menemukan sang adik tengah tertidur pulas dengan menggunakan headset di kupingnya.


Di samping tempat tidur juga terdapat banyak bungkus makanan yang berserakan di lantai. Terlihat beberapa bungkus roti coklat dan botol minuman, beberapa bungkus makanan ringan juga.


“Anakmu itu ternyata memang sudah persiapan akan terjadi penolakan. Makanya nyetok makanan sebanyak ini. Heeehh dasar Billa.” Kata Rizal yang geli melihat kelakuan putrinya yang lagi ngambek terencana.


“Pa, ini semua keinginan Billa. Dia mendatangkan Revan dan Vano ke sini untuk melancarkan aksi balas dendamnya terhadap Frizka. Billa masih tidak terima dangan kematian Sandi ataupun Aris. Frizka tidak di penjarakan apa papa tau?” Tanya Levin yang mendapat gelengan kepala dari papa gantengnya itu.


“Kenapa bisa tidak di perpanjang masalah ini?” Tanya Cinta yang baru mendengar kasus pembunuhan menantunya itu tidah di lanjutkan ke rana hukum.


“Mbah Joko selaku kakek dari Sandi dan Aris keberatan jika kasus ini harus berurusan dengan hukum dan menjatuhkan bisnisnya. Secara Frizka adalah pemimpin dari perusahaan yang didirikan Mbah Joko. Makanya Billa meminta tolong pada Revan dan Vano untuk menghancurkan sekalian usaha yang di agung - agungkan oleh tua bangka itu. Levin sudah menyetujui rencana Billa ini ma, makanya Levin gak keberatan kalo Billa bekerja sama dengan Revan dan Vano. Secara mereka pernah terlibat kerja.” Jelas Levin yang membuat orang tuanya sedikit menyesali keputusan yang di ambil tadi pagi. Inget, sedikit ya.


“Tapi apa lu tau Vin kalo Billa akan tinggal bersama kedua lelaki itu seatap?” Tanya Ayu yang juga menghawatirkan adik iparnya.


“Tau, mereka sudah punya kantor di kepulauan seribu dan juga di Raja Ampat, projeck kedua mereka.” Jawaban Levin membuat Cinta dan Rizal menggeleng tidak percaya akan apa yang anak - anaknya lakukan.


“Sepertinya memang kita harus mengalah dengan rencana Billa, yang.” Rizal mengalah dan menyarankan untuk istrinya juga menyetujui rencana anak bungsunya.


“Tapi apa iya kita membiarkan janda sama duda tinggal seatab sih Mas?” pertanyaan Cinta memang ada benarnya.


Tapi yang namanya pkerjaan ‘kan gak bisa untuk memilih dengan siapa kita akan bekerja sama. Keprofesionalan yang di tunjukkan Billa membuat Levin tidaklah khawatir. Hanya sedikit was - was jika Revan memperkerjakan Billa hingga 24 jam non stop.


“Coba percayakan saja kali ini pada Billa ma. Saiapa tau memang harus seperti ini Frizka mendapat ganjarannya. Kasian nasip Billa ma,” bujuk Ayu yang sebenarnya juga geram dan tak setuju dengan tindakan Joko tua bangka tu yang terlalu melindungi cucu angkatnya ketimbang cucu kandungnya.


Keesokan harinya, Rizal sendiri yang mengantar Billa ke hotel di mana Revan dan Vano menginap selama dua hari kemarin. Di hotel yang didirikan oleh papa Rizal dengan papanya Anggel dulu. Ini baru pertama kalinya Rizal menginjakkan kakinya di libby hotel, setelah peristiwa sebelum gilannya sang mama. Rizal mempercayai semua pekerja yang sudah mengabdi padanya sebelum akhirnya benar - benar di ambil alih oleh Levin dan Billa.


Hotel dan perusahaan Baganta itu dua gedung yang berbeda. Rama tidak di ijinkan oleh Rizal untuk mengotak atik hotel yang hampir di jual oleh abangya itu. Karena Rizal merasa,Queen juga memiliki hak untuk hotel itu. Dari persatuan Levin dan Queen membuat kekuasaan mutlak ada di tangan Levin. Levin yang menyadari kemampuan adiknya pun menariknya ke dalam pengurus Hotel yang juga milikkakeknya.


Jika Levin mengambil di posisi Bapak Herman, maka Billa megambil posisi bapak Brahma. Billa menunggu Revan dan Vano chek out duduk di ruang tunggu yang tak jauh dari meja resepsionis.


“Sudah siap?” Tanya Revan dengan menyeret koper yang tak begitu besar namun terkesan sangat kecil.


“sudah , yuk.” Billa berdiri sebelum berpamitan dengan mama dan papanya.


“Inget, kalian sudah bukan anak kecil lagi, jangan main kuda - kdaan ya.” Pesan yang cinta lontarkan membuat Revan dan Vano mengerutkan dahi tak mengerti.


Sedangkan Rizal yang merti maksud istrinya dan melihat tanggapan kedua orang itu membuatnya tersenyum malu. Billa sendiri yang tak mau ambil pusing dengan ucapan mamanya yang tak bisa di terimanya hanya berlalu meninggalkan orang tuannya.


Perjalanan yang lumayang melelahkan membuat Billa tak bisa menolak untuk tidak memejamkan matanya. Tak jarang Revan mengusap pipi Billa yang selama ini ia lakukan secara diam - diam.


“Boss, Boss harus bisa profisional. Memang kalian itu sekarang tidak terikat oleh hubungan apapun dengan orang lain. Tapi Boss harus ingat, tujuan Boss kesini buakan cuma untuk Billa, tapi juga urusan pekerjaan.” Vano mengingatkan akan tujuannya ke Indonesia.


“Ya saya paham. Tapi sebatas dia tidak mengetahui, ijinkan saya menyayanginya.” Ucap Revan membuat Vano mengangguk kasian.


Perasaan yang tak pernah terucap membuat Vano merasa iba. Pasalnya Sang boss sangat tergila - gila dengan gadis yang baru saja menyandang status jandanya. Billa merenggangkan badannya dan merasakan kenyamanan saat dia terbangun ari tidurnya.

__ADS_1


“Di mana ini?” Billa tersadar jika sekarang dirinya sudah tak berada di dalam kendaraan.


Billa meneliti setiap sudut ruangan yang di tempatinya. Kasur yang lumayan dan pemandangan pantai yang membuatnya tersadar jika kini dirinya sudah berada di kantor barunya. Billa keluar dari kamar dan mencari dua orang yang tadi bersamanya.


Billa mendapati dua orang yang tengah berenang. Memamerkan roti sobek yang tak pernah Billa lihat sejelas ini. Vano dan Revan kali ini tanpa mengenakan kaos atau baju dalam tengah menikmati segarnya air yang berada di kolam renang tepat di belakang Villa atau kantaor Pribadi mereka saat ini.


Billa memperhatikan keduanya dengan jantung yang berpacu dengan sangat cepat. Seakan mendapatkan kesempatan langka, Billa pun menikmati  roti sobek tanpa bungkus di temani es teh tawar untuk mereda api yang kini tengah menyala.


Billa pernah melihat Roti sobek kedua orang yang tengah ditontonnya, saat mereka pulang dari pesta yang terjebak hujan. Ketiga orang yang tak mau membuang banyak waktu hanya menunggu air turun itu memilih untuk menerobos hujan tanpa payung ke parkiran. Dari sana saat Revan dan Vano melepas jasnya, terlihat roti sobek di dalam kemeja putih mereka memaksa untuk keluar.


Merasa ada yang memperhatikan, vano dan Revan menoleh ke arah dalam Villa. Tepat, Vano dan Revan melihat seorang Billa tengah menikmati tontonan gratis dari dirinya.


Vano mendekati Billa setalah memakai handuk kimononya.Vano meminum teh tawar di hadapan Billa.


“Ck, kebiasaan sekali sih lu itu Van,” gerutu Billa membuat Vano tersenyum tipis.


“Tubuhku tak semurah itu Billa. Lu harus membayarnya telah menikmati tubuh sexy gua,” ucapan Vano membuat Billa mencebikkan bibirnya.


Billa berdiri mendekati Vano lalu menarik handuk kimononya untuk lebih mendekatinya. Dengan tatapan menggoda, Billa menatap Vano yang kini tengah salah tingkah.


“Bibir lu boleh menghujad gua dan menolak, tapi tubuhmu terutama jantungmu meminta untuk gua sentuh.” Billa menghempaskan pelan Vano yang sesaat terhipnotis oleh keberanian Billa saat ini.


“gilla, Billa saat ini memang pecinta sejati. Hati Billa sudah mati, Vano” ucap Revan setelah bertepuk tanggan sesaat setelah Billa menghempaskan seorang Vano.


“Iya, kalian itu sama.Sama - sama gak punya hati. Udah boss, saya mau ganti baju.” Vano berlalu meninggalkan lelaki yang semakin penasaran dengan asisten pribadinya ini.


***


Malam tiba, mereka bertiga memilih untuk meliburkan diri untuk hari ini. Bahkan, untuk makan mereka memilih untuk memesan makanan dari salah satu restoran yang tak jauh dari tempat mereka tinggal saat ini.


“Pak, ada tawaran untuk proyek pengembangan di bidang ekpor impir ke Rusia berupa produk minuman isotonic dari perusahaan AIRA. Perusahaan bapak yunus, selain make up mereka juga mencoba mengeluarkan produk baru berupa minuman,” ucap Billa mengawali pembincaraan yang sedikit canggung antara Vano dan Billa.


“Bawa proposalnya?”


Billa melempar sebuah map ke atas meja seperti gayanya selama masih menjadi asisten pribadi seorang CEO muda bernama Revano Alibaba Sahid.


“Bagus, 45% cukup pintar kamu melobi.” Puji Revan pada gadis pujaannya.


“Jangan merasa puas dulu pak Boss.” Billa kembali melempasr sebuah map yang kini membuat Revan tersenyum lebar.


“Gilla.”


Itulah yang terucap dari bibir seorang Revan setelah membaca apa isi dari map kedua, sebelum menyerahkan pada Vano. Vano membelalakkan mata melihat sebuah Villa yang berada di tepi pantai di Raja Ampat.


Billa tersenyum penuh kemenangan melihat keterkejutan Revan dan Vano yang seperti orang bodoh di hadapannya. Billa mengangkat bahu dengan sombonya.

__ADS_1


“Berapa persen 'kah yang akan pak boss berikan padaku?” pertanyaan Billa hanya di senyumi oleh Revan.


“Seberapa memuaskannya kamu menyerviceku di malam hari?” pertanyaan tabuh yang membuat Vano hanya membulatkan mata.


Bibir keluh Vano karena rasa terkejutnya mendengar ucapan vulgar dari seorang Revan pada Billa.


“Huummm, berapa yang anda mau untuk menemani malam anda?” Kini Billa melakukan tawar menawar dengan bossnya yang membuat seorang Vano bernafas lega, karena itu bukan Billa.


“Jangan wanita, aku mau yang lain.” Kini Revan bertekad untuk berjuang kembali untuk mendapatkan hati bidadari yang ada di depannya.


“Ok, saya akan memsak untuk anda setiap malam,” ucapan mantab dari seorang Billa membuat Vano dan Revan tertawa terbahak - bahak.


Merasa di remehkan, Billa hanya mampu berdecak sebal. Memang, mereka berdu belum pernah melihat seorang Billa untuk masak.


“Apa kalian meremehkanku?” Revan dan Vano menggeleng pelan.


“Kalau kalian gak percaya, ya sudah. Saya bukan orang yang suka memaksa, Karena kalian tidak percaya. Sebagai gantinya, sayalah yang akan menjadi boss kalian di malam hari.” Jawaban santai Billa membuat Revan tertawa lebih keras.


“Kenapa pilihannya gak ada yang pernah menguntungkaknku sih?”Gerutu Vano yang membuatnya kesal.


Pasalnya, jika menyetujui Billa untuk masak. Dia akan kasian dengan perutnya. Jika dia memilih pilihan yang kedua, sudah jelas jika dirinya dan Revan harus menjadi pembantu Billa. Sama seperti yang terjadi di Jerman.


iklan edisi gabut ya, jan ambil hati .


 


 


penulis: Tak ada gading yang tak retak. begitupun gading dan gisel yang kini sudah tak bersatu lagi. Aku hanya berpesan, meski tokoh pendamping utama meninggal. percayalah cerita itu akan terus berjalan. sama kaya aku yang bilang k kamu dulu tanpamu aku tak bisa hidup. Buktinya aku masih menikmati bakso mercon.


Pembaca: Thor, lu kesambet ya pagi pagi. Atau lu lagi gagal move on ya?


prnulis: Kagak, gua lagi mikir ini.


pembaca: Lu bisa mikir thor?


penulis: Apa lu kate?


pembaca: ya engak thor, kita mikir lu cuma bisa nge halu doang.


penulis: Wasalam


pembaca: Ye ngambek, malu tu ama umur thor. Udah tua juga.


penulis: Sekali lagi lu ngomong gua sambit pakek duit lu.

__ADS_1


pembaca: Mauuuuuuuu


penulis: Giliran duit aja lu mau, di suruh like aja lu udah kek mantan. menghilang tiba tiba tanpa kabar. Datang - Datang bawa undangan tiga bulanan. Hanjir gua di selingkuhin kagak tau. Tunggu - tunggu. sepertinya gua yang jadi selingkuhan saat istrinya bunting. Hasem


__ADS_2