Sahabat?

Sahabat?
season 2 perdebatan


__ADS_3

Sesampainya di perpustakaan Queen langsung mencari buku yg akan di beli. Buku latihan soal matematika yg di tuju pun sudah di tangan. Kini Queen berjalan menuju ke rak novel untuk membeli novel terbaru yg sempat di kasi lihat oleh teman sebangkunya.


"Nyari apa lagi ke sini? Pasti tujuan awal km buat nyari buku buku gak penting ini?" Tanya Levin sedikit marah.


"Vin, otak gue bisa pecah kalo Lo jejelin sama rumus rumus terus. Gue butuh hiburan Vin. Gue itu bukan lo, manusia robot." Queen menjawab Levin.


"Kan ada tv." Kata Levin lagi.


"Kalo gue nonton tv pasti Lo ganti acara kesukaan Lo. kalo enggak ya Lo ngidupin DVD yg isinya pembelajaran tentang matematika. Gue kasi tau ya Vin, kalo Lo mau jadi Einstein gak usah ngajak ngajak gue. sumpah gue gak kuat. bisa edan beneran gue Vin." Queen terus menentang kata kata Levin.


"Lo tau gak Bunda itu juara umum pas SMA? Terus papa juara 2 sama mama juara 5. mereka itu masih masuk 10 besar. Kalo Lo itu gak bisa ngalahin orang tua Lo. paling tidak Lo jangan buat mereka makin malu dengan cara Lo harus masuk 10 besar." Ucap Levin tegas.


"Serah Lo lah Vin, capek ngomong sama Lo. emang rajanya debat Lo mah. Besok besok Lo nyalon aja jadi anggota dewan terus ajak dan itu semua debat." Ucap Queen meninggalkan Levin setelah mengambil novel yg di carinya.

__ADS_1


Saat di kasir Levin membayar semua yg di beli Queen. Itu lah yg di suka Queen ketika keluar sama Levin. Tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun. Biarpun melalui perdebatan dulu, tapi Levin selalu mengalah meski dalam debat dia yg menang.


"Viiiiinnnnn lapeeeerrrr." Rengek Queen sambil memeluk buku yg di belinya tadi.


"Cafe papa yuk, tadi papa nyuruh ke sana." Levin mengacak pelan rambut Queen yg di kuncir kuda.


Sesampainya di cafe Cinta cabang 4. Levin langsung menemui papanya di ruangannya. Levin meminta Fendi menyiapkan mie kuah ala ala cafe Cinta untuk Queen. Di dalam ruangan kerja papanya, Levin langsung mengambil berkas berkas untuk di pelajarinya. Sudah hampir setahun Levin terjun langsung ikut papanya mengurus cafe. sedang Kliene lebih tertarik ke pekerjaan mamanya sebagai dokter. Sedangkan Billa masih belum menentukan minatnya selain males malesan di atas kasur dengan berbagai macam cemilan buahnya. Cinta memang melarang keras memakan jajan terlalu banyak. kalau tidak buah ya sayuran yg di cemilin Billa seperti sayuran kesukaannya wortel dan tomat buah.


"Pa, ini ada selisih angka kayaknya pa. memang sih tidak banyak, cuman ini nantinya akan berdampak besar untuk cafe kita." Ucap Levin yg mendapati perbedaan isi laporan yg dia amati.


"Bang Fandi itu apa gak kasian ya pa sama istrinya, sering di kasi cuti malah gak pernah mau di ambil." kata Levin heran.


"Dia itu type orang yg penuh tanggung jawab. Istrinya juga gak pernah menuntut. makanya papa gak ragu ragu pas mau beliin rumah atas nama dia." Ucap Rizal yg mengingat kejujuran dan kesetiaan tangan kanannya itu.

__ADS_1


"Masih kurang itu pa, mobilnya belum. kasian dia kan baru punya bayi, masak kemana mana bawa motor." Kata Levin membuat Rizal berfikir sebentar sebelum menyetujui usulan anak keduanya.


"Leviiiinnn udah belum sih? Queen ngantuk." Kata Queen manja dengan memegang pintu kaca ruangan Rizal.


"Oh Queen sayang, sini dulu papa kangen." Rizal memeluk putri angkatnya itu seperti tak pernah ketemu, padahal setiap hari ketemu.


"Queen juga papa." peluk Queen Dengan manja sebelum Queen duduk di kursi samping Levin.


"Kalian dari mana?" Tanya papa Rizal hangat pada Queen.


"Dari perpus pa, ini nyari bukau latihan soal pa." Queen menunjukkan barang belanjaannya.


"Ya sudah kalian pulang saja ini sudah sore." Titah sang papa pun tak pernah di lawan oleh Levin. " Nanti papa bawa ini pulang. papa jadi kangen mama." Kata Rizal sambil tersenyum.

__ADS_1


"Papa makin mesrah aja sama mama, semoga Alex nanti bisa kaya papa. terus mesrah dan gak pernah berhenti mencintai Queen. seperti mama sama papa." Kata Queen senyum senyum sendiri ketika ia membayangkan kehidupan rumah tangganya dengan Alex nanti.


"Buang otak Lo Sono ke Empang!" Seru Levin sambil meninggalkan Queen.


__ADS_2