
Keadaan rumah yg sepin dan sudah sore. Levin memutuskan untuk meninggalkan Queen yg sedang tidur untuk membeli makan. Levin tak bisa masak seperti Kliene yg jago memanjakan perut orang rumah.
Levin dan Billa pergi ke sebuah restoran yg menjadi favorit keluarga mereka. Di sana menyediakan makanan yg cocok untuk lidah dan selera mereka. Setelah mendapatkan pesanannya, Levin dan Billa pulang ke rumah setelah mereka mampir ke pasar senggol mencari pisang rebus kesukaan sang istri tercinta. Levin dan Billa menata makanan di atas mej sesaat sebelum papa dan abangnya pulang bersama istri istri mereka.
"Wah, kita makan enak ini. Levin lagi kaya kayaknya ma sampek beli makanan enak kaya gini." Goda Rizal pada putra lelakinya.
"Ya mending kehilangan sedikit uang pa dari pada levin nyuruh Queen masak." Kata Levin menyiapkan piring.
"Mana Queen?" Tanya Cinta sambil mengambil pisang rebus di depannya.
"Ma, itu punya Queen. ini untuk mama Levin beliin kepiting." Levin menyodorkan kepiting saos padang pada mamanya.
"Anak pinter. Tapi kok ini masih anget pisangnya?" Tanya Cinta heran.
"Ya kan baru beli ma." Jawab Billa jengkel karena tadi dia lah yg di suruh turun untuk membeli pisang rebus.
__ADS_1
"Loh, yg tadi pagi habis?" Tanya Cinta heran.
"Nonton drakor sambil ngemil pisang. itu kan kebiasaan mantu mama. Jadi jangan pernah nanya pisang rebusan pagi di sore hari ma." Jawab Ayu yg tau kebiasaan adik iparnya itu.
"Itu tau jawabannya ma." sahut Queen yg terlihat kesusahan berjalan.
"Kenapa gak manggil sih sayang?" Tanya Levin yg kini sudah menghampiri Queen.
"Mau sambil belajar melemaskan kaki. Biar gak bergantung ke orang terus lah sayang." Jawab Queen santai dengan masih terus berjalan sendiri berpegangan apapun yg dia lewati.
"Tumben Queen polos, Apa karena sakit?" Tanya Rizal membuat Levin mengeryit heran.
"Ya, biasanya rambut warna warni kaya dagang cat." Jawab Rizal dengan mengunyah makanannya.
"Hmmm papa kirain apa, perhatikan yg teliti pa. Itu warna brown pekat dengan bawah bercampur pink keunguan. Papa tau kalo di bawah sinar itu rambut berubah jadi ungu gelap." Jawab Levin gemas.
__ADS_1
"Ya ampun Queenesya gak takut rambutnya rusak nanti?" Tanya Rizal heran dengan jawaban dari suami putri angkatnya dulu sebelum menikah dengan putra kandungnya (Sedikit rumit tapi jelas kan?).
"Ah papa, ini salah satu modal Queen untuk mencapai cita cita Queen menjadi penyanyi. Selain suara wajah dan postur tubuh itu sangat penting pa. Jadi Queen harus totalitas dalam menjaga semuanya dan membiasakan hal hal kayak gini dari awal." Jawab Queen membuat Levin geleng geleng kepala.
"Ya gak gitu juga. Banyak juga artis yg menyayangi tubuhnya dengan merawat bukan merusak seperti kamu." Jawab Rizal lagi.
"Tapi ini styl Queen pa." Jawab Queen dengan sedikit merengek dan air mata mulai keluar dari peraduannya.
"Ya sudah ya sudah terserah Queen sekarang. Dan tugas buat Levin sekarang makin berat. Kamu harus bisa memenuhi semua kebutuhan istri mu. Jadi gak sampek menghalalkan segala cara untuk sebuah impian. Kerja yg keras siang malem pagi sore." Rizal sudah menghapus air mata Queen dan memeluknya.
"Ya terus ketemu Queen nya kapan dong pa kalo Levin di suruh kerja terus?" Kini Queen sedikit protes.
"Ya itu urusan kalian. lagian impianmu mahal." Jawab Rizal santai dan kembali duduk di kursinya.
"Malem malem jangan kerja ya Vin. cukup malem aja buat temenin gue. Waktu lo cuma buat gue di malem hari. gak boleh di ganggu gugat." Kata Queen memegang tangan suaminya dan di sambut tawa oleh yg lainnya.
__ADS_1
"Hmmm. Bucin bamget sih lo Queen." Ledek Billa sambil melempar kulit pisang rebus ke arah Queen.
"Pisang gueeeee!!!"