Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Tragedi


__ADS_3

Queen kembali bergabung bersama teman temannya. Di sana ada Mario yg ternyata teman dekat Devan. Mario tersenyum canggung pada Queen, mengingat dia adalah istri dari bossnya.


"Sonia, gimana tadi masih nervous?" Tanya Mario yg ternyata sedang melakukan pendekatan dengan Sonia setelah mendapatkan nomernya semalam.


"Sudah gak terlalu sih, Tapi masih ada sedikit deg deg an." Jawab Sonia dengan senyum malu malu.


"Santai saja kaya Queen dan nikmati aja." Kata Mario lembut.


"Dia kan emang sudah biasa tampil di depan umum. Secara dia kan nyanyi di cafe papanya." Jawab Sonia.


"Ehem, kayanya ada yg mau move on dari si tomboy ni." Devan melirik arah Mario yg dia tau sudah mengejar gadis tomboy nya sangat lama.


"Maksudnya apa?" Tanya Queen yg emang tak pernah berfikiran negatif.


"Gak ada maksud kok Queen, itu sudah pengumuman." Kata Ayub yg sudah mengenal Queen lama dan dia percaya bahwa temannya itu gak akan peka.


"Temen Lo itu." Kata Ruli meninggalkan yg lain dan berjalan menuju depan panggung.


Ya sekarang adalah hal yg sangat menegangkan. Terutama untuk 5 peserta yg menunggu putusan juri. Setelah setengah jam menunggu akhirnya sorak Sorai dari peserta yg masuk 3 besar pun terdengar, termasuk Queen dan teman temannya yg mendapat nilai nomer 2.


"Selamat ya." Kata Devan yg terus berada di samping Queen.

__ADS_1


"Iya makasih." Kata Queen sambil menjabat tangan Devan yg di ulurkan padanya.


"Kita langsung saja ya." Kata Devan mengajak Queen dan terdengar oleh Mario.


"Mau kemana lo siang bolong kaya gini?" Tanya Mario selidik.


"Jalan jalan aja di sekitaran gedung sate. sekalian ngajak makan sebentar di sana." Mario membulatkan mata ketika Devan mengatakan mengajaknya makan.


Makan yg di maksud Devan memiliki arti lain. Namun Queen yg memang tidak memiliki fikiran negatif pun hanya tersenyum. Devan mengajak Queen dan meninggalkan teman teman yg lain. Begitupun dengan Mario yg memutuskan untuk mengikuti Devan dan Queen.


"Kurang ajar." Kata Mario yg melihat Devan membelokkan mobilnya ke sebuah penginapan.


Mario melihat Queen di gendong Devan karena dia tidur. Dengan cepat Devan memasuki sebuah kamar yg entah kapan dia pesan. Mario mengikuti Devan sampai di depan kamar. perasaan Mario benar benar gak karuan, dia bimbang dan takut antara memberi tahu bossnya apa di hadapi sendiri.


Mario mendobrak paksa pintu kamar hingga jebol. Mario melihat Queen yg sudah telanjang dada. Menunjukkan buah dada yg menonjol dan menggoda. Sesegera mungkin Mario mengambil selimut untuk menutupi Queen.


"Hei bro, kalo Lo mau ikutan makan jangan ngerusak pintu juga. yg ada gue rugi harus benerin pintu. Lo tau usaha penginapan gue lagi sepi." Cerocos Devan namun tak di hiraukan oleh Mario yg mengangkat Queen setelah membungkus tubuh Queen dengan selimut


"Lo kasi apa dia sampai dia anteng kaya gini?" Selidik Mario.


"Lorazapan." Jawab singkat Devan karena kesal.

__ADS_1


"Gue harap Lo jauhi cewek ini kalo Lo masih sayang nyawa Lo." Kata Mario dingin dan berlalu meninggalkan Devan.


"*******, mau Lo bawa kemana mangsa gue?" Devan mencegah Mario yg hendak membawa Queen pergi.


"Gue balikin ke pemiliknya. Gue kasih tau, gadis ini berpemilik." Jawab Mario dingin.


Devan hanya mampu memandang punggung Mario sahabatnya itu saat membawa Queen. Di dalam mobil Mario menidurkan Queen di jok belakang. Mario melajukan mobilnya sekencang dia bisa untuk kembali ke cafe di mana Levin sedang meeting. Setibanya di cafe, Mario langsung mencari Levin ke ruangannya.


"Bisa, istrinya tidur di mobil dan kalau bisa cepat bawa balik ke Jakarta setelah festival ini." Bisik Mario saat bertemu Levin di depan pintu ruangan yg hendak mengantar tamunya keluar.


"Apa yg terjadi?" Tanya Levin dengan sikap dinginnya.


"Ada yg mau berniat buruk pada Bu boss." Jawab Mario.


"Jangan bilang Devan." Tebakan Levin kini tidak lah melesat. karena mendapat anggukan kecil dari orang kepercayaannya itu.


Levin bergegas menuju mobil Mario. Di sana dirinya melihat sang istri berbalut selimut pun membuatnya kalut. Levin mengepalkan tangannya lalu memukulkannya ke mobil yg tidak bersalah itu. Levin mengangkat Queen dengan tangannya yg bergetar seraya mengutuki dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga sang istri.


"Bu boss dalam pengaruh obat tidur. 2 jam lagi baru bisa bangun." Kata Mario membuat Levin semakin emosi.


"Besok ajak dia ketemu gue, gue mau buat perhitungan sama dia yg sudah berani menyentuh istri gue." Kata Levin dengan emosi yg sudah mencapai ubun ubun.

__ADS_1


"Maaf sayang gue gak bisa jadi suami yg baik buat Lo." batin Levin.


__ADS_2