
Levin menunggu Queen di luar ruang ICU. Perasaan cemas dan hawatir masih belum hilang dari benaknya. Rizal melihat kecemasan putranya, sebagai seorang papa dia hanya mampu menguatkan dengan dukungan terus menjaga sang istri. Rizal menghubungi Cinta dan keluarga yg lain termasuk Angel.
Jam sudah bertengger di angka 4 Levin masih juga setia menunggu sang istri yg tengah terbaring di dalam ruangan dengan kabel kabel yg masih tertancap sempurna di badannya. Pergerakan kecil terlihat oleh sang suster yg menjaganya. Dari arah Ruangan dokter, Levin melihat seorang laki laki mengenakan jas putih bersih berlari ke arah ruangan istrinya terbaring.
Dokter keluar dengan senyuman kebangaan. Melihat ke arah Levin selaku suami dari pasien yg ia rawat.
"Istri bapak sudah siuman, dan sekarang akan di pindah ke ruang rawat sesuai yg bapak ajukan." Kata Dkter dan membuat Levin mengucap syukur.
"Alhamdulillah ya Allah, engkau masih memberi kepercayaan pada hambamu ini untuk menjaga bidadari_Mu." Ucap Levin dengan senyum bahagia.
Levin menghubungi orang tuanya dan keluarga yg lain. Memberi kabar bahwa Queen sudah siuman dan akan di pindah ke paviliun rumah sakit yg berada tak jauh dari gedung rumah sakit itu senduri. Levin tersenyum pada istrinya yg masih enggak untuk membuka mata lama lama. Levin duduk di samping Queen yg tengah berbaring dengan selang infus yg tersisa.
__ADS_1
"Maafin Levin ya sayang. Gara gara Levin, Queen celaka." Levin menggenggam erat tangan Queen.
"Vin, gue sayang sama lo. gue gak bisa marah terlalu lama sama lo. Gue cuma takut kehilangan lo. Gue yg salah, mengemudi gak mau focus." Kata Queen dengan suara seraknya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Di sini gue mau lo tau dari gue langsung Queen." Kata Levin menggantung.
"Beri tahu apa? Apa ada sesuatu yg terjadi pada diriku?" Kata Queen mencoba bangkit tapi...
"Tunggu sebentar, Gue panggilin dokter jaganya ya." Kata Levin sebelum keluar kamar.
Levin kembali dengan menggandeng seorang dokter tampan yg maaih sangat muda. Dokter Antonius Emanuel. Itulah yg tertera pada name tag nya.
__ADS_1
"Ini sebuah keajaiban, Biasanya pasien dengan luka dalam akan mengakibatkan cidera kaki yg lumayan lama lo untuk penyembuhan. Tapi saya lihat ini masih bisa berjalan meski harus menunggu seminggu dua minggu." Kata dokter Manu sebagai dokter jaga.
"2minggu itu juga lama kali dokter." Gerutu Queen tak sabar.
"Sabar. Ya sudah saya tinggal dulu ya." Dokter yg memeriksa pun meninggalkan mereka.
"Queen, 1 yg mau gue kasih tau dan ini penting buat lo dan gue kedepannya. Queen, jangan menunda momongan lagi ya. Gue gak mau kita menolak pemberian dari Allah." Kata Levin yg ternyata masih tak tega untuk mengatakannya.
"Vin, jujur gue takut untuk itu. Tapi 1 yg gue minta sama lo. Apapun yg terjadi pada gue, tolong jangan pernah lo ninggalin gue atau bahkan lo nikah lagi. Gue trauma Vin dengan kehidupan yg harus di bagi Vin. Hati gue gak terima kalo gue harus berbagi suami. Sudah cukup gue berbagi Ayah yg tak mengharapkan gue." Kata Queen yg kini sudah duduk dan menundukkan kepala.
"Janji gue, gak akan pernah gue bawa wanita lain di kehidupan kita selain anak anak perempuan kita nanti." Levin mencium pipi Queen.
__ADS_1
"Kalo sampel levin lakuin itu, mama sendiri yg akan bawa dia ke meja operasi untuk motong burungnya sampek habis Queen ku sayang." Kata Cinta memecah keharuan Queen dan Levin.