Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Godaan buat Sandi


__ADS_3

Malam telah tiba, dan Billa memasak seadanya. Sebisa dia, seperti yang di pelajari di Singapura bersama teman-temannya.


“Saaann, makan malam dulu.” Teriak Billa pada suaminya yang berada di kamar di lantai dua.


Tak lama kemudian Sandi datang dengan membawa sebuah buku yang yang langsung di buang di tempat sampah.


“Kenapa di buang?” Tanya Billa penasaran.


“Oh itu bukunya Ziah, teman Smp ku dulu.” Jawab Sandi dan Billa mengambilnya karena penasaran.


“Buku matematika?” Tanya Billa ketika membuaka buku yang telah bersarang sebentar di tempat sampah tadi.


“Iya, gua dulu begok matematika, jadinya gua nyolongin itu buku dia. Tapi setelah gua pelajarin cara lu ngerjain matematika buat gue lebih cepet ngerti. Jadi ya, gua gak perlu lagi nyolong buku.” Jawab Santai Sandi dengan memulai menikmati masakan sang istri.


Keduanya tenggelam dalam keheningan makan malam yang hanya ada mereka berdua. Billa merindukan makan bareng keluarganya. Makan di rusuhi oleh ketiga keponakan kembarnya dan tak jarang ketiga ponakannya itu meminta di suapinya.


“San, gue udah selesai. Entar lu cuci piring ya? Gue mau telfon mama dulu ngabari kalo kita udah keluar dari rumah Mbah Kung.” Billa berpamitan untuk mengabari sang mama.


“Mama udah tau sayang, sekarang temenin gua aja disini,” ucap sandi sambil memegang tangan Billa yang hendak meninggalkannya.


“Kapan lu ngasih tau mama?” Tanya BIlla kaget.


“Tadi lah pas di kamar kata papa, ya sudah kalian harus bisa lebih mandiri lagi agar nanti bisa lebih dewasa saat kalian sudah ada anak.” Blush, Wajah Billa langsung memerah dan hanya mampu menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya saat sang suami menyinggung kata anak.


“Hei wajah apa ini yang lu tunjukin ke gue?” Sandi menggoda sang istri yang tengah malu-malu.


Sandi membawa BIlla duduk di pangkuannya dan menyandarkan kepalanya di pendak seseorang yang kini tengah malu-malu duduk di pangkuannya. Sandi melingkarkan tangan kekarnya di perut rata milik Billa dan sesekali mengusap-usapnya.


“Lu tau Bill, Suatu saat di sini akan ada benih gue?” Pertanyaan menggelikan itu membuat Billa tak tahan untuk mencubitnya.


“Lu itu ngomong apaan sih? Ini masih terlalu sore untuk ngomong kaya gini. Bahasan lu dari tadi kenapa ke arah sono aja sih, San?”


“Sakit Billa, Ini namanya KDRT tau gak lu.” Sandi semakin mengeratkan pelukannya, dan Billa hanya tersenyum.


Malam semakin larut dan seperti biasa kedua orang yang kini tidak ada yang mengawasi tengah asik dengan kertas-ketas yang ada di meja kamar mereka. Sedikit perdebatan mewarnai diskusi mereka sampai mendapat solusi dan seperti itu seterusnya hingga kini sudah berada di titik 04.30 mereka juga belum mengistirahatkan tubuh mereka.


“Bill, lu mandi duluan gi. Entar gua anterin lu ke kantor Levin.” Sandi merapikan kertas yang berserakan di atas meja kerjanya di samping tempat tidurnya.


“Lu gak ngantor?” Tanya Billa sambil merapikan ikatan rambutnya asal.

__ADS_1


“Hari ini gua mulai ngampus, sayang” ucap Sandi dengan melepas ikatan rambut Billa.


“Gua lebih suka rambut lalu di gerai. Biar keliatan cewek.” Sandi berlalu ke dapur dengan membiarkan Billa terpaku denga senyuman yang masih mengembang.


Billa bergegas ke kamar mandi setelah tersadar dari lamunan yang membuatnya tersenyum di pagi hari buta. Setelah Billa menyelesaikan mandinya, kini giliran Sandi. Setelah membuat susu untuk sang istri dan kopi untuk dirinya. Sandi menyuguhkan Roti dan coklat sebagai sarapan.


Sandi telah bersiap untuk ke kampus dengan mengenakan kaos oblong yang di lapisi dengan kemeja kotak-kotak warna hitam dengan ukuran kebesaran. Celana jins sobek di bagian lutut dan sepatu kats warna merah membuat penampilanya semakin sempurna. Tatanan rambut bak oppa-oppa korea membuat wajah tampan Sandi semakin maximal.


“Gilaaaaa suami gua ngalahin Suga oppa,” ucapan Billa membuat Sandi tersenyum puas.


“Makanya jangan ngehalu doang lu bareng sama tu si kakek-kakek, gak sadar kan yang lagi lu sanding itu produk Indonesia berkualitas tinggi?” Kata Sandi dengan segala kePDan yang dimiliki


“Dih, PDnya” Billa menggidikkan bahunya.


“Sudah lah, ayo” Sandi merangkul bahu istrinya yang tengah memanyunkan bibirnya.


Di dalam mobil yang di kendarai, Billa terlihat masih dengan mood yang buruk. Sandi berusaha untuk menghiburnya, namun gagal terus.


“gak usah jemput gue entar.” Perkataan dinginBilla membuat sang suami hanya mengernyitkan dahinya.


“Oh, Ok” ituilah kata yang akhirnya keluar dari rasa bigung yang ada di benaknya.


Sesampainya di kampus yang lumayan besar dan termasuk Universitas swasta yang memiliki akreditasi terbaik di kota ini. Penampilan sempurna yang menunjang seorang Sandi Pandu Wiranatha yang memiliki garis wajah nan tegas membuatnya terlihat garang juga sexy.


 Dengan postur tubuh yang tegap dan tinggi membuat jatuh hati siapapun yang melihatnya. Pemilik senyum manis dengan hanya menyisakan garis di mata saat tersenyum itu selalu mampu melelehkan hati siapapun yang di sapanya. Seperti seorang gadis yang menggunakan jas almamater Universitas itu.


“Excuse me, ruangan Dekan sebelah mana?” Tanya Sandi pada Kiara sesuai nama yang tertera di dada sebelah kanan gadis di depannya.


“Lu anak baru?” Tanya Kiara dengan nada songongnya.


“Iya, gua pindahan dari Singapura.” Jawab Sandi sedikit mengimbangi songongnya gadis di depannya.


“Ikut gua.” Kiara meninggalkan teman-temannya yang masih membeku akan ketampanan seorang Sandi.


Bukannya ke ruangan Dekan namun Gadis itu membawa Sandi ke ruangan sepi yang di kira adalah gudang olah raga karena terdapat banyak peralatan olah raga juga bola basket dan bola voly. Sandi masih mengikuti Gadis yang tingginya tak melebihi bahunya, yang membawanya lebih dalam memasuki ruangan sepi itu.


Gadis itu dengan berani menghempaskan seorang sandi ke atas matras yang di tumpuk. Sandi jatuh terjengkang di atas matras dengan cepat gadis yang menghempaskan Sandi itu, segera menaiki Sandi perlahan mendekat padanya.


“Lu mau apa?” Dengan Cepat Sandi memutar posisi dengan sang gadis berada di kungkungannya.

__ADS_1


“Jadilah kekasih ku,” Jawab Kiara dengan nada percaya dirinya


“Kalau gua gak mau, lu mau apa?” Tanya Sandi dengan memainkan alis-- mengangkat salah satu alisnya--


“Gua akan buat hidupmu menderita kuliah di sini,” ucap Kiara masih penuh dengan keangkuhan.


“Silahkan saja nona, tapi gua gak tanggung jawab kalau lu bakalan baper sama gua tanpa harus menggoda.” Keangkuhan di balas keangkuhan hanya akan melahirkan rasa penasaran yang besar, Sandi tidak sadar akan hal itu.


Sandi meninggalkan gadis itu sendirian dengan keadaan jantung masih memaksa keluar akan kedekatan wajah tadi. Sandi bukan orang yang memiliki segudang tabungan gombalan, namun dia memiliki segudan magnet yang mampu menarik siapapun yang melihatnya.


Sungguh sayang sekali tentunya, seorang Sandi telah jatuh kedalam lautan cinta seorang dewi bernama Salsabilla, seorang wanita yang memiliki pemikiran di luar nalar manusia.


Sandi duduk di deretan bangku tengah ketika sudah menemui dekan. Kini Sandi melanjutkan managemen bisnisnya di Indonesia. Demi terus bersama sang bidadari hati.


“Oh, kita di kelas yang sama ternyata,” ungkapan sinis keluar dari gadis yang kini berdiri di depan kelas berkacak pinggang.


Sandi hanya tersensum meremekan dengan menyilangkan tangan di depan dadanya. Hanya dengan melihat saja Sandi tau jika gadis itu sudah menjatuhkan hatinya pada dirinya.


“Jangan bangun harapan lu setinggi langit, karena jika lu tau siapa gua. Gua takut lu akan gila,” ucapan sarkas yang Sandi lontarkan membuat seorang Kiara tertantang untuk memilikinya.


“Kita lihat, siapa yang akan gila. Lu apa gua!” Tantang Kiara yang kini sudah duduk di samping Sandi yang hanya menganggukkan kepala meremehkan.


Sandi mengikuti apa yang dosen itu katakan. Seorang dosen cantik yang menerangkan akutansi, tak jarang melirik ke arah Sandi yang memang menggoda kefokusan dosen jomblo itu.


“Ok sepertinya kita kedatangan penghuni baru ya?” Tanya dosen cantik yang basa di panggil Miss Ualia.


“Nama saya Sandia Pandu Wiranatha, Pindahan dari Universitas Singapura.”Sandi berdiri dan memperkenalkan diri kepada teman-temannya yang ada di kelas.


“Oh jadi nama lu Sandia, Baiklah Pandu kita mulai permainanya sekarang.” Dengan kecantikan yang di milikinya, Kiara yakin mampu menaklukan sang pujaan hatinya.


Jarak jam mata kuliah pertama dengan kedua lumayan memberikan waktu untuk istirahat. Sandi yang memilih untuk membaca di salah satu taman pun berakhir sia-sia. Kiara datang dengan beberapa teman-temannya untuk mengganggu ketenangan Sandi di sana.


Apa yang dikatakan Kiara ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Kiara benar-benar tidak membiarkan seorang Sandi tenang kuliah di sana.


“Apa mau lu sekarang?”Tanya sandi membuat Kiara sedikit merasa menang.


“Lu jadi pacar gue,” Kiara kembali menggoda Sandi.


“Sorry gua gak minat. Terserah lu mau apa sekarang.” Sandi memasang headset lalu menyalakan lagu yang ada di dalam hendphonenya.

__ADS_1


Kiara yang merasa menang tadinya, sekarang hanya merasa cengoh sendiri melihat ekspresi seorang Sandi yang sangat cuek terhadapnya.


__ADS_2