
"Zal, liat noh." Cinta menunjuk dengan dagunya namun Rizal melihat ke arah lain. "Yang onoh, Zal!" Cinta membenarkan kepala Rizal pada objek yang ia maksud.
"Maya? Ngapain dia ke sini?" Heran Rizal melihat kakak tingkatnya datang di tengah malam saat cafe sudah mau tutup.
"Ngapel kali," jawab Cinta sedikit cuek.
"Ngapel kok tengah malem, ngepel baru cocok. Hahaha."
"Bener, Zal. Ngepel lantai cafe, hahahaha." Hal yang semacam itu yang selalu berputar di ingatan Cinta. Selalu bisa membawa suasana tegang mencari bahan candaan.
Tapi kini? Cinta ingat akan kematian Rizal, tapi dia enggan menunjukkan kesedihannya di depan anak dan menantunya.
Levin, sosok yang sangat mirip dengan Rizal pun pulang dari kantor. Levin hampir delapan puluh persen mengikuti kebiasaan papanya, karena memang memiliki tingkat kelelahan yang sama.
__ADS_1
Levin baru datang sudah mencari Queen dan memeluknya sampai rasa lelahnya terasa hilang. "Vin, kamu bau." kata Queen yang selalu mencium keringat dan bau matahari di badan Levin sepulang kerja.
"Kenapa kamu tidak di rumah mama? Tadi aku ke sana, tapi kamu nggak ada." kata Levin melepas kemejanya.
"Aku baru selesai mandi dan mau masak, memangnya mau makan di sana lagi? Kasian mbak Ayu lah, sayang." Kata Queen jujur.
"Ya sudah, nanti saja setelah makan aku yang ke sana. Kamu diem saja di rumah temani Almas." (Othor lupa nama anak Levin sama Queen, sudah nyari tapi nggak ketemu. Maaf ya, nama anak harus di ganti.ðŸ¤ðŸ’œðŸ’œ)
Levin segera ke rumah ibunya setelah makan malam. Tidak lupa membawakan sebuah oleh-oleh yang di beli ya tadi untuk mamanya. Kue kesukaannya yang beberapa tahun ini suka di beli oleh papanya untuk sang mama.
"Levin sudah pulang? Ayo sini makan, mama masak kesukaan kamu sama kakak kamu. Loh, mana Al sama Queen?" Cinta kali ini dalam keadaan sadar, dia juga menanyakan menantu dan cucunya.
"Levin sudah makan, Ma. Tadi sama Queen dan Al. Ini Levin bawain kue kesukaan Mama." Levin menunjukkan kue yang di bawanya dan mengambilkan untuk Cinta.
__ADS_1
"Kamu jangan sering-sering ngasih perhatian kaya begini. Nanti Queen kecil hati, gimana?" Kata Cinta sedikit sedih.
"Mama mencurigai Queen sampai seperti itu? Kenapa hati Mama jadi picik begitu? Bahkan Queen tidak pernah menganggap Mama sebagai mertua. Baginya, Mama dan Papa adalah orang tua dia sesungguhnya." Levin mengatakannya dengan lembut.
Mamanya boleh lupa akan kenangan dengan istrinya, tapi Levin tidak akan tahan kalau pengertian istrinya tidak di anggap sama sekali.
Kliene mencoba menengahi perbincangan keduanya. "Kalau misalnya Ayu marah, Apa itu wajar, Ma? Apa-apa Mama dan sudah menganggap mama orang tua sendiri. Tolong jangan anggap menantu itu sebagai beban untuk Mama."
Apa yang di sampaikan Kliene benar, Ayu bahkan bukan orang yang di besarkan Cinta pun menganggapnya sebagai orang tua sendiri. Bagaimana dengan Queen yang dengan tangannya sendiri di besarkan oleh Cinta dan Rizal?
Jelas Queen tidak akan keberatan sedikitpun kalau Levin membagi waktunya yang sempit itu. Karena suaminya akan tetap pulang sebelum dirinya tidur. Cukup adil, bukan?
Siang, dia yang menemani Cinta bersama dengan Ayu. Dan setelah itu gantian Kliene dan Levin di malam hari. Tak membiarkan sang mama sendiri, itu hal yang paling benar di lakukan saat ini.
__ADS_1