
Saat pelajaran sejarah Billa merasa bosan, seperti biasa saat bosan Billa selalu memainkan tangan Aris yang duduk di depannya. Billa duduk bersebelahan dengan Sandi, yang cueknya mengalahkan Levin sang abang.
"St st, Aris.... Ris..." Panggil Billa sambil mencoret coret pulpen yang tertutup ke punggung Aris.
Tanpa menoleh lagi, Aris langsung mengubah posisi duduk miring dengan memberi tangannya ke belakang. Billa dengan tersenyum menyambut tangan Aris dan segera mencorat coret dengan spidol hitam miliknya. Menulis dan menggambari tangan Aris adalah kesenangan Billa ketika menghadapi kebosanan. Billa kali ini mencurahkan rasa sukanya dengan menulis kata love dengan gambar bunga melingkar.
Kegemaran Billa menggambar memang tidak di ragukan lagi. Billa memiliki bakat di bidang seni lukis tapi dia enggan untuk mengasah lebih lagi karena baginya menggambar hanyalah hiburannya saat sedang bosan seperti saat ini.
"Aris!!! Apa kamu tidak mendengarkan bapak di depak?" Teriak guru Sejarah pada Aris karena posisi duduknya yang menurut gurunya seperti tidak menghormatinya.
"Mendengarkan kok pak, ini buktinya saya mencatat semua yg bapak sampaikan." Aris menunjukkan bukunya.
"Ya sudah benarkan posisi duduk kamu." Kata pak guru itu melanjutkan ceritanya tentang sejarahnya rorojongrang yang meminta di buatkan 1000 candi.
"Bill, rese juga lu ya. Gue hampir kena hukum gara gara lu, tapi lu malah santai." Kata Aris saat makan bersama dengan Billa di kanti di jam istirahat kedua.
__ADS_1
"Maaf Ris, habisnya gagal move on banget itu guru. Udah di bilang Rorojonggrang kagak mau masih aja di paksa." Kata Billa semakin gak jelas.
"Lu ngaco Bill, itu sejarah bukan masalah gagal move on. Lagian, kalo misal gue cinta ya, gue bakalan perjuangin tu sampek titik darah penghabisan. Seribu candi, seribu candi dah Bill." Kata Aris santai.
"Lu mau gak perjuangin gue?" Tanya Billa membuat Aris tersedak.
"Lu mau gue perjuangin?" Tanya Aris meyakinkan.
"Iya Ris, kayaknya mama cuma takluk sama elu deh." Kata Billa menjatuhkan dagunya pada lengan Aris.
"Is elu mah, gue itu kemarin bilang sama mama papa kalo ketemu sama cowok ganteng banget Ris. Tapi sayang mama gak ngasih kalo gue pacaran sama tu cowok karena gue gak tau siapa namanya." Kata Billa langsung di ketawain sama Aris.
"Hahahaha lu juga ada ada aja Bill, mending lu pacaran aja sama gue. Jelas lo kenal, mama papa lo juga kenal sama gue." Kata Aris bercanda.
"Lu serius?" Tanya Billa menegakkan kepalanya sedangkan Aris jadi gelagapan.
__ADS_1
"Diem aja lu kaya anak ayam nelen karet." Kata Billa yang melihat Aris cuma diem ketip ketip matanya.
"Iya deh mau iya iya." Kata Aris memberi jawaban setengah tidak percaya.
"Hmmmm jawab gitu aja lu lama amat sih." Kata Billa kembali menjatuhkan dagunya di lengan Aris.
"Udah lah ayo masuk, nanti ulangan matematika lu udah belajar?" Tanya Aris menyembunyikan kegugupannya karena senang.
"Sudah dong. Ris lo gak boleh narik kata kata lo ya. Awas lo berani narik kata kata lo, gue satronin rumah lo terus ngaku ke om Wijaya kalo gue hamil anak lo." Kata Billa mengancam.
"Astaqfirullah Billa, Nyium lu aja gue gak pernah. Ini malah ngaku hamil." Kata Aris kaget.
"Ya makanya itu lo jangan putusin gue. Masak baru sedetik putus sih." Kata Billa yang jalan di samping Aris dengan gaya lakinya.
"Iya iya. Tapi lu juga jangan minta putis dari gue." Kata Aris menarik hidung mancung Billa.
__ADS_1
"Siap"