Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Aris


__ADS_3

Sejak saat itu, Revan tak pernah ragu lagi untuk mengajak serta Billa dan Vano dalam meeting meeting pentingnya. Memang tidak selalu menang, tapi Billa dan Vano semakin kompak dan tak tertandingi setelah beberapa kali penolakan. Billa dan Vano bukanlah orang yang sempurna, bahkan Billa lebih sering melakukan kesalahan. Kesalahan yang terjadi karena kecerobohan yang di bikin.


Seperti saat Billa belajar memasak di dapur bersama Revan dan Vano. Billa menumpahkan garam pada masakan Vano. Billa terus belajar hingga dia merasa bosan akhirnya membuang masakannya yang terasa pait akibat gudang garam tumpah.


"Sudah lah, kalian berdua saja yang masak. Pak Revan, gantian saya yang nadi bossnya ya. Saya capek belajar masak tapi gak pernah bener." Gerutu Billa yang memanyunkan bibirnya.


"Jadilah istri saya, kamu akan jadi ratu di rumah ini." jawab Revan santai.


"Ogah pak, saya cari aman saja." Jawab Billa yang mengetahui kebiasaan sang boss besar selalu gonta ganti wanita setiap malam.


"Hahaha kan kalau sama kamu saya tidak mencari yang lain." Jawab Revan lagi.


"Mampus lu Bill, pak Revan gak pernah nyari. Ceweknya yang dateng sendiri, bisa bisa lu di ajak treesome lagi." Timpal Vano yang suka sekali menggoda Billa.


"Apaan treesome? Gue itu polos Van, gak tau kaya gitu gitu. Emang elu suka koleksi film dewasa." Jawab Billa santai.


"Polos? Apanyaaaa???" Teriak Vano yang membuat Revan tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


"Iya in aja lah Van biar dia bahagia. Lagian ngaku punya tunangan, tapi tidak pernah berhubungan." Sindir Revan.


"Serah, pokok nya jari ini saya yg jadi bossnya pak. Saya gak mau jadi karyawan atau jadi Queen mu." Billa melenggang pergi.


"Dasar anak kecil, kelakuannya absurd." Gerutu Revan yang membuat Vano tertawa lepas.


Billa memandang layar ponsel yang sejak meninggalkan negaranya itu ia matikan. Billa menekan tombol power di bagian atas setelah mengisi daya batrainya. Setelah hp itu menyala, Billa tersenyum dengan memandangi paras rupawan dengan lesung pipi yang dalam.


"Aris, gue kangen sama lu. Sabar sayang sebulan lagi kita akan bertemu. Gue sudah mendapatkan apa yang gue inginkan. Dan sekarang gue mau mengabdi menjadi istri lu. Gue hanya berharap lu bisa sesetia gue di sini. Gue cintak sama lu Ris, Cintaaaaa banget." Billa mencium layar ponsel yang menunjukkan gambar sang pujaan hati.


Revan dan Vano melihat dari pintu, merasa terharu akan kesetiaan Billa. Aris, sungguh beruntungnya dirimu mendapatkan Billa. Gadis yang sangat special, batin Revan mamandang kagum pada Billa.


Vano dan Revan duduk di ruang tv menunggu pesanan datang. Karena ulah Billa membuang makanannya, Revan memutuskan memesan masakan dari restoran langganannya. Vano dan Revan masih memikirkan Billa.


"Pak, pak Revan memikirkan apa yang saya pikirkan gak?" Tanya Vano yang masih fokus pada layar datar ukuran 32'.


"Vano, apa wajah saya mirip dengan mbah dukun?" Tanya Revan membuat Vano menoleh pada bossnya itu.

__ADS_1


"Ya ampun pak, maksud saya. Bapak apa juga lagi mikirin Billa sama kaya saya? Bukan nuduh bakak paranormal" Jawab Vano gugup.


"Oohh, Billa. Ngobrol dong. Mungkin iya kalo kamu memikirkan bagaimana Billa nanti jika kekasihnya sudah bersama yang lain." Jawab Revan santai.


"Nah itu juga yang lagi saya pikir pak." Jawab Vano kesel.


"Kapan kalian pulang ke Indonesia?" Tanya Revan santai sambil meminum teh yang sudah dingin di depannya.


"Bulan depan pak. Jangan kangen ya hehehe." Jawab Vano membuat Revan berdecih.


"Kalian harus balik lagi lo." Kali ini Revan menyembunyikan kesedihannya.


Waktu dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Waktu yang mampu membuat seorang Revan bergantung pada mereka berdua. Revan berani membayar mahal agak mereka berdua terus berada di balik punggungnya.


"Saya juga punya perusahaan pak, meski tak sebesar milik bapak. Dan saya juga denger Billa mengurus perusahaan kakeknya bersama kakak keduanya, sedangkan kakak pertamanya sedang mengurus kliniknya sendiri yang di bantu mama dan Nadia sahabat sang mama. Papanya Billa sendiri mengurusi cafenya yang cabangnya betebaran di Indonesia." Jawab Vano.


"Pantas dia tidak bisa apa apa, dia di besarkan dengan kemanjaan di atas rata rata." Gumam Revan.

__ADS_1


"Boss salah, dia itu dididik bukan dengan kemanjaannya. Billa hanya diem ketika mamanya mendekor kamarnya menjadi istana di atas awan. Billa type cewe cuek." Vano memberi tahu apa yang di ketahuinya.


"Iya, kamu memang benar, Billa memang sangat misterius bagiku. Sungguh beruntung Aris." Revan mengakhiri sesi obrolahnya ketika pesanannya datang.


__ADS_2