Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Usaha


__ADS_3

Hari hari Billa di lalui hanya untuk belajar dan kerja. Billa menargetka 4 tahun sudah kembali ke indonesia dengan membawa gelar. Billa hampir tidak memiliki waktu untuk berlibur. Seperti saat ini, Billa bekerja dan sesekari meminta tugas kepada dosen pembimbing untuk bisa mencapai target. Liburan musim panas di habiskan Billa dengan mengikuti berbagai macam seminar dan juga bekerja sendiri tentunya. Teman yang baru dia kenal yang sesama kelahiran Indonesia telah pulang ke rumah papanya di Itali. Billa menyerahkan tugas yang di kerjakannya pada dosen pembimbing.


"Billa, apa kamu mau ikut seleksi untuk bekerja di perusahaan Birma? Perusahaan itu mencari talent baru di bidang pengembangan usaha. Jika kamu masuk menjadi salah satu yang masuk menjadi kandidat karyawan perusahaan itu. Kamu bisa dengan mudah untuk mendapatkan sertifikat dan menjadi sarjanah hanya dengan menempuh pendidikan dua tahun saja." Dosen pembimbing Billa menawarinya.


"Syaratnya?" Tanya Billa yang masih santai menanggapi meski sebenarnya dia sangat antusias.


"Tekad dan kemauan." Jawab Singkat dosen pembimbing Billa dengan menyesap teh susu di depannya.


"Ok, kapan buka pendaftarannya?" Tanya Billa kembali menggigit roti berisikan daging dan sayuran itu.


"Mulai hari ini sampai seminggu kedepan." Dosen pembimbing Billa meninggalkan meja setelah meletakkan selembar uang kertas di atas meja.


Billa langsung menghubungi Vano untuk menawarinya kesempatan emas untuknya. Seperti dugaannya, Vano terlihat sangat antusias dan mengatakan akan kembali dengan penerbangan yang berikutnya.


Keesokan paginya Billa keluar apartemennya dengan busana formal yang dia beli kemarin dan di sambut wajah ganteng khas blasteran Vano di balik pintu apartemen Billa.

__ADS_1


"Gileeeee ganteng banget lu Van, sumpah nyesel gue nolak lu kemaren." Kata Billa bercanda.


"Masih belum terlambat kalo lu masih mau terima gue." Balas Vano dengan senyuman menggoda.


"Sayangnya minat besar anda harus terhalang." Billa menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya mengukir nama pasangannya.


"Sungguh beruntung pasanganmu Billa. kau sungguh setia menjaga janji sucimu." Kagum Vano akan kesetiaan Billa.


"Cukup sekali gue bikin dia kecewa. Dan gue mau masuk dalam perusahaan itu agak bisa cepat lulus cumlaude." Kata Billa berapi api menyusuri lorong apartemen.


"Baik Billa, kita memang beruntung. Karena mereka sudah di tolak oleh pihak perusahaan. Ini kesempatan benar benar sangat langkah buat kita." Kata Vano mentab menyemangati Billa dan dirinya sendiri.


"Hem, Vano. Semangat" Billa mengepalkan tangan dan berjalan masuk menyusuri tangga darurat yang di samping tempat mendaftar.


Di tengah perjalanan menaiki anak tangga di lantai ke tiga. Billa dan Vano bertemu dengan seseorang karyawan yang memakai baju office boy dengan membawa alat pel turub dari lantai empat.

__ADS_1


"Maaf, apa anda pelamar?" Tanya karyawan itu.


"Iya pak." Jawab Vano sopan.


"Kenapa lewat tangga darurat? bukannya lift berfungsi dengan baik?" Tanya Karyawan.


"Kami mau merasakan bahwa perjuangan itu tidaklah mudah seperti menaiki anak tangga ini. Akan ada rasa capek dan pegal di kaki, tapi kami harus tetap ingat tujuan kami sudah tidak jauh lagi." kata Billa dengan senyuman.


"Apa kamu sudah capek? Apa kamu sudah mau menyerah?" Tanya lagi karyawan itu.


"Bohong kalau mengatakan tidak capek. Ya jelas kami capek, tapi tujuan kami sudah di depan mata untuk apa menyerah?" Jawab Billa lagi.


"Apa kalian tidak takut terlambat?" Tanyanya karyawan itu membuat Billa dan Vano menunduk.


"Jika kami terlambat, kami akan datang lagi besok dan lebih pagi lagi tentunya. Bukankan masih ada hari esok dan seminggu lagi? Jadi kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki sebaik mungkin, sampai tidak memberi harapan lagi pada kesalahan." Jawab Vano seketika.

__ADS_1


"Ya sudah Semangat ya." Karyawan itu menuruni anak tangga, Sedangkan Billa dan Vano melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2