Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Kembali tak bahagia


__ADS_3

Sebulan bukanlah waktu yang lama. Billa kini sudah berada di sebuah cafe milik keluarganya menunggu Sang Abang tercinta. Di depan Billa duduk dua orang yanv memiliki paras peranakan Arab dan Itali. Revan sang boss dan Vano rekan kerja Billa mengantar sampai ke Indonesia. Taukan seberapa pentingnya Billa bagi Revan untuk perusahaannya? Billa dan Vano merupakan aset terpenting dalam perusahaan bagi Revan. Namun Sahabat sejati bagi Vano.


"Silahkan mbak Billa, Pak Rizal ada di dalam kalau mbak Billa mau ketemu." Kata Fendi satu satunya orang kepercayaan Rizal, kakak dari Mario orang kepercayaan Levin yang di tempatkan di Bandung.


"Benar kah?" Billa meninggalkan kedua orang yang duduk semeja dengannya saking girangnya.


"Papaaaaaa putri cantikmu dataaaaaaaannngggg" Teriak Billa berlari ke arah Rizal yang berdiri memegang sebuah mab.


"Billa, kenapa kamu gak ngasih kabar papa kalau pulang hari ini?" Tanya Rizal memeluk erat sang putri.


"Kejutan papa." Billa menunjukkan sertifikat S1 nya kepada Rizal.


"Apa??? Kamu sudah S1? Bagaimana bisa?" Tanya Rizal kaget bercampur senang tak percaya putrinya mampu menyelesaikan pendidikannya hanya separo waktu dari yang seharusnya.


"Papa, pertanyaan papa itu seperti meremehkan Billa. Ini lihat pa Billa juga punya setrifikat kerja yang sangat membanggakan." Billa menunjukkan semua keberhasilannya di negri orang.

__ADS_1


Di tempat Vano dan Revan, mereka berdua membicarakan konsep yg di miliki oleh sang pemilik yang tak lain adalah papanya Billa.


"Gak heran kalu Billa punya pemikiran absurd, sepertinya papanya juga sepemikiran sama dia. Lihat saja dengan dia menata tempat ini, tapi aku yakin kalau cafe ini sangat ramai dengan batapa banyaknya karyawan yang begitu ramah." Kagum Revan pada pemikiran Rizal yang masih memikirkan lesehan di pojok depan selain di bale bengong.


"Denger denger pak, dulu papanya Billa mendirikan Cafe itu untuk mengajak kabur mamanya. Lah mamanya Billa itu sahabat kecilnya si papa. Nama cafe ini pun di ambil dari nama mamanya Billa." Sedikit cerita dari Vano membuat Revan menggut manggut mengerti.


"Lama ya, maaf. Kenalkan ini papa Billa Pak Alfan Ahrizal." Billa mengenalkan Rizal pada Vano dan Revan.


"Selamat sore, panggil saja saya pak Rizal. Saya papa dari Billa." Rizal mengulurkan tanggan yang di sambut hangat dari Vano.


"Vano, Stevano Abigil." Vano mengenalkan diri.


"Pa, Vano itu rekan kerja juga teman Billa kuliah. Sedangkan Pak Revan itu boss Billa. Beliau cucu dari pendiri perusahaan Birma yang terkenal itu." Cerita Billa dengan bangganya memperkenalkan kedua orang yang ada di depannya.


"Kamu kerja di sana, terus kamu gak pingin balik bantuin bang Levin?" Tanya Rizal.

__ADS_1


"Kalo itu sih tanya sama Aris aja pa." Ucap Billa bahagia namun papanya memandang Billa penuh haru.


"Apa selama ini kamu tidak pernah menghubungi dia?" Tanya Rizal membuat senyum Billa memudar.


"Apa yang terjadi pa?" Tanya Billa dengan sedikit raut wajah yang berbeda.


"Frizka sampai saat ini belum bangun dari tidur panjangnya setelah keberangkatanmu. Frizka sangat terpukul tentang kepergian kamu." Rizal mengabarkan kondisi Frizka yang sama sekali tidak menunjukkan perubahan.


"Di mana dia Pa? Kenapa gak ada yang mengabari Billa?" Air mata yang telah lama bersarang di mata Billa kini telah tumpah setelah mengdengar kabar Frizka.


"Di Singapura dan hanya di temani oleh Sandi." Ucap Rizal.


"Papa Billa ingin berrtemu mereka. Antar Billa ke sana." tangisan Billa pecah saat Papa menggelengkan kepala.


"Mungkin Sandi dan keluarganya sudah membencimu. Pihak Aris juga membatalkan pertunangan kalian secara sepihak. Saat papa tanya di mana Aris, keluarganya hanya mengatakan ada dan akan kuliah keluarnegri. Pemutusan hubungan pertunangan juga karena permintaan Aris." Billa tertunduk lesu, tatapan kosong Billa membuat Vano dan Revan tersentuh.

__ADS_1


"Bill ada kita di samping kamu. Jangan merasa kamu sendirian. Bangkit dan tunjukkan kamu baik baik saja demi Frizka. Aku akan mengantarmu ke Singapura." Revan memberikan dukungan pada sekertaris pribadinya.


"Aku akan menemui Mbah Kung dulu." Billa bangkit dan meninggalkan koper juga kedua temannya di cafe milik sang papa.


__ADS_2