
"Billa lu bisa gak sih diem? Ulangan baru aja kelar tapi lo udah rese aja triak triak. Budeg kuping gue Bill." Kata Sandi dengan gaya cuek bebeknya.
"Ups maaf suamiku, otakku itu baru aja kena kejutan makanya pengen di lemesin bentar. Jangan sewot sewot dong suamiku, cepet tua entar kan aku bisa cepet jadi janda." Kata Billa menggoda Sandi yang hanya tersenyum tipis padanya.
"Ya istriku kupingku engap denger ocehan lu. Sekarang mana kotak roti tadi pagi." Sandi membalas gurauan Billa hanya dengan senyum tipis di bibir yang membuatnya terlihat lebih tampan dan menggoda.
"Oh iya, ini." Billa memberikan kotak bekal milik Sandi.
"Bilang mami lu, mami makasih ya menantumu suka sekali sama bekal hari ini. Rasanya tu eeeeeennnnnaaaaakkkk banget. Sampek in juga sama mami lu kalo menantunya satu ini ngucapin terima kasih." Kata Billa dengan menoel dagu Sandi.
"Ngarep banget lu jadi mantu mami gue" Kata Sandi sedikit meledek.
__ADS_1
"Dih, ogah gue punya lakin modelan kek lu. Cukup bang Levin aja yang dingin di keluarga gue, gitu aja udah bawa hawa dingin di keluarga gue." Kata Bila menabok lengan Sandi sangat keras sampai Sandi mengaduh.
"Sakit Billa. Lu itu jadi cewek feminim dikit gitu lo biar gue suka." Kata Sandi memegang tangan Billa yang hendak memukuknya lagi.
"Berubah karena elu?" Tanya Billa yang hanya di angguki oleh Sandi. "Ngimpi lo di siang bolong Sandi. Gue itu pengen nikah sama orang yang bisa nerima gue apa adanya bukan dengan orang yang mau gue nurutin dia." Kata Billa beranjak dari duduknya namun ketika hendak pergi tangan Billa di tahan oleh Sandi.
"Kalo gitu nikah aja sama Aris, kan dia yang selalu nurutin elu dan semua kemauan elu." Kata Sandi mencengkeram lebih keras lengan Billa.
Sandi melepas cengkramannya lalu Billa pergi namun belum sampai pintu Sandi berteriak padanya hingga membuat seisi ruangan memandang ke arahnya.
"Tunggu gue di tikungan depan Billa." Kata Sandi yang membuat Billa menaikkan lengan dengan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Mimpi!!!" Billa keluar kelas dengan membawa tasnya dan Sandi hanya tertawa menanggapi ucapan sewot Billa.
"Tikungan depan sangat berbahaya kawan, lihat saja dengan siapa akhirnya Billa nanti." Kata Sandi pada dirinya.
Billa gadis tomboy namun manja itu telah memikat seorang 'Sandia Pandu Wiranatha' sejak 6 bulan lalu. Tepatnya sejak ia pindah ke sekolah ini dan duduk di bangku yang sama dengan Billa. Sandi memiliki watak yang keras dan tak suka di tolak, karena dia memiliki ambisi yang sangat besar untuk mendapatkan keinginanya. Termasuk mendapatkan Billa yang baru saja mengakui bahwa dirinya berpacaran dengan Aris. Sandi hanya memiliki teman Billa dan Aris di sekolah ini, karena hanya mereka berdua saja yang bisa menerimanya. Sebenarnya banyak teman cewek yang ingin berteman dengan dirinya, hanya saja dia tak suka dengan cewek yang terlalu berlebihan terhadapnya. Billa lah satu satunya perempuan, gadis, siswi yang tak silau dengan ketampanan yang dia miliki. Jadi dia bisa menjadi dirinya sendiri ketika dengan Billa. Namun setelah pengakuan Billa tadi, apa masih bisa Sandi berteman dengan Aris?
Jawabannya masih, karena Billa juga tidak berubah sikap pada siapapun termasuk Aris yang di akui sebagai pacarnya. Billa tetap lah Billa, dengan keluguannya kadang di manfaatkan teman temannya untuk mengerjainya. Tapi bukan Billa namanya kalau tidak bisa membalas teman temannya itu. Billa polos hanya menutupi kepintaran yang di turunkan oleh sang mama dan papa. Dia tidak mau menonjol dan masuk ke jajaran orang orang jenius lainnya. Billa kadan sengaja membuat nilainya bertahan di angka 80 meski sebenarnya dia bisa lebih tinggi lagi. Alasannya ya, Billa gak mau di manfaatin teman temannya.
"Abang sudah lama nunggu Billa?" Tanya Billa pada Levin yang setengah tertidur karena menunggu Billa.
"Lumayan, abang capek makanya abang tidur." Kata Levin mengusap wajahnya dan mengumpulkan kembali nyawanya sebelum melajukan mobil ke kantor.
__ADS_1