Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Masa lalu


__ADS_3

"Vin." Panggilan Queen membuat Levin terkaget.


"Udah bangun?" Berusaha se tenang mungkin.


"Mama sudah berangkat?" Tanya Queen dengan nada seraknya.


"Sudah, kamu mau kemana? Biar aku bantu." Levin membantu Queen yg masih tertatih dalam berjalan.


" Billa udah pulang belum? Tadi gue nitip beliin brownis di toko kue samping sekolahan." Kata Queen yg belajar berjalan.


"Belum, di rumah gak ada orang selain kita berdua. Ayu nganterin makan siang ke cafe buat Abang." Levin berdiri di belakang Queen memastikan tidak terjadi apa apa pada Queen.


"Vin,"


"hmm"

__ADS_1


"Boleh tanya gak sih?"


"Silahkan."


"Dulu lo sama mbak Ayu ngapain aja pas pacaran?" Tanya Queen tiba tiba membuat Levin berdehem menetralkan ke gugupannya.


"Kenapa tanya itu sih?"


"Jujur Vin, geli kadang gue liat mbak Ayu kalo lagi deket sama lo. Kaya canggung canggung gitu." Queen tertawa geli membayangkan kejadian Ayu.


"Sebenernya bukan canggung yg dia rasakan. Tapi takut."


"Pernah sekali kami makan di luar tanpa abang, kalo gak salah pas kamu potong rambut. Entah apa yg ada di fikiran dia waktu itu, Yg jelas pas aku nunduk ngambil sendok yg jatuh. Dia mencium rambutku, terus aku bentak. Dari sana setiap ketemu aku dia rada rada takut tapi berani. Mungkin dia pengen deket sama abang melalui aku. Tapi gak tau lagi sih. Setau aku dia bukan cewek gampangan kok yg gampang nyosor orang kaya sekarang dia berani terang terangan meluk abang." Jelas Levin sambil membantu Queen duduk di tepian ranjang.


"Jelas lah sekarang mbak Ayu berani. Kan sudah jadi miliknya juga. Yg gue maksud itu Vin, pas kalian tunangan itu lo ngapain aja? Pernah sekali gue mergokin lo ngajak mbak ayu masuk kamar." Tanya Queen menangkub wajah suamunya.

__ADS_1


"Sejauh itu kamu kepo sama aku sayang? Yakin lah apapun yg terjadi dulu itu sudah jadi cerita dulu dan biarlah menjadi rahasia antara aku dan Ayu." Jawab Levin memeluk Queen.


"Enak aja jadiin rahasia kalian. Lo piki gue apaan!!! Pokoknya lo harus bilang ngapain waktu itu." Kini Queen sudah dalam mode ngambeknya dengan bibir monyong ke depan.


"Hmmm, ya sudah dengarkan baik baik. Aku ngajak Ayu masuk kamar karena waktu itu dia mau masuk univ kedokteran bareng abang. Dan di dalam juga ada abang, Tanya aja sama abang kalo gak percaya. Dia minta di ajari matematika, gue tau dia pinter tapi dia sangat lemah di pelajaran matematika. Dia tanya sama abang, tapi abang malu malu untuk menjelaskan pelajaran. Tau sendiri kan abang orangnya gimana." Jelas Levin membuat Queen sedikit lega.


"Vin, lo tau sendiri kan gue lebih sering di sini dari pada di rumah ayah. Itu karena gue ngerasa mendapat kasih sayang di sini. Gue gak tau lagi seperti apa nanti kalo lo ceraiin gue, Atau lo cari cewek lain. Aku akan kehilangan semua Vin. Termasuk hidupku." Queen menyandarkan kepala pada dada Levin.


"Jangan mikir terlalu jauh. Anggap saja kita sedang pacaran, Pacarang kaya anak jaman sekarang yg bebas ngapain ajak." Kata Levin menjaili sang istri.


"Ih geli Vin." Queen mendorong Levin yg menggelitik perutnya.


"Biarin, Habisnya negatif terus pikirannya." Levin semakin dalam menggelitiki Queen.


"Bisa ngompol gue Vin, Hahahaha?"

__ADS_1


"Ngompol aja, toh kamu sendiri yg bakalan nyuci seprei sama jemur kasurnya." Tantang Levin.


"Ampuuuunnnn Viinnn"


__ADS_2