Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Love Billa


__ADS_3

"Bill, Billa... lu udah tidur belum? gue gak bisa tidur." Sandi membalikkan badan yang tadinya memunggungi Billa kini menghadap Billa.


"Kenapa gak bisa tidur? Mikirin Frizka?" Tanya Billa ketus.


"Iya, gue takut. Tetap temani gue ya Bill." Pinta Sandi memeluk Billa dari belakang lalu memciumi punggung Billa.


"San, kalo lu gak siap untuk berjuang buat gue. Mending lu balik badan dan kejar semua impian lu sebelum kita jauh melangkah." Billa meneteskan air mata tanpa di minta.


"Lu ngusir gue Bill, gue sayang sama lu. Gue mau kita bersama cuma gue gak bisa melepas Frizka begitu aja." Sandi terus kepikiran ucapan Frizka yang mengancamnya.


"Lu gak bisa tamak seperti ini San, biar gimanapun lu harus milih. Gue istri sah lu San, bukan Frizka yang dulu pernah bertunangan denganmu." Kini nada bicara Billa sedikit meninggi.


"Gue tau Bill, dan gue milih lu. Gue cuma gak bisa lepasin lepasin Frizka." Sandi pun meninggikan suaranya dan membuat Billa semakin sesak nafas dan dadanya terasa begitu berat seperti tentimpa bongkahan batu.

__ADS_1


"Ya sudah kalo begitu lepasin gue Sandi." Billa bangun dari tidurnya lalu berjalan ke arah balkon apartemen kecil Sandi yang berada di lantai 7.


"Billa, lu nangis?" Tanya Sandi melihat air mata Billa hatinya menjadi tak menentu.


"Apa perdulimu jika cuma ada Frizka di hatimu."


Sandi berjalan mendekati Billa lalu memeluknya dari belakang. Mengecup ujung kepala Billa dengan lembut dengan berkata percayalah padaku.


"Jika memang hanya aku yang ada di hatimu, bisakah hanya ada aku di fikiran juga hidupmu. Jangan ada lagi Frizka Frizka yang lain yang mengganggu pikiranmu juga hidupmu. Karena aku terganggu dan merasa terancam berada di posisiku." Billa membalikkan badan memeluk sang suami yang kini tersenyum mendengar kata kata Billa yang menunjukka bahwa dirinya sangat Cemburu secara tidak langsung.


"Promise"


Di tempat lain, Levin dan Queen kebingungan di buat oleh Almas putri semata wayangnya demam tinggi. Levin membawa Almas ke klinik Kliene dan kebetulan sang Abang jaga malam. Kliene langsung memeriksa keponakan tersayangnya.

__ADS_1


"Almas hanya panas tapi jika di biarkan bisa step. Sekarang sudah abang kasi obat penurun panas, biarkan dia tidur sebentar." Kata Kliene pada sang adik yang terlihat sangat cemas.


"Bang Almas gak akan kena ayan kan bang? Kasian cantik cantik kena ayan anaknya Levin bang." Kata Levin menangjs sedih.


"Kalo kamu kaya gini terus bisa bisa abang yang kena, jangan kaya anak kelah lah. Udah punya anak kecil juga. Malu itu sama Queen, dia aja gak nangis." Kliene mengusap kasar wajah garang adiknya.


"Queen itu wajahnya aja yang cantik bang tapi hati preman bang, lah Levin wajahnya aja garang tapi hatiku hello kiti bang." Levin memeluk manja Kliene seperti kebiasaannya saat kecil di tinggal mamanya ke pasar tapi pulang tidak di belikan oleh oleh.


"Dih Levin istrinya di anggurin aja. Nyari tiang aja dah di peluk." Ucap Queen membuat Kliene dan Levin melingo ketika Queen memeluk tiang di depan pintu ruangan Kliene.


"Emang bener ya kata orang. Kebanyakan orang cantik itu gak ada isinya." Gerutu Levin kesal.


"Gitu kamu cinta."

__ADS_1


__ADS_2