
Sebelum hari kelulusan tiba, pak Akbar dan dan pak Firdaus selaku kepala sekolah datang ke rumah Cinta. Namun Cinta sudah pindah ke rumah mereka sendiri yg tepatnya di depan rumah Cinta dan Rizal. Hari ini adalah hari tenang yg cuma di isi class meeting. Rizal memilih untuk menjaga istrinya di rumah.
Saat Rizal menyuapi Cinta sarapan. Pintu rumah Rizal di ketuk oleh seseorang. Setelah mengelap bibir Cinta, Rizal membuka pintu. Rizal membuka pintu dan hanya bisa diam mematung di tengah pintu dengan siapa yg datang.
"Rizal, kenapa kamu tidak menyuruh kami masuk?" Tanya pak Akbar.
"Maaf pak, mari silahkan masuk." Setelah para guru duduk di sofa ruang tamu Rizal pun molai bertanya meski takut takut.
"Maaf pak, ada apa ke rumah saya? apa saya akan di keluarkan dari sekolah?" Tanya Rizal namun di sambut tawa sang guru.
"Tidak, kami dengar waktu ujian nasional kemarin kalian kecelakaan jadi kami memutuskan untuk memberi ujian susulan untuk Cinta. Kasian kalau harus mengulang setahun. Bapak yakin kalian pasti bisa, karena kalian murid murid yg pandai." Kata pak Firdaus.
__ADS_1
"Di mana Cinta?" tanya pak Akbar.
"Di kamar pak. Mari saya tunjukkan pak." Rizal mengajak guru gurunya menemui Cinta di kamar mereka.
"Cinta, kalau misalnya kamu ujian sekarang apa kamu kuat?" Tanya pak Firdaus.
"Kuat pak, sebelum kecelakaan kami sudah mempersiapkan diri untuk ulangan ini pak. tapi siapa yg tau takdir berkata lain pak." Jawab Cinta.
Rizal mengajak Firdaus untuk berkeliling dengan membicarakan bisnis yg ternyata menarik minat kepala sekolahnya itu.
"Dari dulu memang saya berminat dengan bisnis kopi ini. Tapi saya gak tau harus mulai dari mana. Akhirnya mimpi terus terpendam oleh rutinitas yg padat hingga terlupakan." Jelas Firdaus dengan pandangan menerawang.
__ADS_1
"Tadinya saya juga begitu pak. Selain tidak tau cara memulainya, saya juga bukan pecinta kopi. Saya lebih menyukai teh yg di seduh secara langsung. Dan dari saya mulai menginjak kelas 12. Orang tua saya mulai berkomentar tentang kedekatan antara saya dan Cinta. Kami di besarkan bersama dengan sendirinya kami saling ketergantungan satu sama lain. Kami mengira itu sebuah hal yg biasa terjadi antara anak ABG. Cuma saat saya mendengar bahwa akan di jodohkan, dari sana sedikit demi sedikit orang tua saya memisahkan antara saya dan Cinta. Saya mulai kelimpungan dan mencareritakan hal ini ke salah satu orang yg baru saya kenal dan dia pecinta kopi. Akhirnya kami mulai membuat rencana untuk mendirikan cafe. Saya punya modal full dan tempat saya yg mencari. Teman saya itu yg memahami tentang kopi itu terkendala dengan modal. Kami merasa saling menguntungkan sampau akhirnya cafe pertama buka. Kurang dari 4 bulan ada seorang investor yg menawarkan kerja sama karena ketertarikanya dengan kopi. Sehingga di bulan ke 5 kami opening cafe ke 2. Dua bulan dari situ saya benar benar di tunangkan dengan seorang murid bapak juga. Dari situ saya benar benar frustasi karena jauh dari Cinta. Yg ternyata begitu juga dengan Cinta. Setelah kami mengetahui perasaan masing masing. Kami berencana untuk kawin lari. Dari cincin baju sampai uang pun kita siapkan untuk membeli rumah di mana kita akan pergi. Kami bertemu secara sembunyi sembunyi. memang sih kami hanya mengerjakan soal, tapi karena cara saya yg salah makanya kami dinikahkan keesokan harinya." Terang Rizal tertunduk malu.
"Cara yg salah? memang cara apa yg kamu gunakan?" Tanya pak Firdaus dengan menyruput kopi arabika buatan Rizal saat sudah di ruang tengah setelah berkeliling rumah.
"Saya setiap malam pergi lewat balkon kamar saya menyebrang tembok penghubung dengan balkon kamar Cinta pak. Dan saat nyampek di balkon kamar Cinta, ternyata mama papanya di dalam kamar dan mama saya juga ada di sana. Langsung kami di sidang pak. Dan di suruh nikah besoknya." Terang Rizal malu.
"Itulah cerita kamu, jangan pernah merasa malu dengan perjuanganmu yg membuatmu meneguk keberhasilan. Bapak malah lebih dari itu. Bapak dulu tidak pernah mencintai istri bapak. Tapi karena kesabaran dan kesetiaannya, dalam waktu sebulan bapak bisa mulai mencintainya." Firdaus mulai bercerita.
"Kenapa bapak menikahinya kalau bapak tidak mencintainya?" Tanya Rizal.
"Dulu bapak bukan orang baik Zal, bapak terpaksa menikahinya karena bapak sudah menidurinya. Dan bodohnya bapak, bapak melakukan itu di rumah bapak yg juga ada orang tua bapak. keesokan pagi, orang tua bapak tepatnya ibu mau membangunkan bapam untuk berangkat mengajar. Tapi saat membuka pintu, ibuku melihat pakaian wanita dan membuka selimut melihat kami tanpa busana. Jadi ya saat itu juga dinikahkan. Kamu masih mending sudah memiliki persiapan. Sedangkan bapak tanpa persiapan apapun. Akhirnya kami menikah siri dulu Zal sampai 3 bulan baru menikah sah. Makanya bapak bangga sama persiapan kamu yg bener bener tertata rapi dan lebih matang." Mata Firdaus memancarkan rasa bangga kepada Rizal.
__ADS_1
"Iya pak, karena saya mau Cinta hidup bahagia tanpa kekurangan saat bersama saya. Saya berfikir, saya berani melangkah berarti saya harus berani bertanggung jawab." Jelas Rizal.