Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Pilih mana?


__ADS_3

Malam penuh haru telah berganti dengan pagi cerah. Hari ini adalah hari minggu, hari libur sekolah maupun kerja. Billa menikmati hari liburnya dengan bermain bersama si kembar tiga yang mulai merangkak.


"Agas ini ambil." Kata Billa pada bayi ganteng di depannya dengan memberi mainan.


"Assalamualaikum." Sapa seorang cowok di depan Billa yang bermain dengan ketiga ponakannya.


"Sandi? Dari mana lu tau rumah gue?" Teriak Billa membuat Ayu yang di ruang tamu jadi berlari ke depan melihat Billa.


"Ada apa sih Billa?" Tanya Ayu langsung mengambil Agas putra pertamanya.


"Enggak ada mbak, ini ada temen Billa." kata Billa melihat ke arah Sandi.


"Oh pacarnya Billa ya?" Goda Ayu membuat Queen yang sudah berdamai dengan neneknya itu keluar melihat Billa.


"Bukan mbak Ayu, dia teman Billa di sekolah. Jangan diem aja lu Sandi." Billa memukul lengan Sandi.


"Sakit Bill, bukan pacarnya mbak tapi calon suaminya." Kata Sandi mendapat tendangan dari Billa.


"Lu kalo ngomong suka ngasal. Pulang sono lu." Usir Billa karena malu.


"Billa gak sopan itu sayang. Sini nak masuk, biarin Billa diem di sana." Kata Cinta yang baru datang dari pasar langsung menggandeng Sandi.


"Sayang, apa kamu sudah berpaling dari mas dan mencari daun muda?" Kata Rizal jengkel.

__ADS_1


"Enggak mas, ini calon mantu." Kata Cinta melepas gandengan tangannya lalu menggandeng sang suami yanh sudah terlihat tidak suka.


Saat semua duduk di ruang tamu termasuk Billa. Cinta di bantu dengan Queen membawa nampan berisi minuman dan jajan di piring. Belum selesai menyajikan minuman dan jajan, pintu kembali di ketuk.


"Assalamualaikum." Salam seorang remaja cowok setelah mengetuk pintu.


"Masuk Ris, kebetulan sekali lu juga datang. Ngapel juga?" Kata Queen menggoda Aris tapi malah Billa yang Blushing.


"Hehe iya mbak." Jawab Aris nyengir kuda.


"Waduh Billa kenapa bisa gini? Pacar lu yang mana sih?" Tanya Ayu jadi bingung.


"Pacar Billa ya?" Kata Billa ragu ragu untuk ngomong.


"Lah terus Sandi?" Tanya Queen heran.


"Kan tadi udah bilang, Sandi bukan pacar mbak tapi calon suami." Kata Sandi percaya diri.


"Lu ngaco kalo ngomong San," Billa jadi gelagepan di depan keluarganya dan hanya berharap Sandi gak ngomong macem macem.


"Lah, elu sendiri kan yang bilang waktu itu pas gue abis ngasi sandwich buatan mami. Lu bilang, san bilang sama mami lu terimakasih menantumu suka sekali sama bekal yang di buatin mami." Kata Sandi mengingatkan Billa.


"Tapi Billa yang minta gue perjuangin dia." Kata Aris tak mau kalah.

__ADS_1


"Billa kenapa jadi kaya gini? jangan PHP in anak orang gini dong sayang." Kata Rizal menghampiri putrinya.


"Maaf pa, Billa gak maksud buat PHP in siapapun. Billa cuma niat bercanda pa sama mereka. Ya papa liat dong Billa, mana ada cantik cantiknya. Dan papa liat mereka, mereka itu ganteng ganteng pa. Mana Billa tau kalo Sandi anggep itu serius. Kalo Aris emang Billa yang ngajakin pacaran, abisnya kalo sama dia Billa seneng. Selain bisa ngilangin bosen juga bisa nambah sarapan. Masakan dia enak banget pa." Kata Billa menunduk.


"Hmmm terus kamu mau pilih siapa?" Tanya Rizal membuat Billa mengangkat kepala memandang Aris dan Sandi.


"Gak tau pa. Mereka berdua baik sama Billa." Kata Billa membuatnya mendapat toyoran dari Levin.


"Lu ngapa jadi playgirl gini sih dek? Belum lagi lu bilang naksir ponakannya Bude Mae." Kata Levin membuat Billa memukul lengan abangnya.


"Jangan di ingetin itu, mama udah gak setuju." Kata Billa melirik ke arah Aris lagi.


"Billa, sekarang gini. Lu milih gue apa Sandi?" Tanya Aris pelan.


"Pilih elu lah dari pada dia, bisa mati kaku gue dicuekin ama tu anak. Cukup bang Levin aja yang buat gue beku, gak mau cari yang lain." Kata Billa mantab.


"Ok, inget kata gue Bill. Tikungan depan itu tajam, dan kita bersaing secara sehat brow. Lu sama gue tetep temenan, kita bertiga tetep temenan jangan karena masalah ini kita cuek cuekan." Kata Sandi sebelum beranjak dari duduknya.


"Tenang brow, kita bersaing secara sehat." Kata Aris menepuk bahu Sandi.


"Kalo kalian mau sama adek gue, tunjukkan kalo adek gue gak akan sengsara hidup bareng kalian tanpa minta ke orang tua." Kata Levin memberi syarat dengan menepuk pundak kedua pemuda di hadapannya.


"Siap" Kata Sandi dan Aris berbarengan.

__ADS_1


__ADS_2