Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Pelakor yang di harapkan


__ADS_3

Setelah menyaksikan pertemuan ayah dan anak yang mengharukan itu. Revan dan Billa berniat untuk melepaskan Ani pada orang tua kandungnya.


“Selamat siang bapak Yunus.” sapa Revan yang berada di belakan putri yang di peluknya.


“Oh maaf pak, selamat siang. Mari kita mulai bahas AIRA,” ucap lelaki tua rapuh yang berusaha tegar dengan menghapus air matanya.


“Mari silahkan ke ruangan saya. Dan kamu Ani, saya mau kamu juga ikut,” ucap Revan dengan nada yang sangat tegas.


“Baik pak,” Ana pun mengikuti ketiga orang yang terlihat sangat serius.


Di dalam ruangan Revan sudah ada Frizka dan juga Vano. Pak Yunus sedikit kaget dengan keberadaan wanita yang pernah menikahi sang boss muda itu. Tapi bukankah boss muda ini sudah menikahi sekertaris pribadinya, Salsabilla? Bati pak Yunus terus bertanya - tanya tanpa tau apa jawabannya.


Frizka mengambil duduk di samping Revan. Sedangkan Billa di samping Vano yang tak jauh dari tempatnya duduk. Dan sang putri kini tengah berdiri di samping Revan yang berada di ujung tempat duduk.


“Baiklah kita mulai saja. Pak Yunus saya akan mengabarkan kabar singkat. Saya mendapatkan grafik yang terus turun dari produk yang bapak pasok ke BIRMA pusat. Ada apa sebenarnya pak?”tanya Revan dengan menunjukkan sebuah grafik yang terus turun ke bawah angkanya.


“Untuk hal ini saya minta maaf.Pertama - tama alasan yang saya punya dan satu - satunya adalah. Saya kekurangan modal pak,” dengan tanpa ragu pak Yunus mengungkapkan kendala yang selama ini tengah mengganggu pemproduksiannya.


Ana kaget mendengarkan apa yang di utarakan oleh sang papa. Bukannya selama ini, papanya suka berinvestasi? Kemana lari dari keuntungan yang di investasikannya? Tidak mungkin kan papanya itu tertipu investasi bodong dan mengalami kerugian yang sangat besar.


“Bagaimana bisa bapak mengalami kendala modal? Bapak punya investasi di hotel BAGANTA bukan?” Tanya Billa yang seakan tau keresahan hati Ani.


“Saya baru tau jika keuntungan besar yang di berikan BAGANTA tidak pernah mengalir ke rekening perusahaan saya,” ucapan menyesal yang terlontar dari mulut pak Yunus pun tak bisa di terima Billa.


Karena setahu Billa, selama ini tak pernah telat mentransfer ke rekening AIRA. Karena Billa sendirilah yang selalu memantau tentang pembukuan BAGANTA maupun CINTA cafe milik papanya.


“Itu tidak mungkin pak, karena saya bisa pastikan kalau pihak BAGANTA sudah mengirim setiap bulannya ke rekening AIR.” Jelas Billa yang tak mau perusahaan yang di kendalikan oleh kakanya itu di bilang telah melalaikan tanggung jawabnya.


“Saya tidak menyalahkan BAGANTA bu Billa. Tapi saya menyalahkan diri saya sendiri yang sudah cerobah tidak mengecek kembali berkas saya yang akan di serahkan pada perusahaan yang bekerja sama. Semua keuntngan mengalir di rekening yang salah bu Billa.” Jelas pak Yunus yang membuat Revan dan Billa sedikit menyesali apa yang terjadi.


“Terus selama ini kemana Pa?” Pertanyaan khawatir dari seorang anak peda papa tersayangnya.


Ani tertunduk menyadari semua pandangan mata petinggi kantor tempatnya bekerja tengah memandangnya.


“Maafkan saya sudah lancang mengeluarkan suara.” Ucap menyesal dari bibir Ani.


“It’s ok, pertanyaan kamu bagus. Kamu berhak tau, karena itu tanggung jawab kamu sebagai anak. Itu perusahaan kamu.” Revan tersenyum dengan penuh kehangatan selayaknya seorang kakak yang tengah mengayomi adiknya.


“Maksud bapak apa?” tanya Ani yang masih belum mengerti apa yang di sampaikan bossnya.


“Ani, Aninia. Pak Yunus itu papa kamu, dan AIRA milik papa kamu. Apa kamu tidak berkemilikan dengan itu? AIRA seharusnya juga menjadi tanggug jawab mu.” Jelas Billa yang membuar Ani semakin tertunduk.


“Pulang lah nak, bantu papa mengurus perusahaan. Papa melihat putri kecil papa sudah dewasa sekarang. Dan sudah tidak manja lagi,” ucapan tulus seorang ayah yang merindukan putrinya.


“Ani gak mau pulang pa, selama masih ada tante Winda di rumah.” Tolak Ani dengan tegas meski tidak dengan meninggikan nada suaranya.


“ Tante Winda sudah tidak di rumah kita lagi semenjak mama mu meninggal sayang.” Pak Yusuf mencoba membujuk putri kecilnya yang tengah ngambek untuk pulang ke rumah.


“Pulang lah Ani, dan kamu saya pecat secara terhormat sekarang. Saya berharap kita bertemu lagi dengan keadaan yang berbeda. Bukan Ani seorang resepsionis saya lagi, tapi seorang Ani yang menjadi relasi kerja saya” Kata Revan yang membuat Ani dan pak Yusuf merasa sangat bahagia.


“Makasih pa, saya akan berusaha sehebat bu Billa,” ucap Ani yang ternyata mengagumi sang atasan sudah sejak lama.


“Jadikan dirimu lebih hebat dari ku. Karena aku masih banyak kekurangannya.” Billa menasehati ani untuk tak berpatokan dengan satu idola saja.


“Iya bu, makasih sudah membuka mata saya. Dan menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah.” Ani melirik ke arah Frizka yang seakan tak mengerti apa yang di bicarakan Ani.


“Kamu juga harus hari hati. Jangan suka menelan berita begitu saja.” Vano yang sangat peka dengan keadaan ini pun ikut menasehati gadis kecil di pelukan papanya itu.


“Iya pak Vano. Dan untuk bu Frizka, jika memang bukan miliku jangan pernah mengambilnya dengan paksa,” ucapan menyakitkan untuknya pun membuat Frizka meradang.


“Tutup mulutmu anak kecil.” Bentak Frizka yang malah membuat semuanya tertawa.


“Baiklah, saya akan mentransfer ke rekening Ani. Gunakan modal itu untuk memproduksi minuman isotonik itu dan saya akan mengubah rekening yang di BAGANTA atas nama Ani. Dialah yang berhak atas semua ini. Bulan ini biar saya kirim double, tapi ingat pak. Jangan kembali lagi megulang kesalahan yang sama,” ancam Billa membuat seorang Yunus malu.

__ADS_1


“Pasti Bu. Baikalah, ijinkan saya membawa pulang resepsiois nakal ini bu, pak” Pinta pak Yunus yang malah membuat Revan dan Billa tertawa termasuk Vano, tetapi tidak dengan Frizka yang merasa jengkel.


“Silahkan.” ucap Vano singkat.


Billa dan Revan mengantarkan kedua orang itu keluar kantor setelah pamit untuk pulang. Kini Ani telah menemukan kebahagiaan yang selama ini menghilang darinya. Kebahagiaan yang di renggut oleh orang yang tak menyukai kebahagiaan yang bersarang dalam suatu keluarga.


Pelakor itu apa sih? Kenapa bisa semenakutkan itu. Billa terus menanyakan pada dirinya. Gua pelakor terhormat, pelakor yang di harapkan. Tapi bagaimana dengan Frizka yang jelas - jelas lakinya gue goda.


Kejamnya diriku terhadap Frizka, tapi kan memang dia juga kejam terhadap gue. Hmmm membahas pelakor gak ada habisnya. Terutama bagi gue yang notabene nya juga seorang pelakor. Haduh, ngeri banget sih status gua.


Janda karena mantan tunangan dan merebut suami dari mantan tunangan yang membunuh suamiku. Kenapa gua di jalur ini? Kenapa tak pernah membiarkan gua berjalan di atas kisah cinta gua sendiri?


Tanpa ada yang menyakiti gua dan tersakiti karena gua. Kepengen teriak, tapi ini di kanroe. Bagaimana dong?


Pertanyaan - pertanyaan yang berputar dalam kepala Billa. Tak pernah mendapat jawaban dari mana pda siapapun. Billa merenungu nasipnya dan juga memandang Frizka dengan penuh rasa kasihan.


“Ngapa lu liat - liat?” Tanya Frizka dengan nada tak bersahabat.


“Dih, GR” Billa langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


Billa menatap suaminya yang tengah sibuk membahas draf yang terus turun dengan Vano. Billa mendekati mereka berdua yang membahas di meja kerja Revan. Sedangkan Billa dan Frizka duduk di sofa pojok ruangan.


Billa hanya melihat sekilas lalu berjalan mendekati jendela. Pemandangan luar membuat pikiran Billa terbang entah kemana. Billa membayangkan jika dia akan pisah dengan Revan, karena cara dia mendapatkan suaminya dengan cara merebut.


Bayangan kembali kepada seorang Frizka yang juga sedang serius dengan laporan perusahaannya. Billa kembali mengingat Sandi dan Aris yang sudah tidak berada di sampingnya.


Kepergian mereka berdua, tidak membuat Billa putus asa. Tapi memberikan sebuah penyakit hati yang sangat mengganjalnya sampai saat ini. Dendam, itulah penyakit hati yang di derita Billa selama dua tahun belakangan.


Billa berjalan meninggalkan ketiga orang yang tengah sibuk dengan urusannya sendiri - sendiri.


Billa pulang ke rumah orang tuanya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam. Billa sampai di kediaman Rizal, bagaikan seorang anak yang tengah lelah. Billa memeluk Cinta selaku mamanya, dengan segala beban yang mulai luruh dalam dekapan hangat sang mama.


Tanpa mengatakan apapun, Billa kini tengah terlelap di pelukan Cinta. Kedatangan Rizal di kagetkan dengan sang putri yang tengah tidur di pelukan sang istri.


“Gak tau mas, tiba - tiba dia datang terus meluk Cinta sampek tidur gini.” Jawab Cinta yang sama bingungnya dengan Rizal sang suami tercinta.


“Ya sudah, biar mas pindahin Billa di kamarnya.” Rizal menggendong Billa selayaknya anak kecil.


Cinta memperhatikan wajah lelah sang putri pun tak kuasa menahan air matanya.


“ Kenapa menangis sayang?” Tanya Rizal dengan menghapus buturan air mata di pipi Cinta.


“Mas, lihat wajah Billa, dia terlihat sangat lelah. Apa ini karena dia tak sanggup menghadapi Frizka yang tinggal bersama mereka?” Tanya Cinya yang membuat terkejut Rizla.


“Dari mana sayang tau mereka tinggal bertiga?” tanya Rizal.


“Kemarin Cinta kerumah Billa mas, dan yang membuka pintu adalah Frizka. Dengan bangganya Frizka mengaku nyonya rumah selaku dialah istri pertama Revan. Cinta langsung pulang, gak jadi nemuin Billa.” Adu Cinta pada sang suami.


“Kurang ajar memang Revan. Levin sudah pulang belum?” Tanya Rizal pada sang istri yang setia menunggui kedua menantu dan keempat cucu yang mulai mengerti dengan namanya minta jajan.


“Tadi sih Cinta lihat jam satuan udah pulang, gak tau lagi kalo masalah balik kantor lagi pa enggak.” Cinta menggandeng suaminya  keluar dari kamar sang putri.


Rizal setelah sholat Asyar langsung ke rumah Levin yang berada di samping rumahnya. Rizal melihat Levin tengah mengajari putrinya mengerjakan PR dari gurunya. Rizal menyuruh Cinta mengambil alih kerjaan Levin.


“Ada apa pa?” Tanya Levin yang melihat wajah papanya terlihat sangat serius.


“Kamu tau frizka tinggal bareng dengan Revan dan Billa?” Tanya Rizal.


“Papa kata siapa?” Levin seakan tak mau mendengar sebuah omong kosong dari papanya yang menyangkut masalah adiknya.


“Mama mu yang cerita, kemarin katanya berkunjung ke sana.” Jelas Rizal singkat.


“Satbang memang. Baiklah, besok Levin yang akan bertindak.” geram Levin yang mendengar kabar tak mengenakan dari papanya.

__ADS_1


“Billa lagi di rumah, dia datang - datang memeluk mama mu. Sampek tertidur.” Rizal mengabarkan jika adinya tengah tidur di rumah.


“Ada Billa ngadu sesuatu?” Tanya Levin pada papanya.


Kata Mama, Billa gak ada ngomong apa - apa, dia langsung meluk sampek tertidur.”


 Rizal menceritakan apa yang di ceritakan Cinta yang membuat Levin ingin menghabisi seorang Frizka.


“kendalikan dirimu, jangan sampai kamu menghancurkan harapan yang di bangun adikmu. Kita biarkan dulu Billa seperti saat ini. Jika dia sudah mau mengatakan apa yang dia rasakan. Baru kita mengambil keputusan yang tepat.


Rizal dan Levin mengabari Kliene jika Billa sekarang pulang ke rumah orang tuanya. Levin juga mengatakan jika sang asik kecilnya itu masih belum mau bicara.


Saat makan malam, Billa langsung duduk di kursi yang biasa di duduki sebelum meninggalkan rumah ini. Tapi ternyata mendapat usiran dari sang keponakan.


“Aunty, itu kursinya  Agas, sebelahnya kursi Baska dan yang itu kursi Bagas.” Jelas seorang leader dari ketiga anak sang abang.


“Terus aunty duduk di mana dong?” Tanya Billa yang sengaja di buat manja di depan sang keponakan.


“Iya ya, tunggu sebentar.” Bagas mengambilkan kursi di bantu dengan Agas sang kakak untuk aunty tersayang mereka.


“Bagas ambilin piring buat aunty,” suruh Agas yang langsung di jalankan oleh si bungsu.


“Bahagianya aku ada ketika pangeran tampan aunty di sini.” Billa mencium ketiga keponakannya bergantian.


“Memang lu di sono kagak bahagia apa?” Tanya Ayu yang tidak mengetahui apa apa. Cinta dan Rizal mendengarkan dari ruang keluarga yang tak begitu jauh dari Billa duduk.


“Maunya Bahaga. Tapi, apa daya seorang istri kedua mana bisa bahagia sebahagia istri satu satunya.” Jawaban asal Billa membangkitkan jiwa kekepoan Ayu meronta.


“Istri kedua? Maksud lu apa? Gak ngerti gue” Tanya Ayu


“Bagus Ayu” bisik Cinta pada sang suami.


“Frizka, ngaku kalo Revan belum menceraikan dia. Dan sekarang dia tinggal di rumah. Udah seminggu ini, keadaan rumah juga kantor kacau karena dia. Semua nyebut Billa pelakor.” Adu Billa


“Lu sakit ati Bill, makanya lu balik ke mari?” Tanya Ayu dengan rasa kasian pada adik iparnya.


“Lah bener gua pelakor. Sakit ati pun gua gak bisa Mbak. Hmmm… gua balik karena gua lelah mbak menjalani kehidupan yang kek gini. Lu sama Queen adem ayem baek, ngapa nasib gua kek gini.” Sesal Billa dengan terus menghembuskan nafas besarnya.


“Lu nyesel nikah sama laki elu?” Ayu terus bertanya karena kekepoanya.


“Gak tau gua mbak, tapi yang jelas ya, Gua pengen diem di sini dulu sampek gua tenang.” Tak berapa lama Levin bersama Revan masuk kedalam Rumah yang di ikuti oleh Kliene.


Ketiga lelaki tampan itu duduk di depan Rizal dan Cinta yang menyimak perbincangan kakak ipar dan adik ipar di ruang makan.


“Laki lu dateng noh.” Ayu menunjuk dengan dagunya.


“Lah bodo, laper gua Mbak.” Billa langsung mengambil nasi dalam piring dan makan bersama ketiga keponakannya.


 


penulis: lu gak trima Bill? Jawab


Billa: lu pilih kasih Thor, Levin lu buat Bucin. bang Kliene apa lagi. Papa Cinta mati, ngapa gua yang malah jadi pelakor?


penulis: nasib elu Bill play girl. dari semua abang abang elu. Cuma elu yang suka mainin hati orang. makanya Terima.


Billa: iye gue terime. terime kasih!


penulis: dih ngambek, gua matiin juga lu.


Billa: seraaaahhhh capek gua, gua mau bobo lagi.


penulis: itu dialog gua oneng.

__ADS_1


__ADS_2