
"Mas Rizal bangun sudah subuh, sholat dulu yuk baru sarapan." Bisik Cinta membangunkan Rizal.
"Nanti dulu yang, kelon dulu lagi 5 menit aja." Ucap Rizal dengan melingkarkan tangannya di perut Cinta.
"5menit lagi? Iya abis itu kamu sholat ganti niatnya jadi sholat dhuha. 5 Menitnya kamu kan bisa 3 jam mas." Cinta berusaha melepaskan pelukan tangan Rizal.
"Ya ampun yang, aku baru tidur jam 3 lo. Tega banget sih bangunin sepagi ini." Rizal mendudukkan diri di pinggir ranjang.
"Kalo urusan sholat harus tega mas, Abis sarapan kan hisa tidur lagi. lagian kan gak ada kelas to?" Cinta menuntun Rizal ke kamar mandi untuk mandi dan dirinya mengambil air wudlu.
"Yang kenapa airnya dingin? Bisa masuk angin lah yang akunya." Gerutu Rizal saat masuk bathtup yg berisi air.
"Tadi sih anget mas, mungkin sudah di riup sama cicak makanya dingin mas."
"Cicak?"
"Iya cicak. Cicak kan jahat mas." Cinta mengelap Rizal dengan menggunakan handuk.
"Maksudnya?"
"Mas lupa kisah nabi Ibrahim yg di bakar oleh raja Namrud? Cicaklah yg meniup kobaran api sehingga membakar nabi Ibrahim As?" Cinta menggeleng gelengkan kepala.
"Ya inget cuma kenapa sampek dingin banget kaya gini." Cinta menyiapkan sajadha untuk Rizal dan dirinya untuk sholat.
"Mungkin biar mas melek matanya gak merem aja. Udah iqomah dulu mas, keduluan matahari nanti." Kata Cinta yg melirik jam sudah jam 5.
Rizal dan Cinta selesai sholat dua rokaat itu di lanjut dengan mengaji sebentar lalu sarapan di jam 6 tepat. Cinta menyiapkan nasi goreng seafood kesukaan suaminya dan segelas teh tawar. Cinta makan nasi goreng yg di suapi Rizal.
__ADS_1
"Jangan aku terus mas, Mas juga sini aku suapin." Cinta meraih sendok dari Rizal
"Biar aku yg suapin kamu, aku bisa makan sendiri kok."
"Tapi mas yg sibuk kerja, jadi wajar kalo aku yg suapin mas. Kalo kaya gini kan aku gak enak." Jelas Cinta.
"Mending sayang siapin perlengkapan aku mau ke Bandung saja." Mendengar itu Cinta diam melihat suaminya.
"Mending gak usah di suapin mas kalo cuma untuk pamitan." Cinta merasa sesak didada.
"Sehari aja yang, cuma untuk openingan saja. Gak nginep deh, janji nanti malem pulang." Rizal memeluk Cinta yg lagi ngambek.
"Kalo gitu aku ikut mas." Ucapan Cinta di angguki oleh Rizal yg memang tak pernah menolak permintaan Cinta selama itu masih bisa di berikan oleh Rizal.
"Ya sudah siap siap ya sayang biar gak kesiangan. Jam 10 openingnya, ajak Nadia sama Rena kalo perlu yang biar kamu gak bosen. Jelas mas nanti akan sibuk sekali." Cinta merasa senang dengan tawaran suaminya.
Kini Rizal Cinta Rama Rena juga Nadia dan Agung sudah berada di Bandung. 15 menit sebelum openingan Rizal memastikan kembali persiapanya. Detik detik pembukaan ternyata Rizal merasa gugup meski ini bukan yg pertama.
"Selamat pagi semua, saya selaku pemilik cafe Cinta ini ingin mengucapkan terima kasih atas kerja sama kalian. Tanpa kalian cafe Cinta mungkin sampai kapan pun tak akan perna berdiri. Kalian memang karyawan saya tapi tolong jangan menganggap saya sebagai boss kalian. Tapi anggap saya sebagai sodara kalian. Karena kalian termasuk keluarga saya, yg membantu saya menaiki tangga kesuksesan ini. Tanpa kalian saya bukan siapa siapa. Terima kasih." Itu lah sambutan yg Rizal sampaikan sebelum memotong pita peresmian.
Rizal menghampiri istrinya dan mengajaknya masuk cafe untuk pertama kalinya.
"Cafe ini untuk istri saya Cinta sebagai hadiah aniversay kami yg pertama. Dan hadiah ulang tahunnya yg ke 20. Selamat ulang tahun sayang. Maaf aku belum bisa memberimu kebahagiaan yg sempurna." Ucap Rizal.
"Sudah dong baper ni." Nadia mulai berkaca kaca melihat kebahagiaan sahabatnya ini.
"Makanya cepet nikah Nad." Rena mencibirnya.
__ADS_1
"Aku mah apa atuh cuma menunggu tetesnya embun saja. Tapi embunnya belum jatoh jatoh juga, takut kering gue." Kata Nadia sambil melirik Agung pacarnya.
"Kalo embun yg seperti ini mau?" Tanya Agung sambil mengeluarkan kalung berbandul air mata jatuh.
"Mau lah."
"Tapi ada syaratnya."
"Syaratnya apa?"
"Menikah denganku minggu depan." jelas Agung membuat ricuh.
"Ya ampun ya ampun ya ampun kalian liat gue di lamar." expresi tak percaya Nadia membuat teman temannya ketawa.
"Mas, Romantis ya. Cinta iri mas, Mas gak pernah ngelamar Cinta. Pengen deh kaya makan es krim tiba tiba ada cincinnya." Cinta menunduk.
"Terlalu drama yang. Kamu lupa saat menjelang pernikahan kita itu sudah sedrama apa? masa iya kamu minta eskrim di isi cincin. Yg ada tu cincin masuk perutmu entar yang. Susah kan masnya." Kata Rizal menenangkan Cinta.
"Tapi kan romantis mas."
"Emang kita kurang romantis?"
"Kurang mas, pengen di lamar." Rizal hanya membuang nafas dengan kasarnya.
"Bang gimana ini? ni anak minta di lamar."
"Ada ada aja kamu Cin, besok deh abang beliin cincin dari plastik tapinya." Kata bang Rama sambil tertawa terbahak bahak.
__ADS_1