
Kepulangan Frizka di sambut antusias oleh semua keluarga selain Sandi. Pasalnya setelah kepulangan Frizka maka akan di adakan acara pertunangan antara dirinya dengan Frizka. Sandi terus menatap wajah Billa yang selalu tersenyum, pandangan Sandi kepergok oleh mama dan papanya yang tepat berada di belakangnya. Mama dan Papa Sandi hatinya tersentak melihat pemandangan di depan matanya.
Di sisi lain Billa yang bercanda pada Aris menyiratkan betapa mereka saling mencintai. Billa sesekali terdengar melontarkan gombalan gombalan receh pada Aris yang di tanggapi dengan tawa. Billa bahkan tak segan untuk mencolek colek dagu atau hidung Aris yang lebuh mancung darinya. Begitupun dengan Aris yang tangan dan pandangnnya tak lepas dari gadis manis di depannya. Tangan yang selalu merangkul pundak gadis yang tingginya hanya sebahunya.
"Sandi, papa sama mama keluar dulu ya." Perkataan orang tuanya membuyarkan pandangannya.
"Oh iya pa, Sandi ikut." Hanya anggukan kepala yang Sandi dapat dari Sang Papa.
Sandi berdiam diri di cafe dekat rumah sakit merenungi nasibnya. Aris menepuknya dari belakang mengagetkan Sandi. Aris duduk dengan membawa kopi pait yang di belinya sebelum menghampiri Sandi, sepupunya.
Aris menyerahkan kotak kecil pada Sandi " Apaan ini?" Sandi terkejut.
"Pasangkan itu pada Billa suatu hari nanti jika aku tidak bisa memasangkanya di jari manisnya." Kata Aris santai menyruput cairan hitam pekat yang masih mengepulkan asap tipis dalam gelas.
__ADS_1
"Maksud lu apaan sih?" Sandi membentak Aris karena jengkel.
"Ya gue nitip cincin itu sama lo, dan gue akan masangkan cincin ini pada Billa setelah lu bertunangan sama Frizka." Jawab Aris mengeluarkan kotam cincin dengan modif simple namun elegan menggambarkan betapa specialnya sang pemakai bagi yang memberikan.
"Apa rencana lu ke depannya?" Tanya Sandi menyimpan kotak cincin yang di berikan Aris tadi.
"Mau ngelamar dia lah hahahaha." Jawab Santai Aris.
"Ngapain keberatan? Jauh jauh lu dari Billa hahahaha its mine." Jawab Aris dengan canda tawanya.
Aris dan Sandi kembali ke rumah sakit dan melihat kamar Frizka sudah kosong melompong. Aris dan Sandi berpandangan sebelum keduanya tertawa lepas. Billa yang meninggu Aris dan Sandi di mobil menjadi sebal sendiri. Billa sudah di tinggal oleh Mbah Kung beserta keluarga yang lain menggunakan mobil yang lebih besar. Di ambinya hp dalam tas dan mencari nama Aris lalu menelfonnya.
"Kalia di mana???? Capek gue pengen tidur. Buruan ngapa." Maki Billa karena kesal, bukannya marah Aris dan Sandi malah tertawa kenceng.
__ADS_1
"Ya sayang gue udah di pintu keluar." Kata Aris dengan kata manisnya.
Canda tawa yang masih tersisa di antara Aris dan Sandi membuat Billa semakin cemberut. Mobil melaju dengan kecepatan trandart hingga memasuki kawasan asri restoran milik Mbah Joko. Rumah Mbah Joko tepat di samping Restoran bergaya Jawa kental miliknya. Semua berkumpul, bahkan Levin dan Rizal papa dari Billa pun sudah menunggu ketiga bocah yang cekikikan dari dalam mobil sampai di kamar Frizka yang seperti kamar seorang princess.
"Sumpah Friz, ini kamar lu apa kamar anak lu sih? Sumpah ini kaya tidur di atas awan kalo kaya gini." Kata Billa kagum pada kamar Frizka yang super cantik.
Kasur yang tergantung seperti melayang di atas awan dengan pemandangan langit siang saat lampu di nyalakan dan seperti langit malam ketika lampu di matikan. Frizka hanya tersenyum melihat kekaguman sahabatnya.
"Sandi ayo nak sekarang kamu pasangkan cincinnyq di jari Frizka." Kata Mbah kung memberi kotak Cincin pada Sandi
Kenapa semua memberiku cincin hari ini? Apa hari ini adalah hari cincin sedunia? Tanya Sandi dalam hati. Dengan senyum di paksakan Sandi menyematkan cincin turun temurun di jari manis tangan kiri Frizka. Semua bahagia bahkan gadis yang di pandang Sandi pun tertawa bahagia bersama Aris yang ada di sampingnya. Hati Husni Taman dan Ismi syafa seperti teriris melihat putranya yang terpaksa menerima pertunangan menggantikan keponakannya yang mencintai gadis lain.
Air mata Ismi jatuh tak tertahan, hatinya perih untuk putranya. Namun dirinya tidak bisa egois karena gadis di sebelah sang putra sangat bahagia ketika cincin yang melingkari jarinya di pasangkan oleh sang kekasih. Senyum Billa seperti tak pernah surut menatap cicin di jarinya. Mata yang memancarkan kebahagiaan terpancar jelas di matanya. Sungguh bahagia yang tak mampu di sembunyikan oleh seorng Billa.
__ADS_1