Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Kenangan 1


__ADS_3

Jam 11.00 WIB, Kliene memasuki pekarangan rumah mereka di kawasan perumahan yang tak termasuk kawasan elit. Namun yang tinggal di sini kebanyakan memiliki usaha sendiri dan Ibu-ibunya pada suka membanggakan pekerjaan sang suami.


Seperti saat ini Kliene yang di sambut dengan celotehan ibu-ibu yang lagi bergosip di samping pintu masuk kediaman Rizal yang pintunya tak melewati pundak orang dewasa.


“Mas kliene, baru pulang ya?” Tanya salah satu ibu-ibu yang di kenal dengan sebutan Bu RT.


“Iya bu, ini baru mau masuk rumah.” Jawab sopan Kliene dengan senyuman yang menggantung di bibir tipisnya.


“Mbak Ayunya mana mas? Kok ndak pernah keluar? Kaya gak butuh tetangga saja.” Perkataan salah satu ibu-ibu itu di angguki oleh ibu-ibu yang lainnya.


“Mbak Ayunya di keluarin kalo untuk bantu-bantu saat ada hajatan saja bu, kalo untuk bergosip gak di keluarin.”Jawaban seorang Kliene membuat bungkam ibu-ibu yang suka nyinyir di depan rumah salah satu warga itu.


Kliene masuk kedalam rumah dengan di sambut sang istri tercinta. Sekilas Kliene mengamati rumah yang terkesan sepi dan tidak ada orang dirumah.


“Anak-anak mana Ay?” Tanya Kliene mengedarkan pandangan ke segala penjuru rumah, tapi tak menemukan ketiga jagoannya.


“Si Agas di ajak Billa ke rumah makan mertuanya. Kalau Bagas dan Baskah di ajak mama sama papa ke Bandung bareng sama pegawainya tadi nganterin apa gitu. Katanya nginep di sana.” Jawab Ayu dengan membantu suaminya membawakan tas dan baju dokternya.


“Jadi kita di tinggal berdua ini Han?” Tanya Kliene yang mulai menggoda istrinya.


“Iya Bebz, kita berdua saja hari ini dan besok tentunya cuma kita bertiga,” jawab Ayu yang mengerti akan godaan sang suaminya.


“Berenang Abang berenang yuk Neng,” Kliene kini tengah memangku Ayu duduk di sofa tengah ruang keluarga.


“Gak makan dulu Bang? Eneng siapin dulu kalau mau renang,” ucap Ayu dengan mendekatkan keningnya di dahi lelakinya.


“ooo maaf menganggu,” Ucapan Adik kembarnya membuat Kliene berdecak kesal.


“Ck, ganggu aja sih!” decak kesal seorang Kliene yang malah di ketawain oleh sang adik dan adik iparya.


“Santai bang, ini masih pagi. Lagian kalian kan di tinggal dua hari. Jadi aman lah” Perkataan Levin mendapat lemparan sepatu pantofel milik sang Abang.


“Sial lu!! Katakan, mau apa kalian ke sini?” Geram sang Abang yang hanya mendapat cibiran sang adik kembarnya.


“Widiiihhhh gede banget karangan bunganya, ada acara apa ini mbak ayu?” Tanya Queen penasaran.


“Gak ada acara apa-apa, Bang Kliene setiap hari memang beliin buat gue. Memangnya Levin gak pernah?” Tanya Ayu yang berjalan ke dapur mengambikan piring dan juga minuman beserta cemilan.


“Boro-boro di kasi yang gede gini mbak Ayu, Sebatang aja gak pernah.” Jawab Queen memelas memandang sang suami.


“Kan sudah batangan di ka….”Belum menyelesaikan ucapanya Levin mendapat bogeman di perut dari sang Abang.


“Omongan rusuh di bawa kemana-mana lu.” Geram Kliene.


“Lu itu abang tapi otak lu gak pernah di pakek bang, dengerin dulu adeknya mau ngomong itu.” Levin balik memukul Abangnya.


“Ya udah buruan lu ngomong, kecoak.” Kliene menggulung  kemeja kerjanya yang belum di ganti sejak dirinya baru sampai rumah.


“Batangan Emas bang.” Kata Levin dengan rasa takut pada abang yang sudah berada di atas emosinya.

__ADS_1


“Emas? Mana? Gak ada ya kamu kasi aku yang.” Kini pertanyaan serangan datang dari istriyang merasa tidak menerima apa yang di pamerkan suaminya.


“Bini lu aja gak tau. Otak lu minta di reparasi ya Vin?” Kini pukulan sudah mendarat di punggung lelaki yang terkenal garang itu bertubi-tubi dari kakak kembarnya yang berbeda tujuh menit saja.


“Yang, yaang. Kotak yang semalem aku kasi itu lo sayang. Kalo gak percaya tanya Billa. Aku memenangi lelang kemaren. Aduh abang, sakit lah ini badanku.” Kelakuan kedua sodara kembar ini memang tidak lah berubah meski sudah memiliki istri dan anak.


“Bener itu Queen?” Tanya Kliene pada istri saudara kembarnya itu.


“Semalem emang ngasih hadiah bang, tapi selama ini Queen jarang buka kado kecil dari Levin. Semua Queen pajang di lemari masih dalam keadaan terbungkus.” Jawab Queen polos yang hanya mendapat pelototan seorang ayah dari putrinya.


“Pantesan perhiasan satu set dari batu Rubi gak kamu pakek sayang. Kotak yang kecil-kecil itu semua perhiasan sayang. Yang semalem aja baru batangan.” Perkataan seorang ayah yang kecewa pada ibu dari putrinya itu.


Merasa tak di hargai kini Levin hanya diam saja tanpa mau melakukan apa-apa. Queen merasakan kekecewaan sang suami malah bermanjaan pada lelaki yang lagi ngambek di sampingya.


Tak mampu berlama-lama mendiamkan kemanjaan istrinya, akhirnya Levin pun luluh dengan mencubit gemas pipi istrinya.


“Hayeh, kalau mesra mesraan pulang sono. Kasi ruang buat abang, dek.” Tak tahan melihat kemesraan adik kembarnya Kliene pun mengusir keduanya.


“His, abang. Levin kesini ada yang mau di bicarakan tentang kematian Aris. Levin lagi nunggu Billa di sini, mumpung mama sama papa gak ada di rumah.” Jelas Levin yang kembali ke mode serius lagi.


“Ada apa dengan kematian Aris? Bukannya kita mengetahuinya baru?” Kliene berkomentar karena memang baru mengetahui kematian Aris, tunangan adik bontonya.


“Gua lah yang menyaksikan kecelakaan saat itu bang, karena takut menghancurkan mimpi Billa jadi Gua diem Bang selama ini. Di tangan inilah Aris menghembuskan nafas terakhir Aris berhembus dengan darah yang tak henti mengalir dari kepala yang berada di kedua tanganku.” kebenaran yang selama ini di sembunyikan dari semua orang telah terlontar dengan ucapan bergetar seorang Levin Baganta.


“Bagaimana bisa Aris mati di tanganmu?” Pertanyaan yang di lontarkan Kliene membuat semua menunggu jawaban.


Setengah jam keadaan hening karena Levin masih bisa merasakan hembusan terakhir calon adik iparnya.


“Hallo semuanyaaaaaa Billa comeback….” Teriak Billa membuat semua kakak-kakaknya merasa jengkel.


“Salam gak bisa Bill!!!” Seru Kliene membuat Billa cengengesan.


“Maaf Bang, Billa sangat bersemangat ini.” Jawaban Billa sambil mengambil kopi dari tangan sang abang kedua yang hendak mendarat di bibirnya.


“Agas mana Bill?” Kini sang kakak ipar menanyai dengan sedikit mencari jagoan pertamanya.


“Agas sama mama kak, besok baru di pulangin katanya.” Jawab santai Sandi mewakili bidadarinya.


“Kenapa harus minjem anak orang sih? Kalian apa bikinin cucu buat mereka.” Protes Kliene yang merasa sangat merindukan ketiga jagoannya.


“Nanti deh kak, Billa masih mau pacaran dulu, ya gak San?” Dengan santainya Billa kembali merebut makanan yang ada di tangan abang keduanya karena ingin menggodanya.


Bukannya marah, Levin malah mengusap lembut rambut adiknya yang kini duduk di pangkuannya. Tatapan dingin Sandi memandang ke arah sang istri malah membuat Abang iparnya tersenyum, Betapa bucinya gunung Es ini, batin Levin yang tidak menyadari bahwa dirinya juga seorang pangeras es balok.


“Bill, duduk yang bener.” Kata Sandi yang sudah tak tahan lagi melihat pemandangan yang ada di depannya.


Ternyata bukan cuma Levin yang melihat kecemburuan seorang Sandi pada adik mereka. Kliene juga merasakan aura memanas akibat cemburu itu malah mencium Billa di depan Sandi langsung. Mata Sandi langsung membulat dan menarik Billa ke sisinya.


“Pada lupa apa kalo Billa udah menjadi istriku?” Ucapan yang membuat semua tertawa pun hanya membuat Sandi malu sendiri di akhirnya.

__ADS_1


“Nggak lupa, juga gak melupakan. Kami cuma mau menggodamu saja San.” Tawa Levin melemah ketika melihat Billa menenangkan Sandi yang seakan juga merasakan bahwa adik kecilnya itu sudah menemukan kebahagiaan yang semestinya.


Masihkah aku harus mengungkapkan kebenaran yang telah terkubur bersama jasad Aris? Pertanyaan yang berkecamuk dalam diri levin pun mendapat kode lanjutkan dari abang kembarnya, yang sekan mengerti  apa yang di fikirkannya. Kliene memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan Levin meski kadang Levin tak menyadari itu.


“Billa, Sandi. Apa kalian bahagi?” Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Sandi maupun Billa menatap Levin penuh tanya.


“Ya kami bahagia bang.” Jawab Billa dengan senyuman yang terus mengembang di bibir tipisnya.


“Abang mau membicarakan apa?’ Kali ini gubung es lah yang menayai secara to the poin.


Merasa hal ini sangat berat, Levin menggenggam jemari Queen untuk mencari kekuatan hati yang berada dalam diri istri tercintanya.


“Katakan saja bang, pahit manisnya Billa dan Sandi akan berusaha tegar dan kuat menghadapinya.” Jelasa Billa yang seakan mengerti ketakutan abang keduanya.


“Bill, San. Ini mengenai Aris yang meninggal karena kecelakaan,”  ucapan Levin terhenti ketika memandang ke arah mata Bila yang memerah seketika.


“Lanjutkan bang. Billa akan baik-baik saja bersama Sandi. Sandi mau sepupu Sandi medapat keadilan.” Ini lah yang di suka Levin dan Kliene pada seorang Sandi.


Meski terlihat sangat bucin pada adik bontotnya, dia juga tidak melupakan orang tersayangnya sebelum menikah.


Flasback on


Aris : Bang Billa sudah berangkat?


Levin : Sudah, kamu di mana?


Aris : Ada di luar bang.


Levin : Tunggu di luar, abang segera kesana.


Setelah mendapat pesan singkat dari Aris, Levin langsung keluar dari bandara sehingga tidak mengetahui drama yang Frizka buat.


“Sudah lama lu di sini?” Tanya Levin saat duduk di depan pemuda dengan kulit putih terlihat sangat pucat.


“Baru aja bang. Bang, makasih sudah membuat Billa jauh sementara dari gua. Frizka harus di jauhkan dulu dari Billa, jika tidak dia juga akan menjadi target balas dendam wanita srigala berbulu domba itu.” kata Aris yang mengetahui jika Friska hanya ingin menguasai harta kekayaan Mbah kung demi membalaskan dendamnya.


Frizka tidak terima orang tuanya meninggal karena melindungi Husni taman dan Dewi Maryam. saat itu sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arah kedua anak majikanya.


“Sandi tau tentang hal ini Ris?” Tanya Levin yang ternyata sudah sekongkol mengirim Billa ke Jerman demi mengamankan adik bungsunya.


“Belum bang, Frizka tidak memberiku ruang untuk mendekati Sandi. Frizka seakan menjadi bayangan Sandi. Bang, kalo ada apa-apa sama gue nanti. Tolong restui Billa menikah dengan Sandi, aku mengetahui jika Billa sebenarnya mencintai sandi. Hanya saja mereka tidak menyadarinya.” Jelas seorang Aris yang menitipkan restu untuk kedua orang yang di sayanginya


 


 


crazy up untuk kali ini sampai di sini ya bebebz ku. Besok janji akan up bab selanjutnya.


Hutang lunas ya sayang

__ADS_1


__ADS_2